Konser Doakan Ayah - Merajut Tali Kasih Ayah dan Anak Lewat Musik


Salam Budaya!

Suatu hari Saya teringat Bapak. Di suatu tempat. Gara - gara ada Seorang Bapak, sepuh, berumur sekitar 70 tahunan berjalan tertatih - tatih dengan celana panjang yang tak proporsional sedikit terangkat di bagian perut. Rambutnya memutih. Wajahnya tak berekspresi.

Saya jadi kangen. Mungkin Bapak kalau seandainya beliau masih hidup. Mestinya akan berpenampilan seperti Bapak tadi. Ah. Seandainya saja.

Tulisan ini dibuat tanpa nyinyir, ya. Tapi paling tidak mencoba memahami dan mengingatkan. Bersyukurlah kalian, apapun yang terjadi, bila masih memiliki atau punya Bapak atau Ayah.

Ini beneran lho. (Kali ini kita tidak sedang membahas Ibu ya, jangan baper para Ibu).

Posisi Ayah juga tak tergantikan. Beliau adalah penegas pertama dalam hidup kita. Beliau adalah apa yang kita pandang sebagai yang mengajarkan beberapa prinsip kehidupan. Landasan peraturan yang beliau tetapkan akan kita ajarkan terus menerus ke anak cucu kita.

Mungkin seperti itulah rasa kangen Saya takkan pernah tergantikan. Bapak yang Saya cintai tak ada lagi. Makanya begitu Saya diundang di acara "Doakan Ayah", setengah dari hati saya berbisik. Doakan Ayah dari kita semua, agar tak pernah ada penyesalan bila suatu hari nanti beliau tak lagi bisa kita miliki.

Hari Kamis lalu, Saya diundang untuk sedikit menikmati betapa kita masih jauh dari orang - orang (tidak hanya anak - anak, ya) yang mungkin bersyukur dan berterimakasih pada Ayah kita.

Acaranya keren, dan menurut Saya tak pernah terlintas di pikiran. Digelar di Auditorium Galeri Kaya Indonesia, Grand Indonesia - West Mall. Acara yang dipandu oleh duet gaul Eddie Brokoli dan Azizah Hanum mengingatkan kita bahwa betapa akhir - akhir ini Ayah dan Anak punya dunia sendiri - sendiri yang perlu kita satukan untuk kepentingan dua belah pihak.

Mas Eddie Brokoli dan Mbak Azizah Hanum

Acara diawali dengan bincang - bincang menarik tentang pemahaman dan cara pandang bagaimana Ayah dan anak saling merancang waktu untuk bisa bertemu atau berada di satu aktivitas.

Dari kiri ke kanan Ayah Eddie Brokoli, Mbak Azizah Hanum, Ayah Ardi Atap, Ayah Kimun, Ghia, Ghea, Ayah Anji, Ayah Adib dan Ayah Pidi Baiq

Nah ternyata puncak acara dari Konser Doakan Ayah ini memang penampilan yang imut dan menarik dari kakak beradik Gheallibya Gitsna Deasyardi dan Ghianina Raia Deasyardi. Mereka berdua diproduseri oleh ruang belajar Atap Class, program yang berangkat dari keinginan untuk berbagi dan membangun bersama dinamika musik Indonesia, terutama di lagu - lagu anak. Lagu - lagu banyak mengangkat tema - tema keseharian, keluarga, kebanggaan atas Indonesia, kepedulian terhadap budaya, serta alam dan lingkungan hidup, doa dan harapan untuk menjadi semakin baik.

Tahun 2016, sebenarnya Ghea dan Ghia telah merilis dua single berjudul "Jaga Bumi dan "Ramadhan Ceria".



Lirik lagu dari "Jaga Bumi" dibuat sendiri oleh Ghea dan secara musikal diaransemen oleh Jaka PW.



Sedangkan lagu "Ramadhan Ceria" diciptakan oleh Iksan Skuter, musisi yang memiliki banyak karya populer dan biasa mengangkat tema lagu seputar kehidupan, alam dan kemanusiaan.

Nah, demi menyambut Hari Anak Nasional 2018 yang lalu Ghea dan Ghia merilis lagu "Doakan Ayah karya Ayah Pidi Baiq yang kita kenal sebagai seniman, penulis Dilan, musisi, sineas, dan juga dikenal sebagai Imam Besar The Panas Dalam. 


Versi Pidi Baiq


Versi Iksan Skuter


Versi Ghea dan Ghia

Untuk memberikan warna baru, lagu ini diaransemen oleh komposer Nissan Fortz. Lagu ini merupakan sebuah esensi kerinduan dan keinginan seorang anak untuk lebih banyak bermain dengan ayahnya, sekaligus doa anak - anaknya bagi sang Ayah dalam keseharian mencari rejeki demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak - anaknya. Lagu ini tentu saja menyentuh perasaan karena sederhana menampilkan sepenggal kisah sentimental mengenai kedekatan dan kasih sayang antara ayah dan anak - anaknya. Video klipnya digarap oleh Atap Promotion dengan sutradara yang juga sineas muda Galih Firdaus.

Lagu dan video klip dari "Doakan Ayah" telah dirilis secara resmi pada tanggal 23 Juli 2018 melalui konser kecil Ghea dan Ghia di Kantinasion The PanasDalam. Konser ini digelar sore hari hingga menjelang matahari terbenam, waktu anak - anak biasa bermain - main. Di konser ini Atap Class melontarkan satu pertanyaan sederhana, "Ayah, aku ingin denganmu, kapan ada waktu?" yang juga sekaligus menjadi kampanye kepada para orang tua, terutama Ayah, untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama anak - anaknya. Wacana ini berkembang luas seiring dengan lagu "Doakan Ayah" yang dalam kesahajaannya mampu menyentuh hati banyak pendengarnya.


Atap Class sendiri menurut Kimun, juga akan menggelar beberapa program yang akan mengambil spirit dari pesan lagu "Doakan Ayah", di antaranya event lomba bernyanyi, aktivitas digital upload cover lagu, yang kesemuanya dikhususkan melibatkan ayah dan anaknya. Kemudia melakukan tur kecil ke beberapa Sekolah Dasar dan komunitas atau sanggar anak. Puncaknya akan diselenggarakan event nasional Ayah dan Anak Camp, sebuah acara kemah yang diikuti oleh anak - anak dan orang tuanya (wah gak sabar menunggunya, pasti seru!), terutama ayah. Beberapa aktivitas menarik sudah disiapkan di acara perkemahan tersebut. Aktivitas - aktivitas ini merupakan bagian upaya kita untuk menggugah para orang tua agar berusaha untuk meluangkan waktu lebih lama lagi untuk bermain bersama anak - anaknya.

Nantinya sebagai penghujung, Atap Class bersama Mamage Music, masih terus merampungkan album perdana Ghea dan Ghia. Album ini akan bertajuk "Ghea dan Ghia Bersama Ayah" yang rencana akan dirilis tanggal 20 Nopember 2018 tepat dengan diperingatinya Hari Anak Sedunia.

Akhirnya ya udah, yuk kita doakan semoga "Doakan Ayah" akan semakin bisa menyebarkan rasa cinta dan kasih sayang, baik kasih sayang kita, antar manusia, kasih saya kita kepada alam, kasih sayang kita terhadap keluarga, terutama antara orang tua dan anak - anaknya, dan kasih sayang terhadap Sang Pencipta.


Aaaamiiinn.

Salam Budaya!



Komentar

  1. Adek-adeknya.. Imut semua, pinter berkarya lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya kecil kecil cabe rawit sambal terasi

      Hapus
  2. Sabar ya pak, ayah sudah tenang di sana. Yang masih punya ayah, kita jaga malaikat tanpa sayap tersebut dengan sebaik-baiknya ... Acaranya bagus dan menginspirasi. Sekaligus mengedukasi agar tidak ada jarak antara ayah dan anak, karena kita tau, masing-masing dari setiap anggota keluarga telah disibukkan oleh gadgetnya...

    Nice sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Selalu berdoa yang terbaik untuk Bapak saya selalu. Ammiiiin.

      Hapus
  3. Fathering. Ayah masa kini sudah banyak yang mampu "fathering"
    . Ayah masa lalu banyak yang asing dengan anaknya karena menganggap hanya pada ibulah anak perlu bermanja2. Tapi ayah saya, unik. Memang bukan tempat saya bermanja2 tapi punya pandangan fathering yang cocok buat saya. Malah beliau yang pertama kali mengajarkan me nyeterika rok lipit waktu masuk SMP.

    Terima kasih sudah mengingatkan, Mas Deddy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, memang Bapak bisa jadi sosok yang unik.

      Hapus

Posting Komentar