Kelana Rasa Makassar Punya Selera - Bagian Satu



Salam Budaya!

Ada dua hal yang membuat hati Saya berdebar di awal bulan Mei ini. Satu ulang tahun Saya yang ke 42. Dua adalah WA dari mas Arie Parikesit. Ucapannya singkat. 

Selamat ya. Kamu menang lomba blog Festival Jajanan Bango 2018. Tanggal 4, 5, 6 Mei kosong, kan? Siap ke Makassar ya?

Jantung ini rasanya melompat. Hati ini terasa melangkah di udara (kayak pak pos yang membawa berita dari yang kudamba. Lagunya mbak Vina). Alhamdulillah. Doa Saya terkabul ya Allah. Pengen menang dan memang pengen ikut ke Makassar. Yeaaaaaaah.

Singkat cerita tim Alchemy yang merupakan PR Agency dari Bango telah menyiapkan segalanya, dari tiket pesawat Jakarta - Makassar dengan Batik Air, Penginapan di Hotel Best Western Plus Makassar Beach, Transportasi kita selama trip, uang saku, dan jujur apa yang bisa saya lakukan selama di Makassar adalah duduk manis dan MAKAN!


Sekali lagi "Festival Jajanan Bango dan Jelajah Kuliner Makassar" ini merupakan satu mata acara rangkaian peringatan usia Kecap Bango yang ke 90 yang bertema "90 Tahun Melezatkan Setulus Hati".

Setelah memanjakan lidah puluhan ribu pecinta kuliner di Jakarta saat akhir April, kini Makassar akan menjadi tempat pemberhentian kedua yang akan menghadirkan puluhan kuliner otentik dari Timur hingga Barat Nusantara.

Untuk kemanjaan yang saya dapat karena memang kami, saya dan Adit telah memenangkan lomba yang mereka adakan waktu itu. Saya pemenang Blogger sedangkan Adit pemenang untuk penyajian di Vlognya.


Kali ini, sekali lagi selain tim dan teman - teman media, kami dipandu seorang Pria Tinggi Besar (coba diamati baik - baik, Saya di foto itu sudah 180 cm, dibanding dengan mereka berdua), yang juga Foodie, Traveler, Food Consultant, dan juga Pemandu Gastronomi 

(Tata boga adalah seni, atau ilmu akan makanan yang baik (good eating). Penjelasan yang lebih singkat menyebutkan gastronomi sebagai segala sesutu yang berhubungan dengan kenikmatan dari makan dan minuman. Sumber lain menyebutkan gastronomi sebagai studi mengenai hubungan antara budaya dan makanan, di mana gastronomi mempelajari berbagai komponen budaya dengan makanan sebagai pusatnya (seni kuliner). Hubungan budaya dan gastronomi terbentuk karena gastronomi adalah produk budidaya pada kegiatan pertanian sehingga pengejawantahan warna, aroma, dan rasa dari suatu makanan dapat ditelusuri asal-usulnya dari lingkungan tempat bahan bakunya dihasilkan)

Sumber: Wikipedia

Baiklah, mari kita mulai perjalanan ini dengan Bismillah, Saya coba antar pemirsah untuk minimal mengerti, paham akan langkah - langkah kami dalam mengikuti jadwal yang telah tersedia yang ternyata PAMER alias Padet Merayap. Kuy! Let The Journey Begin ... 


Perjalanan kami agak terlambat di hari pertama, Pemirsah. Istilah kerennya, Delay. Penerbangan pun seakan terasa lambat di atas sana. Apalagi Saya yang pribadi, nggak begitu suka naik pesawat, yang ... entahlah buat Saya pusing. Jadi memang Saya coba untuk bertahan dan bersabar selama 2 jam 2 menit.

Perubahan jam ke WITA makin saja membuat semakin panjang waktu yang kita jalani. Udara dan terik Makassar demikian gerah, begitu juga waktu jemputan Elf datang. Tak membuat peluh Saya jadi bergembira. Sendu. Terdiam. Untung jaringan internet masih lancar, Saya cuma bisa browsing menunggu jalanan yang ternyata macet karena ada kepulangan beberapa Jamaah Umroh. Ya Allah, begini ya, cobaan di kota orang.

Ternyata itu hanya sebentar karena kita sudah seharusnya sampai di pemberhentian pertama.

Rumah Makan Paotere di Jalan Sabutung 32 Makassar

Mas Arie bercerita dengan semangat dan cermat sekali dia menerangkan detailnya bahwa dulunya Rumah Makan ini hanyalah tempat penitipan pembakaran ikan, mengingat memang daerahnya pinggir pantai dan dekat dengan pelelangan ikan. Awalnya tempat ini hanyalah satu warung kecil di ruko selebar 5 meter saja. Kini ia banyak sekali dikunjungi oleh artis, pejabat negara, presiden dan akhirnya kami.

Begitu yang kita bicarakan. Saya langsung berbinar-binar. Rasa lelah hilang


Kualitas Ikannya Segar. Sekali Matinya kata Orang hahahah, karena ditangkap langsung diolah

Suasana Lantai Satu dan Lantai Dua yang kita kuasai demi Makan Siang Pertama di Makassar

Oh ya, kepergian Saya ke Makassar ini juga merupakan kado tercantik karena Saya berulangtahun tanggal 3 Mei di hari sebelumnya jadi kalau ngumpul makan - makan Saya anggap sebagai traktiran ulang tahun hahaha.

Okay, berikut ini beberapa menu masakan yang sudah dipesan oleh mas Arie yang harus kita cicipi karena memang rugi jauh - jauh ke kota yang dulu namanya Ujung Pandang ini kalau kita tidak berwisata kuliner.

Sebelumnya Saya peringatkan, sebelum Saya geber foto - foto berikut, bahwa Saya tidak akan bertanggungjawab terhadap resiko atau respon yang terjadi seperti, Kelaparan atau Makin Lapar atau Marah karena Lapar, Menetesnya atau Menelan Air Ludah karena Pengen, atau hal - hal lain yang bisa mengakibatkan Perut mulai menabung gendang perang bahkan mengundang Orkes Keroncong.

Okay?

Deal.



Inilah yang pertama - tama dikeluarin oleh pelayan dari restoran Paotere. Saya pikir itu apa, semacam sup kah. Ternyata begitu Saya icipin, ternyata bumbu rujak (kalau di daerah Saya ini adalah bumbu rujak pake Petis Putih) yang tentu saja pedas. Buat apa? Ternyata untuk pembuka kita disuruh (kok disuruh sih ...), dipersilakan mengkonsumsi ...



Ternyata Otak Otak begitu populer di Makassar. Otak otak yang bahan dasarnya dicampur dengan ikan tenggiri ini bisa dibakar ataupun digoreng. Paling enak dicocol dengan sambel petis dan juga saus kacang. Hmmm ...


Monggo dimakan ...

Penyengat rasa berikutnya adalah aksesoris Raca - Raca Mangga dan Sambal Tomat. Ini memang disajikan untuk menemani ikan bakar yang kami pesan. Duh jangan ditanya deh rasanya. Pedas, Gurih, Asem, Seger sambil meminum Es Markissa.

Datanglah Ikan Bakar. Kebanyakan Ikan ini adalah jenis ikan Cepa dan Ikan Sunu (Kerapu) yang dibakar secara spesial karena menggunakan alas daun pisang sehingga menghasilkan rasa dan bau yang khas.



Alhamdulillah ...

Eh masih ada lagi ...





Nah, ini juga merupakan makanan khas Makassar. Saya coba rasanya kecut, mirip apa ya, soto tapi kecut, karena memang ada asam jawanya. Nanti Saya bakal tahu kalau orang Makassar senang makan ikan, kebanyakan kecut. Sepengetahuan Saya ada kemungkinan itu untuk mengurangi lemak yang ada di makanan. Mungkin ... Tapi banyak yang bilang masakan ini mampu mengurangi Sakit Demam dan melegakan tenggorokan.

Wah, kalau Saya mungkin bakal akan demam kalau gak bisa makan ini, soalnya memang sepertinya jarang di Jakarta.





Well, Pemirsah. Cukup dengan pemberhentian pertama. Ayo melangkah ke tempat berikutnya.

Saya itu kalau sudah mencicipi makanan yang pedas, gurih atau umami. Lidah ini butuh "Penyeimbang Rasa". Tentunya yang manis atau coklat. Ternyata Mas Arie paham akan hal ini maka kita langsung menyambangi Toko Kue Mama yang memang Hits di Makassar.



Penataan ruanganya menarik hati Saya. Nggak begitu luas tapi cantik. Mas Arie memergoki Saya mengamati dinding dan kursi yang ditata rapih dan nyaman. Ia berbisik, suami si Mimi Khudrati (sang pemilik Toko Mama) adalah seorang Arsitek. Jadi ia sendiri yang menata desain ruangannya sendiri. Oh pantes.


Beberapa sudut ruangan yang menarik hati
Mama Mimi ini (Nah lho jadi kayak pantun), dulu hanyalah seorang penjahit yang sering harus membuatkan kue buat anak - anaknya yang selalu ia inginkan adalah membawakan kue yang enak dan sehat. Tidak ada yang menyangka seiring dengan waktu tokonya jadi pesat dan semakin menarik perhatian Masyarakat Makassar.



Ada sekitar 50 an jenis kue yang dijual dan 28 jenis rasa es krim yang tentu menggugah selera. Makanya tak heran ada sekitar 30 karyawan untuk membantu operasional.


Beberapa penganan yang dipajang di etalase
Mau mencoba dan menjajal apa saja yang kami icipi hari ini, yuk.



Indonesia juga sangat banyak dipenuhi oleh jajan atau kue basah yang banyak sekali jenisnya. Kadang kalau kita berkunjung ke daerah lain. Kita baru tahu bahwa ternyata akan ada satu kesamaan bahan atau rasa yang ternyata beda nama saja. Nah ini yang ternyata menantang Saya mencicipi satu persatu berdasarkan kecurigaan mata.

Kue di atas Saya kira mirip dengan Kue Mangkok, tapi ternyata Saya salah, karena ternyata dalamnya itu durian! Maka terpaksa fotonya saya iris biar isinya meleleh ke luar (haduuuh). 

Ternyata disini, kue itu adalah Kue telur gulung. Bayou sendiri artinya adalah telur. Kue ini akan dikeluarkan di seremoni pernikahan adat. Manis gula dan telur diibaratkan sebagai suatu kesejahteraan atau kemakmuran. WOow. Aamiiin.



Aduh ini mah gak perlu diintro lagi. Aku sayang dan cinta pisang, (mengetik ini sambil nggak berani memandangi pisang yang berbalut hijau itu) Ngeri .... Pengen ... Skip ....



Untuk minumnya (Saya cuman mengingatkan bagi saya Es Pisang Ijo itu bukan minuman ya) Saya pilih Es CingCau Kelapa Muda untuk membandingkan CingCau di Makassar dan tempat Saya lahir (yang ternyata tak ada bedanya hahaha)



Kue ini juga baru Saya tahu. Mulanya Saya sangka Botok, terus kayak arem arem. Ternyata bukan. Namanya Barongko. Sekedar pengetahuan ajah, kue ini sudah ditetapkan sebagai warisan budaya oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan agar tak mengalami kepunahan. Kue Barongko sendiri sebenarnya adalah terbuat dari Pisang yang dihaluskan dicampur dengan telur, santan, gula pasir, dan garam kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dikukus. Fiuh ... ya Tuhan. 

Pisang lagi - pisang lagi. Saya perkenalkan ...



Ya Tuhaaaaaan. Enaknyooo ...

Namanya memang Sanggara Balanda diartikan sebagai Pisang Goreng Belanda. Yang berbalut dengan isian kacang yang dibumbui dengan gula, mentega dan keju. Haduh. 

Penamaan Belanda sendiri terjadi karena di jaman dahulu, penggunaan mentega dan keju hanya terjadi dan berasal dari Belanda atau dikenal sebagai makanan Kompeni.



Yang ini sebenarnya masih saudara, karena ya Tuhan dari pisang lagi. Ah Makassar Saya cinta kamu hahaha. Cuma kali ini Peppe berarti dipenyet atau pipih atau geprek. Spesialnya makannya dicocol dengan sambal.



Bentuknya menarik. Mirip landak. Saya curiga kayak kue lebaran apa ya namanya ... Nastar ... kalau biasanya diisin dengan selai nanas, tapi kalau kue ini tentu saja diisi dengan campuran cangkuning atau unti atau kelapa gula merah dengan Durian. Hummy! 



Kue ini juga mengalami banyak cobaan karena akan semakin langka mengingat banyak sekali jajanan yang ada di pasaran apalagi di Makassar. Kue berbahan dasar gula merah, beras ketan dan kelapa ternyata punya proses yang agak repot karena secara manual harus menggunakan uap air untuk mengeraskan adonannya. Itulah ia termasuk kue yang kuat dan awet hingga 2 hari.



Terakhir di Toko Kue Mama ini kami mencoba kue yang satu ini. Entah Saya merasa mirip apa rasanya. Kue karamel mungkin yaa ... mungkin. Ah yang penting memang enak. Kue ini juga bernama "Beppa Paranggi" atau "Kanrejawa Paranggi" karena memang berbahan dasar yang sama yakni dari gula merah.

Saya akhirnya Sadar dan bersyukur. Ternyata bangsa kita ini adalah Pemakan yang Kreatif. Negara ini dipenuhi oleh harta kuliner. Andai saja ini diketahui oleh banyak orang. Banyak orang juga akan semakin bersyukur dengan apa yang kita punyai.

Alhamdulillah.

Nah, akhirnya perjalanan hari ini penuh pusing, keringat macet dan kenyang. Harus dihentikan sementara, karena kami balik ke hotel. Istirahat sebentar untuk nanti dilanjutkan dengan jadwal makan malam.

Oh ya disaat Saya break dan sempat tertidur sebentar di hotel, teman Saya, teman masa SMA ternyata datang dan membawa oleh - oleh. Thanks ya Ilun.


dengan mata gak bisa dibohongin karena baru tertidur

Tepat jam 8 Malam. Kelana rasa kami bergerak menuju ke Mie Awa di Jalan Bau Maseppe - Makassar.



Perdagangan dan kuliner di Makassar tak jauh dari pengaruh warga Tionghoa. Ini juga dialami oleh Mie Awa. Di awal tahun 1960 an masih bernama Mie Angko karena didirikan oleh Angko Chao. Begitu beliau tutup usia digantikan oleh putranya bernama Awa. Penjualan Mie di Makassar unik karena banyak yang mirip seperti Mie Titi, Mie Hengky, Mie Anto, Mie Yanto, Mie Ceng dan Mie Teddy ternyata mereka sesaudara satu Kakek.



Uniknya memasak mie ini masih bertahan menggunakan tungku tanah liat dan terlihat pancaran pembakarannya dengan mesin yang dahulunya berupa kipas. Menggunakan bahan bakar arang yang memang akhirnya menimbulkan bau yang khas dari mie yang disajikan.

Duh memang enak banget nih.

Malam itu Saya memesan.



Lihat pemirsah, lihat aja udah sangat bikin perut dan lidah saling ngotot. 



Selain mie di atas masih ada Mie Kuah, Mie Kering dan jangan lupa icipi juga namanya Mie Jenderal. Ternyata ceritanya unik, dulu Jenderal M Yusuf datang dan mencoba membuat racikan sendiri dengan mencampurkan beberapa bahan dasar mie, yang kemudian dimasak dengan telur goreng dan bawang goreng. Menurut beliau, kalau menu mie yang dibuat enak, namakan saja Mie Jenderal". Setelah dicoba menurut pemilik memang enak dan sejak saat itu ada pilihan menu Mie Jenderal. Cool.



Suasana telah beringsut larut. Perut kenyang. Alhamdulillah. Hari ini semua target kuliner telah tercapai. Saatnya pulang. Pengamen di depan sayup - sayup mendendangkan lagu "Dia" oleh Anji mengantar Saya, mas Arie, Tim dan Media kembali menuju ke Hotel.

Terima kasih Tuhan atas rejeki hari ini. Seperti tulisan di atas. Begin with Bismillah, end with Alhamdulilah.

Tapi belum selesai yaaa, ini masih bagian satu, hari pertama.

Sampai besok.

Saya bobo dulu. Mimpi indah.



Komentar

  1. Baca artiktel ini bikin ngiler haruuuuu.....

    BalasHapus
  2. makanan di makasar banyak juga ya dan beragam rasanya kira kira harganya berapaan tuh mas permakanannya. saya lebih suka es pisang ijo tuh sedap rasanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau makanan seingat saya masih di bawah dan sekitar 30 ribuan. Masih terjangkau. Tapi untuk ikan kan gram graman. Heheh. Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  3. Barongko itu semacam nogosari kah??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya tapi lebih bertekstur dan lebih manis

      Hapus

Posting Komentar