Menikmati Jember Apa Adanya - Bagian Kedua



Bagian Kedua.

Jam 10 siang.

Udara bersuhu sedang menyambut kedatangan Saya di Pemberhentian Stasiun Jember. Perasaan Saya jadi campur aduk. Wangi tanah di Jalan Wijaya Kusuma itu tercium dengan lembut. Bau lembab jamur di tembok tiba - tiba terbayang.

Saya celingukan. Seperti biasa, di kota sendiri Saya selalu mengalami apa yang dinamakan "MisTransportation". Kehilangan arah. Tak tahu harus kemana. Orang bilang Saya buta demografi. Mau naik apa ini, sebenarnya? Becak di Jember sudah lama berkurang, Tukang Becaknya sudah rata - rata tua dan becaknya sudah reot. Bis dan Lin (sebutan angkot berwarna kuning - dulunya bernama Klenting Kuning dan disingkat Lin) juga telah entah kemana tak tentu rimbanya. 

Dipinjam dari http://www.kerikilberlumut.com/2015/11/umk-jember-surabaya-2016.html

Padahal dulu Saya pernah mengklaim dan sedikit sombong pada teman - teman di Jakarta bahwa kota Jember itu walaupun dianggap sebagai salah satu kota kecil (biasalah, gak kecil kecil banget sebenarnya), punya jenis transportasi terlengkap di dunia, mulai dari Ojek, kereta api, dokar (andong), becak, Bis Kota, Angkot, hingga Pesawat Terbang. Sekarang? Kosong.

Entah apa yang ada di benak Pemerintah Kota Jember. Kenapa tak ada pembaharuan Transportasi umum.

Astaga! Saya jadi ingat. Bukannya Grab dan Go-Jek sudah masuk dan ada di Jember?Langsung Saya memesan di aplikasi dan segera menyadari bahwa Grab Bike dilarang mengambil pelanggan di sekitar stasiun di radius tertentu.

Ya udahlah ya

Kejadian pesan Grab di Malang, beberapa bulan yang lalu malah lebih syerem, yang datang lha kok malah Sopir dan satu cowok di penumpang depan. Baru mau protes, eh sang Sopir bilang, itu akal - akalan mereka untuk menipu masyarakat agar nggak ketahuan kalau dia lagi nyupir Grab, sekalian pasang keamanan dengan sengaja mebawa saudaranya soalnya sopir sering diserang dan dikeroyok ramai - ramai di malam hari.

Ternyata gesekan Pemerintah dan Transportasi Online masih terjadi di daerah.

Ya udahlah.

Begitu teringat berita seperti itu Saya ngalah saja. Si Driver bilang dan menyuruh Saya untuk berjalan sekitar 100 meter menjauh dari Stasiun dan mencari Indomaret terdekat untuk cari patokan.

Ok, fine.

Begitu akan menyeberang, Saya melihat ada tenda besar, yang didirikan Polres Jember sebagai penyambutan dan Pos Pelayanan Lebaran 2018. Saya senyum dan menghampiri mereka. Saya dengan sengaja dan penuh kesadaran tinggi menyalami mereka dan mengucapkan terima kasih karena mereka selama ini telah menjaga keamanan Masyarakat serta mengajak mereka berfoto bersama.


Beberapa polisi dan bapak TNI sedikit kagok. Saya sih membiarkan itu, mumpung bulan puasa yang penuh berkah. Bapak - bapak ini perlu diapresiasi atas kerjanya yang bisa jadi lebih berat dari kita, tetap menjalankan ibadah, waspada 24 jam dan bekerja di saat semua tengah menikmati sedapnya buka puasa dan sahur atau sedang liburan mudik.

Plus. Menyebarkan berita baik serta menghargai kebaikan seperti yang dianjurkan oleh Bapak Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes (Pol) Argo Yuwono. #sebarberitabaik

Iklan Sebentar


Grab Bike mengantarkan ke rumah dengan selamat. Ibu menyambut dengan senyum dan suasana hati yang tak terperi. Setelah mencium tangan dan pipi kanan kiri, Saya duduk di rumah yang seperti biasa telah Saya kenal sekali atmosfernya.

Tak ada yang berubah. Mungkin lebih sepi sekarang. Atau memang  berubah? Suara keponakan dan sepupu yang terbiasa berteriak minta makan atau ribut berangkat dan pulang ke sekolah tak lagi terdengar. Mereka semuanya sudah membesar, beranak pinak dan punya jalur kehidupan sendiri. Suatu pengalaman yang tetap sama tapi ternyata aromanya beda.

Ibu pun sudah sepuh. Beliau Agustus ini bakal menginjak umur yang ke 71. Beliau terlihat lebih kurus. Bukan lagi Ibu - Ibu endut, yang sering Saya ingat beberapa tahun yang lalu.

Pak De Timbul (kakak Ibu) - Bu De Pinah (Sepupu Ibu) - Ibu

Saya menangis sebentar dalam hati.

Tak tahu harus berkomentar apa. Saya pulang cuma untuk tahu dan penting bertemu dengan beliau. Itu saja. Membalas ketidakpulangan Saya tahun lalu. Saya cuma manusia biasa. Hanya mengharapkan beliau sehat selalu. Saya tak ingin semua konflik atau masalah yang ada di rumah terbahaskan di sini. Saya hanya pengen tahu beliau bahagia dengan keadaan dirinya.

"Ibu kena diabetes". Ujarnya singkat sambil memperkenalkan kucingnya yang baru.


"Namanya (E)m Me". Ceritanya sekarang lebih irit. Tak secerewet dulu. Tak apa. Saya tak menuntut apapun. Di rumah, kali ini Saya berjanji akan menjadi pendengar yang baik. Menunjukkan rasa hormat pada beliau. Membelikan apapun yang beliau minta sesuai dengan kemampuan Saya. Saya tak punya apapun untuk dibanggakan di depan beliau. Saya cuma salah satu anak beliau yang selalu mencoba menjadi yang terbaik. 

Saya cuma mengangguk dan tersenyum tanpa bertanya lebih lanjut, yang mana sebenarnya kucing yang ibu maksudkan. Yang kuning (cara pandang orang Jember mengenali kucing berwarna jingga) di sebelah kiri atau yang belang telon (belang 3 warna) di sebelah kanan.

Saya mengelus kucing - kucing itu dan ingatan mendadak terputar dengan sendirinya. Tradisi yang tak pernah hilang.

Teringat Dedy Kecil yang dahulu dikelilingi oleh 35 kucing. Ya, keluarga kami adalah pecinta kucing sejati. Kucing berjenis kampung tepatnya. Tiap pagi ia menyaksikan kucing itu makan di ketujuh piring yang disediakan ibunya. Mereka punya nama sendiri - sendiri. 

Dedy Kecil selalu ingat, setiap malam seusai (almarhum) Bapak menggambar desain rumah dan sisa kertas gambarnya yang salah dan dikepal, akan Dedy Kecil lemparkan ke tengah ruangan. Kesemua kucing itu akan berkumpul, memperebutkan dan bermain bola dengan serunya di tengah malam. Ada yang menggigit dan merebutnya sambil menggerutu, ada yang jungkir balik mengejar. Ada yang melintas dengan cepat hampir melayang. Menabrak dan mengobrak - abrik barang yang ada di ruang tengah.

Dedy Kecil selalu tersenyum melihat kucing itu berpialadunia dan memporakpandakan rumah.


Tapi itu dulu. 

Sekarang kedua kucing penurut itu hanya bisa malas, mengerjapkan matanya dan seakan mengerti dan langsung berpose kalau akan difoto. Kucing itu hanya sesekali menengadahkan wajahnya, memelas, mengira kita akan memberikan dia makanan.

Dasar Kucing!

Itu dulu. 

Karena sekarang rumah telah berubah setelah ada permasalahan besar yang terjadi. Beberapa kamar telah kosong dan berubah menjadi gudang yang tak terawat. Gelap dan bau. Hampir semua lampunya mati tak terurus. Pembantu yang telah puluhan tahun ikut kami pun telah pulang ke desanya untuk selamanya. Adik yang dulu ada di rumah beserta suami dan anak - anaknya telah pindah ke rumahnya. Bisnis bunga milik kakak juga telah diusung ke seberang jalan.

Sepi.

Rumah itu jadi kosong. Tanpa ada siapa - siapa. Tanpa ada keceriaan. Beku. Dingin. Menusuk dan mencekam. Tak punya cerita apa - apa lagi. Bak mengeluh karena teracuhkan.

Saya masih punya Rumah tapi kehilangan Anggota Keluarganya

Kenangan - kenangan itu muncul lagi seperti layaknya kaset yang telah diputar beratus - ratus kali. Kadang melemah, kadang muncul suaranya atau tidak atau bahkan terpaksa berhenti karena terlupakan.

Mudik kali ini terasa mellow. Somehow, Saya berjanji, nggak boleh loyo, nggak boleh banyak tidur. Nggak boleh malas di rumah sendiri.

Saya masih punya banyak kewajiban yang harus dilakoni. Saya ini Tarot Reader. Saya sekarang Blogger. Saya harus banyak kegiatan. Saya harus cari duit. Saya harus tanggung jawab dengan diri Saya sendiri ... 

Salah satunya membahagiakan beliau. Ibu.

Saya tak boleh larut dalam kesedihan.

Kerja. Kerja. Kerja. Mirip polanya pak Jokowi. Saya tetap harus berdoa dan berusaha. Bukan Berdoa, Berusaha dan Panik. Tapi Berdoa dan Berusaha (dengan Kepanikan wajar). Bukan Berdoa, Berusaha dan Menangis. Tapi Berdoa (dengan Menangis tanda keberserahan dan introspeksi) dan tetap terus Berusaha.

Apapun yang terjadi di dalam masalah keluarga memang harus diselesaikan tapi Saya tak boleh melupakan kewajiban diri sendiri. Saya harus bisa jadi lebih baik dari diri sekarang ini.


Promosi Tarot di Jember yang saya babat 50 persen dari Harga Jakarta atau Nasional

Saya berjanji bahwa besok selama 20 hari di Jember ini, Saya harus punya jadwal yang sangat ketat dan melewatkan serta memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Malam itu Saya tidur dengan berurai air mata. 

Lampu kamar depan juga mati dan rusak. Saya tidur dengan kerjap dan pendar lilin yang Saya sulut untuk sekedar menerangi dan mengusir rasa dingin.

Sedih

...




bersambung ...

Komentar

  1. Kenapa ya, kisahmu muram sekali dibaca..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti ada masanya Saya bangkit Maseko. Biar orang belajar bahwa selalu ada masa-masa kita itu sedih dan gembira. Susah dan senang. Gagal dan Bangkit.

      Hapus
  2. alhamdulillah, sudah jadi bagian liburanmu di jember walau cuman beberapa hari, termasuk misteri bu imron yg masih mesterius.

    BalasHapus
  3. Aku maneh....nongkrong nang wak Abu, ded.

    BalasHapus
  4. salfok sama mobilnya, kyknya L300 ya mas, masih mulus bg catnya.

    BalasHapus
  5. Aq jd pingin nyambangi Jember

    BalasHapus
  6. Aku belum pernah ke Jember kak. Tapi kok baca ceritanya kak Darma jadi sedih banget ya >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terus baca, ya. Ada suka dan ada dukanya. Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  7. Tetap semangat kak.. Asal kita berusaha tentu ada jalannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamin. Semoga semua bisa mencari jalan keluarnya. Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  8. Ceritanya sedih dan bikin penasaran ingin tau apa yg terjadi. Semangat ya, Mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sudah mampir ke blog. Nantikan ya apa yang terjadi di Jember.

      Hapus

Posting Komentar