Himbauan Hidup Tanpa Merokok Tanpa Mengajak Ribut

Peran Komunikasi Keluarga Hadapi Revolusi Industri


Salam Budaya!

Kami sekeluarga lengkap bertujuh. Ada Bapak, Ibu, Mas Anto, Mas Rudi, Mbak Ana, Saya dan Rista. Seutuhnya sih berdelapan tapi putri pertama dari keluarga kami sudah berpulang. 

Entah menjadi kewajiban keluaraga atau ini terjadi di semua keluarga, Kami selalu mengadakan yang namanya Toto Dhahar (selanjutnya disebut TD). (Arti sebenarnya adalah Menata Makan atau sebut saja Makan Malam) karena TD dilakukan pas jam 8 malam.

Jujur, Saya sampai sekarang merasa apakah memang ini berbeda atau memang karena Bapak sangat Ningrat (keturunan raden banget). Karena TD ini begitu ketat dan jangan sampai salah satu anggota tidak turun (istilah ini muncul karena semua kamar kami ada di lantai 2 dan ruang makan ada di tengah - tengah ruangan rumah). Bapak bisa duka (ngamuk/marah) bila ada yang terlambat atau melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya itu.

Apa saja itu? Tidak berpakaian dengan benar, bercanda di saat sudah duduk, berbicara di saat mengunyah atau tidak meletakkan tangan dengan benar yang dianggap tidak sopan. Memang terdengar agak sedikit banyak aturan tapi Saya baru sadar ternyata ada satu pengalaman yang tak pernah terlupakan.

Seusai makan, Bapak tidak segera membubarkan TD. Beliau duduk dan bertanya keadaan kami, sekolah kami atau memancing sesuatu yang membuat kami bertanya, berargumen atau mendiskusikan sesuatu. Tanpa sadar dengan kebiasaan ini, kami tak perlu menunggu moment, karena seperti sebuah kerajaan, kami bisa langsung melapor ke Raja di waktu yang sudah ditentukan. Kami secara langsung pula bisa mendapatkan pemecahan masalah atau keputusan dari Bapak bahkan sebelum kami besok berangkat ke sekolah. 

Berkumpul satu keluarga, berbincang dengan hangat apa yang sedang terjadi termasuk mendiskusikan persoalan sehari - hari menjadi hal yang biasa kami lakukan di Meja Makan sambil TD.



Kenapa sih kali ini kita membahas ini. Membahas meja makan dan keluarga.



Tanpa Saya sadari pula, ternyata kebiasaan ini sudah jarang bahkan tidak terjadi lagi di sebagian besar keluarga di Indonesia. Kenapa? Apa yang membuatnya begitu? Sedihnya inilah salah satu akibat dari kemajuan teknologi dan bergesernya kemajuan jaman.

Ini adalah salah satu konsekuensi kita dalam menghadapi Industri 4.0. Lha apa lagi itu?



Menurut penjelasan Bapak Wikipedia

Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif.

Industri 4.0 menghasilkan "pabrik cerdas". Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat Internet untuk segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan. Lewat komputasi awan, layanan internal dan lintas organisasi disediakan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai nilai.


Istilah "Industri 4.0" berasal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik.

Istilah "Industri 4.0" diangkat kembali di Hannover Fair tahun 2011. Pada Oktober 2012, Working Group on Industri 4.0 memaparkan rekomendasi pelaksanaan Industri 4.0 kepada pemerintah federal Jerman. Anggota kelompok kerja Industri 4.0 diakui sebagai bapak pendiri dan perintis Industri 4.0.

Laporan akhir Working Group Industri 4.0 dipaparkan di Hannover Fair tanggal 8 April 2013.

Jadi dapat disimpulkan bahwa memang Industri 4.0 memang sudah zaman NOW. Semuanya tak lagi era robot, komputer dan juga elektronik tapi juga sudah bisa dilakukan dengan sistem internet, aplikasi bahkan lewat handpone.

Nah kalau ada kalimat zaman NOW inilah yang menjadi perhatian kita.

Apa jadinya? Apa dampaknya bagi keluarga?

Nah inilah yang dibahas dipertemuan hari Rabu, 14 November 2018 di kantor pusat BKKBN dengan tajuk "Pertemuan Blogger - Pembangunan Keluarga di Era Industri 4.0".

bersama Bapak Dr.dr. M. Yani, M.Kes, PKK
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN
Dengan Psikolog yang keren dan paten - Roslina Verauli, M.Psi. Psi yang mengajarkan betapa pentingnya tatanan keluarga yang kuat sebagai benteng pertama menangkal segala uji dan coba kemajuan jaman.

Menunjukkan gerak isyarat @genre_indonesia

Di pemaparan lebih lanjut, Mbak Roslina mempresentasikan bagaimana mewujudkan "Making Indonesian Family 4.0" yang sebenarnya akan menjawab kepedulian dan keprihatinan kita akan dampak besar dari Industri 4.0 terhadap keluarga Indonesia.

Lalu siapa dan apakah keluarga itu sendiri?



menurut wikipedia
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.

Berdasar Undang-Undang 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Bab I pasal 1 ayat 6 pengertian

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri; atau suami, istri dan anaknya; atau ayah dan anaknya (duda), atau ibu dan anaknya (janda).

Jenis

Ada beberapa jenis keluarga, yakni:
  • Keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak.
  • Keluarga konjugal yang terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak mereka yang terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua.
  • Keluarga luas yang ditarik atas dasar garis keturunan di atas keluarga aslinya. Keluarga luas meliputi hubungan antara paman, bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek.
Keluarga inti

Keluarga inti atau disebut juga dengan keluarga batih ialah yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Keluarga inti merupakan bagian dari lembaga sosial yang ada pada masyarakat. Bagi masyarakat primitif yang mata pencahariaannya adalah berburu dan bertani, keluarga sudah merupakan struktur yang cukup memadai untuk menangani produksi dan konsumsi. Keluarga merupakan lembaga sosial dasar dari mana semua lembaga lainnya berkembang karena kebudayaan yang makin kompleks menjadikan lembaga-lembaga itu penting.

Peranan

Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar pribadi, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan pribadi dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.

Berbagai peranan yang terdapat dalam keluarga adalah sebagai berikut:
  • Ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
  • Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peran untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, di samping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
  • Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Tugas
  • Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut:
  • Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
  • Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
  • Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.
  • Sosialisasi antar anggota keluarga.
  • Pengaturan jumlah anggota keluarga.
  • Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
  • Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
  • Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.

Fungsi

Fungsi yang dijalankan keluarga adalah:
  • Fungsi Pendidikan dilihat dari bagaimana keluarga mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak.
  • Fungsi Sosialisasi anak dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
  • Fungsi Perlindungan dilihat dari bagaimana keluarga melindungi anak sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
  • Fungsi Perasaan dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
  • Fungsi Agama dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lain melalui kepala keluarga menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini dan kehidupan lain setelah dunia.
  • Fungsi Ekonomi dilihat dari bagaimana kepala keluarga mencari penghasilan, mengatur penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi rkebutuhan-kebutuhan keluarga.
  • Fungsi Rekreatif dilihat dari bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga, seperti acara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.
  • Fungsi Biologis dilihat dari bagaimana keluarga meneruskan keturunan sebagai generasi selanjutnya.
  • Memberikan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman di antara keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.
Nah dengan semua penjelasan di atas diharapkan sebenarnya kita tak pernah meninggalkan nilai - nilai luhur dari arti keluarga. Seberapapun teknologi telah menggeser segalanya menjadi lebih efektif dan maju serta canggih. Ikatan keluarga akan tetap harus mengandung unsur yang sama dari dulu adalah komunikasi langsung yang takkan tergantikan.

Masalah Zaman Now - Komunikasi. Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat.

Salah satu bentuk solusi yang ditawarkan adalah 



Karena di situ, komunikasi terbangun. Kuncinya adalah berbagi Informasi, Ide dan Perasaan kepada sesama anggota keluarga. Dengan adanya saling berbagi ini hubungan antar anggota keluarga akan semakin kuat.

Hasilnya?

Mau bagaimanapun serangan teknologi, industri, kemajuan zaman dan segala hal yang sebenarnya dampaknya cukup mengerikan untuk dibahas akan bisa ditangkal lebih awal.

Ah, ingatan Saya kembali ke waktu Saya kecil.

Saya rindu Toto Dhahar.
Saya rindu Bapak Saya yang sudah tiada.

#revolusikeluarga4

#keluargaindustri4

Salam Budaya.


Komentar

Posting Komentar