Ketika Ketoprak Guyonan Menjadi Alat Pemersatu Bangsa

                                                 

Salam Budaya.

Mendengar kata Ketoprak bagi anak-anak zaman sekarang pasti selalu berkaitan dengan makanan yang lezat dan nikmat. 

Moga-moga upload foto ini tidak membuat dosa karena membuat orang netes air liurnya. Hadeeeuh.
Sumber Gambar: id.tastemade.com

Kakak Spongebob pun tak sampai hati melihat Ketoprak
Bukan Ketoprak itu pemirsah! Ahhhh....

Ini Ketoprak yang Saya maksud adalah seni pentas drama tradisional yang berasal dari Jawa yang kebanyakan ceritanya berasal dari legenda atau sejarah.

Ingatan Saya berpindah berpuluh-puluh tahun yang lalu. Beruntung sekali Saya pernah mencicipi kebesaran nama satu kelompok Ketoprak yang sangat legendaris bernama Siswo Budoyo.

Untuk kalangan sepuh dan generasi sebelum Saya, bisa menikmati Ketoprak Siswo Budoyo adalah keberuntungan luar biasa. Dulu mereka pernah singgah di kota Jember dan tempatnya tak jauh dari rumah. Tinggal jalan kaki beberapa langkah saja.

Menonton Ketoprak Siswo Budoyo, seperti menonton film secara live. Saat kecil Saya belum paham teater, yang Saya paham cuma tampilan mereka yang sangat bagus. Busana Jawa mereka sangat memukau (di pemahaman Saya, penuh dengan hiasan emas, menimbulkan kesan gagah dan cantik bila itu Raja atau Ratu atau bangsawan), dekor atau background dan tata lampu kelap-kelip memancarkan cahaya yang mengesankan, suara petasan yang berdentum, hujan dari tali rafia, desisan asap yang keluar serta beberapa main yang bisa terbang di layar belakang, benar-benar membuat Saya. Dedy Kecil. Melongo.

Saya tidak paham seutuhnya bahasa Jawanya. Karena kebanyakan mereka menggunakan bahasa Kromo Inggil atau bahkan Kawi. Tapi tak menghentikan kekaguman, karena selalu ada tarian yang menarik dari kelompok wanita, koreografi pertarungan seru dari kelompok wanita dan persis seperti pakem wayang, selalu bakal ada sesi goro - goro (lawakan sebagai hiburan) yang menghibur dan memecah tawa.

Hiburan yang komplit.

Undangan dari Panitia Himpuni. Terima kasih buat Mas Bambang Widjanarko dan mas Taufik Hidayat

Saya tak berharap banyak.
Itu harapan saya 30 tahun yang lalu. Zaman sekarang mungkin orang akan lebih tertarik pada film layar lebar, stand up comedy, atau pementasan Teater yang juga tak kalah mempesona dengan segala efek modernnya.

Gaung Ketoprak menghilang. Seperti pembuka tadi, Ketoprak sekarang jadi seru karena bergeser menjadi nama makanan. Tak ada yang salah. Tapi jelasnya kenikmatan menonton Ketoprak juga tak bisa Saya bagi ke orang - orang zaman sekarang.

Kali ini HIMPUNI (Perhimpunan Organisasi Alumni PTN Indonesia) yang punya gawe. Ini kali ketiga mereka mengadakan Pertunjukan Ketoprak Guyonan yang mengusung kronik sejarah kerajaan Mataram. Pentasnya digelar Juma't 23 Pebruari 2018 di Teater Ketjil Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat. Pas pukul 18.30 WIB.

Beberapa jam sebelumnya Panitia mengadakan Jumpa Pers dan beruntung Saya bertemu dengan tokoh - tokoh senior.
Dari kiri ke kanan : mas Yusuf Susilo Hartono (Wartawan Senior - Departemen Kebudayaan dan Pariwisata PWI) - mas Taufik Hidayat (Panita - Bendahara dari KAUJE) dan mas Bambang Asri Widjanarko (Penulis dan Kurator)

Sebelum jumpa pers, Saya menggali dan menimba ilmu dulu, sebagai blogger perwakilan dari Blomil (Blogger Mungil). 

Panitia dari Humpuni yang sebagian juga menjadi pemain Ketoprak
Ketua Panitia pergelaran, Soelasno Lasmono, yang juga Sekjen IKA UB (Ikatan Alumni Brawijaya) menyatakan kalau sebenarnya maksud dari Pertunjukan Ketoprak ini tak ada sama sekali niatan untuk menyasar dan menyinggung unsur politik. Meskipun salah satu tujuan pemaparan ceritanya sebenarnya mengingatkan kita akan adanya ancaman perpecahan akibat pengaruh kekuasaan dari luar serta minimnya rasa persatuan.

Bapak Soelasno Lasmono. Pengaruh Asing yang dulunya penjajah (Belanda) sekarang bisa diterjemahkan sebagai segala sesuatu yang bisa memecahbelah Persatuan dan Kesatuan NKRI

Sekilas yang jadi kesimpulan dan tangkapan Saya misi dari Pagelaran Ketoprak Guyonan ini memang sebenarnya sebagai salah satu promosi bagus dari arti kata Persatuan dan Kesatuan. Betapa tidak, lha wong, pemain dan panitianya yang terlibat benar - benar merupakan campuran dari para tokoh alumni, yang tentunya sudah menjalani berbagai macam profesi, dari pejabat, tokoh masyarakat, pengusaha, dosen dan lain-lain. Mereka juga tergabung dari hampir 33 Universitas dan Institut Negeri terkemuka di Indonesia seperti ITB, UI, Undip, Unram, IPB, UGM, Unsoed, Universitas Brawijaya, ITS, Unsyah, USU, Unimed, Unand, Unila, Unpad, UNP, UPI, Unud, Unsrat, UNSRI, Unhas.

Pemeran Tumenggung Alap Alap (Bapak Wawan Soewandono - Ikatan Alumni Undip) dan Ibu Rinina (dari Ikatan Alumni Gadjah Mada KAGAMA) memerankan Prameswari I - Ratu Agung Retaningrat (Kanjeng Ratumas Tinumpu/Ratu Kulon)
Daya tarik yang kuat pada pertunjukan Ketoprak Guyonan 'Geger Batavia' ini sebenarnya adalah kehadiran Menteri Perhubungan - Bapak Budi Karya Sumadi (dari KAGAMA) yang berperan sebagai Dipati Sampang Arya Prasena Cakraningrat, Bapak Gubernur Jawa Tengah - Bapak Ganjar Pranowo (dari KAGAMA) menjadi tokoh sentral, Sultan Agung Hanyakrakusuma dan juga Direktur Utama Adhi Karya - Bapak Budi Harot (dari Ikatan Alumni UNS) dengan perannya menjadi Dipati Tegal/Ranggasora.

Sayangnya malam itu, Bapak Ganjar Pranowo yang digadang-gadang (karena tampil mencolok di poster) berhalangan hadir dan diganti oleh Kies Slamet, aktor kawakan yang memang terbiasa tampil di Ketoprak Humor dan beberapa tokoh yang Saya incar, jujur, begitu mereka berganti kostum dan memakai riasan, Saya gagal mengenali. 

Kies Slamet yang benar-benar menjadi tokoh komplit. Berjawa halus, berakting bagus tapi juga anehnya, lucu sekali.


Intro dari Ketoprak yang takkan tergantikan

Seperti yang Saya jelaskan tadi di awal, memang tak usah mengharapkan tontonan ini jadi spektakuler, mengumpulkan beberapa orang penting yang diharuskan menghapalkan naskah, berbahasa Jawa halus dengan sesekali ngelawak, seharusnya patut diacungi jempol sepuluh.

Penulis naskah sekaligus sutradara, Bapak Aries Mukadi tentunya sudah menyadari itu semua. Makanya jangan kaget kalau ada beberapa tokoh yang saling tindih kata karena lupa gilirannya atau ada yang salah beradegan. Ini pertunjukan guyonan, jadi makin mereka salah, penonton yang juga banyak berasal dari kalangan sendiri tentu akan lebih tertawa karena sudah mengenal pemain dan berceletuk di tengah - tengah adegan.

Bapak Aries Mukadi
Sumber Gambar: Facebok - Himpunan Seniman Panggung Wayang Orang dan  Ketoprak Jakarta
Mungkin itulah kenapa cerita dari "Geger Batavia" ini juga tak menampilkan cerita yang rumit. Penonton diharapkan mengunyah ceritanya tanpa harus mengernyitkan kening. Kisah utamanya berkisar sepak terjang Sultan Agung Hanyakrakusumo, Raja Mataram yang dibantu oleh para Dipatinya, berstrategi dan melawan VOC yang hendak memonopoli perdagangan, menekan para kawula, menguras hasil bumi, yang tentu saja merugikan dan membahayakan Mataram. Kisah ini juga diwarnai dengan beberapa penghianatan antar Dipati yang berakhir dengan peperangan Prajurit Mataram yang dipimpin oleh Pangeran Purbaya, meninggalnya Jan Pieterszoon Coen dan dihukumnya Dipati Ukur.

Hiruk Pikuk Panggung - Saat Panggung Masih di Panggung - dan Penyesuaian Naskah dan Gerak di belakang Panggung
Beberapa paruh waktu Saya memang sengaja berkeliling. Suasana Teater Ketjil yang ternyata tidak terlalu besar menurut Saya malah membuat kedekatan antara pemain dan penonton cukup akrab. Penataan lampu yang baik membuat mata benar - benar membuat penonton cukup juga berkonsentrasi penuh dengan adegan. Beberapa pengeras suara (mik yang dipasang di wajah pemain) kadang timbul tenggelam mungkin jadi salah satu kekurangan yang mengganggu dari pertunjukan ini.

Tapi ya sudahlah. Ini bukan Pertunjukan yang perlu dikomentari oleh para kritikus, mereka sudah tampil maksimal, profesional, busana yang bagus, bermain dengan kemampuan terbaik mereka, dan penonton sesekali ger-geran melihat kesalahan dan kelucuan sang penampil.

Beberapa penampilan yang memang mencuri pertunjukan ini adalah kehadiran Bapak Menteri Perhubugan yang menyanyikan (dan mengajak penonton) bersama-sama menyanyikan lagu "Indonesia Pusaka"


dan tentu saja kehadiran trio Pelawak Kawakan yang diundang untuk memeriahkan suasana

Trio Pelawan bersama Jan Pieterszoon Coen
Polo, Kadir dan Tessy
Malam telah larut. Suara gending penutup berhenti. Penonton berdiri dan para pemain mengisi panggung untuk menerima sambutan terakhir.

Penyerahan Karangan Bunga
Tapi Saya yakin ada kepuasan tersendiri bagi mereka. Sekali lagi tak gampang menyajikan suatu pentas yang benar-benar sempurna, mereka tetap punya misi kebudayaan yang sangat penting, yakni melestarikan Ketoprak. Kegigihan inilah yang seharusnya kita sebarkan ke dunia lewat tulisan ini.

Dalam guyonan berbentuk Ketoprak pun, pertunjukkan ini bisa menjadi sarana yang manis untuk menanamkan rasa nasionalisme, persatuan dan kesatuan bangsa dan negara kita. Saya tiba-tiba ingat 4 pilar kebangsaan yang sebelumnya telah Saya bahas.

Saya bangga menjadi Orang Indonesia. Pesan itu telah tersampaikan.

Bagaimana dengan Anda?

Salam Budaya.

dengan Pak Bapak Totty yang juga Wakil Ketua Panitia (Ketua Ikatan Alumni ITS)
Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh.

Komentar