Pelesir Ke Jember - Desir yang Menyenangkan


Salam Budaya!

Salah satu kado terindah dari mudik dari Jember terakhir (saat Lebaran) adalah Saya terpilih menjadi juara 2 untuk lomba Blogger yang diadakan oleh Blogger Jember Sueger dan Taman Botani Sukorambi. Hati begitu riangnya. Membuncah di udara. Bagaikan menerima surat cinta pertama kayak yang dinyanyikan oleh Bunda Vina Panduwinata.





Tapi tunggu! Itu belum berakhir. Ternyata kelompok Blogger Jember Sueger ini masih saja menyodorkan sesuatu yang bagi Saya akhirnya membuat ngiler.



Halo sobat blogger! 

Kamukah 15 blogger kece yang kami cari? 

Jember, kota dengan banyak julukan yang disematkan. Mulai dari kota santri, kota tembakau, kota pandhalungan, hingga kota karnaval. Semua ‘gelar’ yang disematkan itu tentu bukan tanpa alasan. Satu yang pasti dan perlu diyakini, itu semua menunjukkan bahwa Jember yang terletak di sudut timur Jawa Timur ini memang memiliki banyak potensi.

Keberadaannya mulai dilirik oleh berbagai kalangan. Tentu termasuk para penghobi perjalanan yang ingin menemukan pengalaman baru dari setiap perjalanannya.

Untuk lebih mengenalkan Jember pada masyarakat di Indonesia (bahwa Jember tak melulu soal Jember Fashion Carnaval), bahwa masih banyak destinasi menarik yang bisa dijadikan rujukan dan referensi, maka Blogger Jember Sueger (BJS) berinisiasi mengadakan Sueger Camp 2018, berupa fam trip yang akan mengundang 15 blogger yang terseleksi secara nasional dari kualitas blog, dan media sosial aktifnya.


Pelaksanaan
Hari/tanggal 
Jumat - Minggu/31 Agt - 2 September 2018
Waktu
18.00 WIB (Jumat) s.d. 15.30 WIB (Minggu)
Tempat
Berbagai destinasi wisata Jember
(BIN Cigar, Museum Tembakau, Masjid Roudlotul Muchlisin/Masji Cheng Hoo Jember, camping di Taman Botani Sukorambi, Puslit Kakao, Pantai Papuma, Warung Kembang)

Ketentuan Peserta : 
Peserta adalah 15 blogger terpilih se-Indonesia yang memenuhi syarat dan ketentuan sebagai berikut :
  1. Sehat jasmani dan rohani
  2. Bersedia membiayai transportasi secara mandiri (PP dari dan ke kota asal)
  3. Memiliki blog aktif dengan niche travel atau lifestyle yang memiliki menu atau kategori travel
  4. Memiliki akun Instagram aktif dengan minimal 2000 followers, akun Twitter aktif dengan minimal 1500 followers, akun Facebook aktif dengan minimal friends 2000, dan memiliki akun Youtube (tidak ada minimal subscriber)
  5. Bersedia melakukan Instagram post saat acara berlangsung dengan # yang ditentukan panitia, dan melakukan tweet hanya sebagai tambahan (tidak wajib)
  6. Bersedia menulis artikel perjalanan di blog masing-masing dan video di channel Youtube masing-masing (minimal masing-masing 1 artikel dan 1 video, lebih dari 1 dipersilahkan)
Fasilitas Peserta
- Free transportasi, akomodasi, dan konsumsi selama di Jember
- Seluruh peserta mendapatkan goodie bag yang berisi :
shirt dan ID card Sueger Camp 2018
Stiker BJS
dan oleh-oleh khas Jember

Pendaftaran : maksimal 10 Agustus 2018, pukul 20.00

Pengumuman 2 hari setelah DL pendaftaran.

Sampai jumpa di Jember!

Apa apaan Ini???


Ya, tentu saja Saya harus ikut. Tanpa babibu lagi. Saya langsung mendaftar dan Alhamdulillah Saya nyangkut alias mendapat jatah untuk ikut.

Yang jadi pemikiran selanjutnya adalah bagaimana Saya mendapatkan tiket termurah pulang ke Jember (Oh, ya Saya menyebutnya pulang karena Jember adalah kampung halaman Saya). Memang pilihan banyak mulai dari Pesawat Terbang hingga Bus Malam, tapi kereta api masih menjadi andalan bagi semua yang membutuhkan tiket yang terjangkau.

Yang menjadi masalah berikutnya adalah sepengetahuan Saya naik kereta api masih tidak terlalu efektif karena ada sistem transit. Maklum kereta jurusan langsung Jakarta ke Jember belum tersedia. Jurusan Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Surabaya dan Malang sudah siap. Satu – satunya yang masih masuk akal secara murah adalah kita akan melakukan perjalanan ke Surabaya (dari Stasiun Pasar Senen) dan melanjutkan ke Jember (Stasiun Jember kota) itupun kami harus menunggu sekitar 4 jam di Stasiun Gubeng karena menurut jadwal kereta api Jayabaya yang berangkat dari Pasar Senen pukul 1 siang akan tiba pukul 1 dini hari. Sedangkan kereta yang menuju ke Jember (sebenarnya adalah kereta api Surabaya menuju ke Banyuwangi) bernama Probowangi baru berangkat pukul 5 pagi.

Okelah.

Menunggu Mbak Terry setelah mencetak tiket

Tanggal 30 Agustus 2018 pukul 1 siang kami berangkat dari stasiun Pasar Senen supaya kita bisa hadir di acara pembukaan Sueger Camp 2018 keesokan harinya. 

Akhirnya kita bertemu ketambahan mas Arief Pokto yang wefie dengan kita (hasil fotonya palsu banget ya, kita kelihatan cakep)

Setelah berbelanja beberapa kebutuhan logistik kami berangkat dengan hati gembira dan penuh suka cita. Yah gimana lagi, ini perjalanan selama 12 jam lho. Kalau tidak diiringi doa restu serta hati yang lega dan ikhlas, mungkin kami nanti jambak - jambakan (untungnya mbak Terry kepalanya bebas jambak). Hahahaha ....

Keadaan senang tergambar di foto kami. Berarti kami bahagia

Suasana segar dan menyenangkan

Sepanjang perjalanan kami banyak berbicara dan bersyukur betapa nikmatnya sekarang menjadi penumpang kereta api. Selain harganya terjangkau, cara pembelian tiket secara online yang mudah dan tersistemasi dengan baik, serta keadaan kereta api yang bersih, nyaman, terang benderang, ada colokan untuk hape, adem serta tepat waktu menjadikan kami menjadi salut untuk PT. Kereta Api Indonesia.

Setelah hampir 13 jam terpapar tempat duduk yang tegak bagai seteguh karang. Sampailah kami di Stasiun Gubeng. Sekalian kita lesehan sejenak sambil menunggu teman - teman yang tengah menuju ke arah yang sama.

Sarapan dini hari Rawon di depan Stasiun bersama mas Didik asal Bojonegoro

Foto Foto Norak di depan Stasiun Gubeng

Akhirnya setelah menunggu kurang lebih 4 jam. Datanglah teman - teman dari pelbagai jurusan untuk akhirnya gabung dan bareng - bareng menuju ke Jember.

dari Stasiun Gubeng sekitar jam 5 pagi

Sampai di Stasiun Jember sekitar jam 10 pagi

Mari kita mulai acara ini dengan ucapan Bismillah ....

HARI PERTAMA

First Stop (eh, please jangan bahasa Inggris, walaupun Saya tinggal di Jakarta Selatan, cobalah sekali - kali teratur berbahasa Indonesia). Okay.

Pemberhentian pertama. Kami langsung menuju ke Lumintu, karena memang ini jam - jam Sarapan.


Apakah LUMINTU itu?

Sejak tahun 1980 an warung ini selalu menjadi pusat perhatian karena benar - benar tanpa dosa mencampurkan Gudeg dan Pecel. Wadaw! Untuk menjaga keaslian rasa, mereka masih memasaknya dengan tungku atau berbahanbakar kayu.

Pecel gudeg Lumintu terdiri dari pecel (kacang panjang dan kecambah) yang bumbunya sedikit pedas, ayam, pindang telor, sayur tewel (nangka muda), sambal goreng krecek dengan kacang tolo, sambal dan rempeyek kacang. Hanya dengan 16 - 20 ribu kita sudah bisa menikmati makanan yang membuat kita tak lagi nyanyi keroncong ini. 




Lagi - lagi melaporkan tulisan ini saja adalah suatu cobaan yang sangat berat, karena foto - foto itu begitu membuat lidah kita bergoyang. Hadeeeeuh.

Setelah mengalami eh ... menjalani Sholat Jumat, sebenarnya acara belum dimulai, beberapa teman sempat nonton Wiro Sableng di Cinemaxx, Lippo Mal Jember. Saya tidur di rumah sendiri. Acara camp baru dimulai nanti malam secara resmi di Hotel Lestari.

Di sedikit sore hari, Saya putuskan untuk pergi ke tempat yang menurut Saya lain daripada yang lain yakni:

Museum Huruf


Museum Huruf atau Font Museum ini dibuka pas Rabu, 30 Agustus 2017 di kawasan Semanggi, Jl. Bengawan Solo 27 Jember. Tak hanya museum dan perpustakaan saja, di tempat ini juga terdapat cafe, studio tattoo, souvenir shop Buncis Room, juga homebase sebuah creative advertising bernama MIxmedia yang dimotori oleh Erik.


Secara sederhana dan pasti, nanti Museum Huruf ini akan menjadi salah satu penggerak teman - teman relawan yang dibekali kemampuan untuk menjadi guide museum di seluruh Indonesia. Museumnya sebenarnya tidak besar, tapi yang Saya kagumi adalah langkah besarnya.

Dipetik dari Lokakarya.com

Museum Huruf lahir atas dasar persamaan mimpi, kegelisahan, keinginan, dan asa ingin memberikan setitik sumbangsih. Juga kebanggaan bagi tempat dimana kami lahir dan tumbuh. Kami sebagai pemuda Jember mencoba untuk memberikan ruang media dialektika bagi generasi penerus bangsa dalam bentuk museum… – Ade Sidiq Permana

Beberapa jenis huruf atau font yang ditampilkan

Ade Sidiq Permana, inisiator gagasan pendirian museum yang sekaligus bertindak sebagai Direktur Museum
Diam - diam terbersit rasa bangga punya teman - teman yang berjuang di hal - hal yang masih belum lazim ini. Ruangan Museum yang hanya 3 kali 5 meter sudah mulai dilengkapi perpustakaan yang isinya merupakan donasi teman - teman yang ikut menjadi relawan.

Duh, semoga teman - teman di Museum Huruf tetap keren dan berkah dah! Semangat!


Aaaamiin.

Pada malam harinya kita berkumpul di hotel Lestari untuk mendengarkan Bapak Teguh menceritakan sedikit mengenai sejarah dari Hotel Lestari, karena di sinilah semua peserta dari Sueger Camp 2018 menginap.

Jujur Gaes, Saya di sini tak banyak ambil foto karena memang ngantuk dan capeknya luar biasa apalagi besok acaranya dimulai pagi - pagi sekali.





Okay, sampai jumpa besok yaaaa .

HARI KEDUA

Uapan Saya makin lebar, tapi Saya bangun tidak di kamar Saya. Saya sendiri sebenarnya bukan termasuk orang yang Pagi, tapi demi keteraturan acara Saya harus bangun lebih awal. Ayo Dedy, Ayooooo, saatnya kita kerja dan kerja.

Seragam juga telah dibagi, Saatnya Sarapan Pagi

Hari ini kita punya rencana untuk pergi ke Kebun Tembakau untuk lebih mengenal mulai dari pembibitan, penumbuhan, pemanenan hingga nanti bisa dinikmati sebagai rokok atau cerutu. Wah keren.

Acara diawali dengan Doa bersama Ketua Persilatan Panita Camp Sueger 2018 - Mbak Prita

Lanjutlah kita menuju ke Kawasan Tembakau yang memang tersebar di wilayah Ajung - Jenggawah - Jember.

Di lapangan kita bertemu dengan Pak Anas yang tak dinyana-nyana beliau adalah teman SMA Saya hahaha, dan kita diterangkan detail dan bertanya - tanya tentang tembakau.



Di Indonesia, tembakau yang baik hannya dihasilkan di daerah-daerah tertentu. Kualitasnya sangat ditentukan oleh lokasi penanaman, waktu tanam, dan pengolahan saat panen. Berdasarkan cara pengolahannya di bagi menjadi 4 antara lain:
  • Tembakau kering asap (disimpan di gudang kemudian di oven hingga kering).
  • Tembakau kering panas (dijemur di bawah terik Matahari tanpa dirajang).
  • Tembakau kering angin. (digantung di gudang hingga kering).
  • Tembakau kering jemur (dirajang kemudian dijemur dibawah terik Matahari.

Tembakau kasturi merupakan tembakau yang hanya dihasilkan di wilayah Kabupaten Jember Jawa Timur dan sekitarnya, sehingga tembakau ini banyak dicari oleh industri Rokok di Indonesia.

Berikut sekilas perjalanan Saya


Keseruan di Kebun Tembakau

Mencoba Merokok tapi gak pantes dan foto bareng Pak Imam - Marketing dari BIN (Boss Image Nusantara) Cigar Factory



Tujuan berikutnya tak kalah menarik ternyata di Jember ada yang namanya Museum Tembakau.


Nah, beberapa faedah lain dari tembakau di atas menjadi salah satu usaha pendiri Museum Tembakau bahwa Tembakau tidak hanya merugikan dan untuk rokok.

Museum tembakau Jember merupakan museum yang dikelola oleh UPT Pengujian Sertifikasi Mutu Barang dan Lembaga Tembakau (PSMB-LT) Jember sejak 2014 silam. Museum ini termasuk museum yang masih langka di Indonesia. Artinya hanya sedikit kabupaten di Indonesia yang memiliki museum tembakau.




Di sini banyak sekali dijelaskan sejarah tembakau sampai beberapa jenis dan kegunaan tembakau.



Di museum tembakau UPT PSMB-LT Jember ini, pengunjung juga akan mengetahui bahwa komoditas tembakau ternyata tidak melulu digunakan sebagai bahan baku rokok. Tapi juga bisa dipakai sebagai bahan baku parfum, antibiotik, pestisida, pupuk, sabun, hingga parfum. Nah lho! Baru tahu kan?



Maaf ya, gaes. Waktu jualah yang akhirnya membuat kita melangkah ke tujuan berikutnya. Sekitar pukul 4 sore. Kita berpindah ke Taman Botani Sukorambi. Sebenarnya ini kali kedua Saya datang ke sini dan laporannya sudah Saya buat di sini.

Salah satu tambahan Cafe Tebing yang baru dibuka

Jadi sebetulnya Saya akan melaporkan kejadian malam hari saja dimana kita akhirnya punya acara Camp Sueger sebenarnya. Dimana kita punya acara makan malam bersama,  sharing dengan blogger Jember, menyalakan api unggun, menaikkan lampion dan tidur di kemah. Wow.



Menyenangkan sekali gaes! Unik dan menarik

Sambutan pemilik Taman Botani Sukorambi : Bapak Febrian Ananta Kahar dan Saya tengah menaikkan lampion 



Suasana sharing Blogger dan tempat berkemah



HARI KETIGA

Sekali lagi Sueger Camp 2018 Saya pikir memang pada dasarnya selain mempromosikan Jember sebagai Destinasi Wisata Jember, tetap juga sebagai salah satu pelepas stress kami. Ini liburan jadi memang hari terakhir, untuk yang lebih serius kami mengunjungi Pusat Penelitian Kakao dan Kopi Indonesia di Jember. Tapi sebelumnya kita ke Pantai Papuma dulu yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ....





Pantai Papuma Jember merupakan salah satu wisata pantai yang dimiliki Jawa Timur. Nama Papuma sendiri sebenarnya adalah sebuah singkatan dari “Pasir Putih Malikan”. Selanjutnya memang kita semua sama - sama tak sanggup berkata apa - apa selain mengagumi keindahan pantai dengan berfoto - foto.

Ah, waktu jugalah yang memisahkan kita. Kita harus segera berkunjung ke Kakao dan Coklat, yuks. Ada apa ditempat terakhir ini? Benarkah coklat itu berwarna coklat?

Bapak Didik menerangkan sejarah dari Puslit Kopi dan Kakao Jember

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) didirikan pada 1 Januari 1911 dengan nama waktu itu Besoekisch Proefstation. Setelah mengalami beberapa kali perubahan baik nama maupun pengelola, saat ini secara fungsional Puslitkoka berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian Republik Indonesia, sedangkan secara struktural dikelola oleh Lembaga Riset Perkebunan Indonesia – Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia (LRPI – APPI). Puslitkoka adalah lembaga non profit yang memperoleh mandat untuk melakukan penelitian dan pengembangan komoditas kopi dan kakao secara nasional, sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 786/Kpts/Org/9/1981 tanggal 20 Oktober 1981. Juga sebagai penyedia data dan informasi yang berhubngan dengan kopi dan kakao. Sejak berdiri pada tahun 1911, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia berkantor di Jl. PB. Sudirman No. 90 Jember. Namun mulai 1987 seluruh kegiatan/operasional dipindahkan ke kantor baru berlokasi di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Jember berjarak + 20 km arah Barat Daya dari Kota Jember. Pada tahun 2008 terakreditasi oleh Lembaga Sertfikasi KNAPPP dengan Nomor Sertifikat: 006/Kp/KA-KNAPPP/I/2008;

Kegiatan
  • Melakukan penelitian guna mendapatkan inovasi teknologi di bidang budidaya dan pengolahan hasil kopi dan kakao
  • Melakukan kegiatan pelayanan kepada petani/pekebun kopi dan kakao di seluruh wilayah Indonesia guna memecahkan masalah dan mempercepat alih teknologi
  • Membina kemampuan di bidang sumberdaya manusia, sarana dan prasarana guna mendukung kegiatan penelitian dan pelayanan.

Berkeliling naik kereta Flinstone melihat kebun kopi dan kakao
Terakhir kami diijinkan untuk melihat proses pengolahan coklat walaupun lewat luarnya saja.


Baiklah gaes, seluruh mata acara ditutup di Warung Kembang dengan makan sore bersama yang dihadiri oleh perwakilan dari Bupati Jember.

Yaaaaah. Akhirnya 3 hari bersama harus diakhiri dengan sedih sekaligus gembira. Sedih karena kita harus kembali ke kota masing - masing. Gembira karena ternyata berjalan - jalan bersama selalu ada kisah suka dukanya yang tak akan terlupakan.



Terima kasih Saya ucapkan pribadi untuk penyelenggara Sueger Camp 2018 yang sudah sukses dan tidak membiarkan kita lapar khususnya Mas Nana, Mbak Prita dan si kecil Tangguh serta seluruh awak panitia yang bekerja keras membantu terselenggaranya acara ini.

Tidak lupa juga sponsor - sponsor hebat yang ada yakni:

  • BIN CIGAR
  • Bedhag Kopi
  • Fondre - Oleh - Oleh Jember
  • Repri - Tempat Penyewaan Alat Camping Jember
  • Nyonya Ama Catering
  • Hotel Lestari
  • Pengelola Tanjung Papuma
  • Warung Kembang
dan semua pihak yang tak mungkin disebutkan satu persatu. Terima kasih. 
Buat Bloggers dan Vlogger yang ikut:

Arief Pokto, Arisman Riyadi, Budiono Sukses, Dianes, Didik13, Doel, Evi Sri Rejeki, Kang Geri, Ncie Hanie, Nyi Penengah Dewanti, Salman Faris, Terry Negeri Kita Sendiri, Yuniari Nukti.

Kalian luar biasa.


Pelesir ke Jember selalu menjadi Desir yang Menyenangkan.

Salam Budaya!

#SuegerCamp2018 #JemberMakinRame #BloggerJember

Komentar

  1. Yang selalu aku ingat di Jember adalah pose2 songong Mas Dedi, sukaaaa..
    Hahahaa, baiklah makasih tipsnya kalo berfoto cantik yaa..

    BalasHapus
  2. Aku kok songong seeee, aku sombong hahahah. Thank You.

    BalasHapus
  3. Wahh, kumpul2 blogger jember jilid 2, hehehe. dulu tahun 2008 sempat ada camp blogger jember yang kemudian melahirkan komunitas blogger jember suwarsuwir.com yg sekarang sudah almarhum

    BalasHapus

Posting Komentar