Inovasi Novartis untuk Ankylosing Spondylitis dan Psoriatic Arthritis di Indonesia



Salam Budaya!

Pembaca yang budiman, membahas masalah kesehatan di blog Saya ini merupakan suatu kehormatan tersendiri bagi Saya sebagai blogger. Apa sebabnya karena sumber yang Saya dapatkan tentu saja tak bisa dibuat main - main dan tidak hanya dari browsing saja. Haruslah menurut sumber dari Dokter yang telah berpengalaman serta kompeten di bidangnya.

Salah satunya sesaat Saya mendapat undangan konferensi pers Inovasi Pengobatan untuk Ankylosing Spondylitis dan Psoriatic Arthritis di Indonesia, Saya merasa menjadi orang paling bodoh sedunia. Apa itu? Penyakit apa itu? Sebegitu menakutkankah?

Nah untuk itulah kami para blogger dan jurnalis datang diundang di Hotel DoubleTree di sore yang senyap, Kamis 21 Maret 2019.



Dihadiri oleh dari kiri ke kanan : 

dr. Adhiatma Prakasa Gunawan sebagai pasien Ankylosing Spondylitis (AS); 

DR. dr. Rudi Hidayat, SpPD-KR, dokter spesialis penyakit dalam, konsultan reumatologi; 

Jorge Wagner, Presiden Direktur, Novartis Indonesia; 

dan drg. Rio Suwandi sebagai pasien Psoriatic Arthritis (PsA) 

Nah, nah penasaran kan sebenarnya apakah Penyakit yang diderita oleh kedua pasien diatas?

ANKYLOSING SPONDYLITIS (AS)

https://painhealth.csse.uwa.edu.au


Ankylosing Spondylitis (AS) merupakan penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh mulai menyerang sel dan jaringan yang sehat. Respons imun yang abnormal tersebut menyebabkan peradangan (artritis) pada sendi tulang belakang. Penyakit ini dapat membuat ruas tulang belakang menyatu, sehingga penderita sulit bergerak, menjadi bungkuk dan mengalami kesulitan bernapas.

Fakta menunjukkan bahwa AS lebih sering diderita oleh pria dibandingkan wanita, sehingga pria memiliki 3 kali peluang lebih tinggi untuk mengalami penyakit ini. Penyakit ini bisa terjadi di segala usia, tapi umumnya mulai berkembang pada masa remaja atau dewasa awal (sekitar usia 20 tahunan). Hanya 5% mengalami gejala setelah umur 45 tahun. Penyakit ini dapat mempengaruhi penderita sepanjang hidupnya.

Penyebab

Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab dari AS. Namun, para ahli menduga bahwa penyakit ini mungkin disebabkan oleh faktor keturunan (genetik) dan lingkungan. Gen HLA-B27 diduga memiliki peranan, karena 85-95% penderita menunjukkan positif pada gen tersebut.

Namun, memiliki gen ini bukan berarti seseorang akan mengalami AS. Para ahli baru-baru ini menemukan dua gen tambahan, yaitu IL23R dan ERAP1v bersama dengan HLA-B27 dapat membawa risiko genetik Ankylosing Spondylitis (AS).

Gejala

AS adalah penyakit yang mirip dengan Psoriatic Arthritis (PsA). Pasien dengan AS biasanya mengalami gejala seperti peradangan, rasa sakit, dan kekakuan di bagian tulang belakang serta sendi lain, seperti bahu, pinggul, tulang rusuk, atau tumit terutama terjadi di pagi hari. Gejala ini akan terjadi selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Terkadang, gelalanya juga datang dan pergi, membaik dan memburuk, serta muncul dalam rentang waktu tertentu.

Gejala AS juga disertai dengan kondisi, seperti:

• Kelelahan, penderita AS akan mudah merasa lelah dan kehilangan energi untuk beraktivitas.
• Entesis, peradangan yang terjadi di tempat melekatnya ligamen dan tendon dengan tulang.
• Artritis, terjadi peradangan sendi pada bagian tubuh lain, seperti pada sendi panggul dan lutut.

Pasien AS juga mungkin mengalami beberapa komplikasi, seperti:

• Tulang belakang yang menyatu (Bamboo Spine), kondisi dimana salah satu tulang pada tulang belakang bergeser dari posisi normal dan condong ke depan menutupi tulang di bawahnya, umumnya terjadi pada punggung bagian bawah.
• Peradangan mata (Uveitis), mengakibatkan sakit mata yang cepat timbul, sensitivitas terhadap cahaya, dan kehilangan penglihatan serta ketajaman.
• Patah (fraktur) tulang belakang, terjadi pengeroposan tulang pada tahap awal AS, yang akan memudahkan terjadinya fraktur. Fraktur memperparah nyeri dan menyebabkan perburukan postur.
• Gangguan jantung, AS dapat menyebabkan masalah penyakit jantung koroner dan pembuluh darah lain. Aorta yang meradang dapat melebar yang merusak bentuk katup aorta di jantung serta fungsinya.
• Amyloidosis, kondisi di mana protein amilioid yang seharusnya diproduksi di sumsum tulang belakang justru tumbuh di beberapa organ lain, seperti jantung, hati, dan ginjal.
• Sindrom cauda equin, terjadi penekanan pada saraf di dasar tulang belakang. Kondisi ini menimbulkan rasa sakit di bokong dan panggul, tungkai terasa lemas, sulit berjalan dan mengalami gangguan pada sistem urine.


Perkembangan dari Ankylosing Spondylitis dari sebelah kiri tulang belakang yang normal dilanjutkan di tengah, yang mulai meradang yang berakibat punggung terasa kaku dan nyeri hingga gambar kanan dimana tulang belakang malah menjadi satu.


Diagnosis

Diagnosis awal AS dibuat berdasarkan gejala di atas dan hasil pemeriksaan fisik. Untuk memperkuat diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutanix seperti:
• Tes laboratorium dilakukan untuk memeriksa gen HLA-B27. Namun, gen ini hanya berfungsi sebagai indikasi untuk risiko yang lebih tinggi.
• Tes radiologi, menggunakan X-ray untuk menunjukkan perubahan yang terjadi pada tulang punggung dan sendi, maupun Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk mengetahui diagnosis lebih cepat dan tepat dibandingkan X-ray. MRI dapat menunjukkan kerusakan yang lebih detail dibandingkan dengan X-ray.

Pengobatan

Penanganan dan tindakan yang diberikan bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, memperbaiki kelainan pada postur tubuh, mencegah kecacatan, dan meningkatkan kemampuan pasien untuk kembali beraktivitas secara normal. Beberapa tatalaksana yang dapat dilakukan untuk mengobati AS antara lain:

• Olahraga, dapat membantu mengurangi otot-otot yang kaku dan memperkuat otot di sekitar sendi. Olahraga juga mampu membantu mengurangi risiko kecacatan. Renang merupakan olahraga terbaik yang dapat dipilih oleh pasien penderita Ankylosing Spondylitis (AS).
• Fisioterapi, dapat membantu mengembalikan fungsi tubuh secara normal dan mengurangi risiko cacat permanen karena Ankylosing Spondylitis (AS).
• Obat-obatan konvensional (NSAID, DMARDS, kortikosteroid), digunakan untuk membantu meredakan rasa sakit dan kekakuan pada sendi.
• Obat-obatan biologik (targeted therapies), seperti penghambat TNF Alpha dan penghambat IL-17A.
• Operasi, merupakan pilihan terakhir jika pasien mengalami kerusakan sendi yang cukup parah. Operasi bertujuan untuk mengganti sendi yang rusak dengan sendi tiruan di bagian tubuh tertentu, seperti panggul dan lutut.

Fisioterapi (https://www.clinicafisioeforma.com.br)

Lalu bagaimana dengan PSORIATIC ARTHRITIS (PsA) ?

PSORIATIC ARTHRITIS (PsA)


Ikhtisar

Psoriatic Arthritis (PsA) merupakan penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh mulai menyerang sel dan jaringan yang sehat. Respons imun yang abnormal tersebut menyebabkan peradangan pada persendian serta kelebihan produksi sel-sel kulit. Berdasarkan laporan WHO: ‘Global Report on Psoriasis’ di tahun 2016i, sekitar 1,3 – 34,7% pasien penderita Psoriasis mengalami radang sendi kronis (Psoriatic Arthritis – PsA) yang mengarah pada deformasi sendi dan kecacatan. Sampai dengan 40% pasien Psoriasis akan mengalami PsA.

Baik pria maupun wanita memiliki risiko yang sama terkena PsA. Umumnya, PsA menyerang seseorang yang berusia antara 30-50 tahun. Jika seseorang memiliki orang tua yang mengidap PsA, menambah kemungkinan tiga kali lipat untuk mereka terkena penyakit yang sama.

Penyebab

Sampai saat ini, penyebab PsA masih belum diketahui secara pasti. Namun, para ahli menduga faktor genetik dan sistem kekebalan tubuh kemungkinan memainkan peran besar dalam menentukan seseorang terkena PsA. Baik PsA maupun Ankylosing Spondylitis (AS) memiliki kecenderungan penderitanya positif terhadap gen HLA-B27.

Selain itu, faktor lingkungan juga diduga dapat menyebabkan seseorang terkena PsA – adanya trauma fisik dan sesuatu di lingkungan, seperti infeksi virus atau bakteri dapat memicu PsA pada seseorang yang rentan secara genetik.

Gejala

Gejala PsA antara lain terjadi pembengkakan dan rasa sakit pada persendian, terutama persendian perifer, serta terdapat kelainan kulit berupa Psoriasis. Bagian sendi yang meradang akan terasa lebih hangat. Umumnya, pasien penderita PsA mengalami kekauan sendi pada saat bangun tidur disertai dengan tubuh yang terasa lelah. Tanda-tanda dan gejala PsA sering menyerupai Rheumatoid Arthritis (RA). Kebanyakan penderita juga lebih mudah mengalami obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, penyakit jantung, dan diabetes.

Beberapa gejala umumnya adalah:
• Pembengkakan pada jari tangan dan kaki, terlihat adanya kelainan bentuk di tangan dan kaki penderita sebelum mengalami gejala sakit sendi yang signifikan.
• Terjadinya kelainan kulit berupa Psoriasis.
• Nyeri pada kaki, terutama di titik-titik di mana tendon dan ligament melekan pada tulang – di bagian belakang tumit (Achilles Tendinitis) atau di telapak kaki (Plantar Fasciitis).
• Nyeri pada punggung bagian bawah, beberapa penderita mengembangkan kondisi tersebut sebagai Ankylosing Spondylitis (AS), sebagai akibat dari Psoriatic Arthritis (PsA). Adanya peradangan pada sendi antara tulang belakang dan panggul (Sakroiliitis).
Jika tidak ditangani dengan benar, Psoriatic Arthritis (PsA) akan mengalami beberapa komplikasi antara lainv:
• Kerusakan permanen pada sendi, berkembang menjadi Artritis Mutilans, yang menyakitkan dan melumpuhkan – dapat mematahkan tulang-tulang kecil di tangan, terutama di jari yang menyebabkan cacat permanen.
• Penyakit kardiovaskuler.
• Gangguan mata, seperti uveitis – menyebabkan nyeri, mata memerah, dan penglihatan kabur.

Diagnosis

Banyaknya gejala yang serupa dengan kondisi ini, membuat PsA sulit didiagnosis. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendiagnosa PsA adalahvi:
• Pemeriksaan fisik, dilihat dari tanda-tanda peradangan pada persendian pasien, lalu pemeriksaan ketidaknormalan lain pada kulit dan kuku.
• Tes radiologi, pemeriksaan dengan menggunakan X-ray atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk mendapatkan gambaran detail dari sendi yang meradang.
• Tes laboratirium, dilakukan untuk memeriksa sampel darah dan cairan sendi.
• Pemeriksaan Gen HLA B-27, sebagai prediktor PsA.
Pengobatan
Penanganan dan tindakan yang diberikan kepada penderita hanya bertujuan untuk menekan peradangan pada sendi, sehingga dapat mengurangi nyeri dan mencegah kecacatan. Beberapa tatalaksana yang dapat dilakukan, antara lainvii:
• Terapi panas dan dingin.
• Injeksi steroid, untuk mengurangi peradangan secara cepat.
• Obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID), dapat meredakan nyeri dan mengurangi peradangan.
• Obat anti-reumatik (DMARDS), yang mampu memperlambat berkembangnya psoriasis arthritis dan menghindari kerusakan permanen pada persendian dan jaringan tubuh lain.
• Pengobatan biologik (penghambat TNF Alpha, Penghambat IL-17A)
• Penggantian sendi, sendi yang sudah rusak parah akibat PsA akan diganti dengan sendi buatan melalui pembedahan atau operasi.

https://cdn-img.health.com

Nah, sekarang ada kabar baik bagi pasien kedua penyakit di atas karena mulai Januari 2019, Secukinumab telah mendapatkan persetujuan Badan POM untuk mengobati Ankylosing Spondylitis (AS) dan Psoriatic Arthritis (PsA). Sebelumnya, Secukinumab dinilai efektif mampu membantu pasien Psoriasis untuk mendapatkan kembali kulit yang bersih hingga 90%.

Berdasarkan laporan WHO: ‘Global Report on Psoriasis’ di tahun 2016, sampai dengan 34,7% pasien penderita Psoriasis mengalami radang sendi kronis (Psoriatic Arthritis – PsA) yang mengarah pada deformasi sendi dan kecacatan.

Sementara itu, AS adalah gangguan peradangan kronis yang melibatkan sendi sakroiliaka dan tulang belakang. Hal ini terkait dengan gejala klinis yang berkaitan dengan persendian maupun diluar persendian, termasuk radang sendi perifer, peradangan entesis, peradangan pada mata (uveitis anterior), psoriasis, dan penyakit peradangan usus. Prevalensi AS di Asia Tenggara adalah 0,2%.

Baik pasien AS maupun PsA terkait secara genetik dan klinis, karena keduanya adalah penyakit Reumatik Inflamasi (Inflammatory Rheumatic) yang terkait dengan gen HLA-B27, yaitu gen kuat yang meningkatkan risiko beberapa penyakit reumatik.

Sekitar 85-95% pasien penderita AS dan PsA menunjukkan positif pada gen HLA-B27



Menurut spesialis penyakit dalam dan konsultan reumatologi, DR. dr. Rudy Hidayat, SpPD-KR, 

“Gen ini tidak menyebabkan penyakit, tetapi bisa membuat orang lebih rentan terkena dan menderita AS dan PsA.” Ia menambahkan “Kebanyakan pasien penderita AS dan PsA tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit tersebut. Mereka baru mengetahuinya setelah merasakan peradangan dan rasa sakit yang terus-menerus dan tidak tertahankan lagi hingga menyebabkan gangguan fungsi gerak tubuh. Deteksi dini dan pananganan yang tepat sangat berperan penting dalam memperbaiki gejala (terutama rasa nyeri), fungsi anggota gerak dan kualitas hidup pasien.”

Pasien dengan AS biasanya mengalami gejala seperti peradangan, rasa sakit, dan kekakuan di bagian tulang belakang serta sendi lain, seperti bahu, pinggul, tulang rusuk, atau tumit terutama terjadi di pagi hari. Sementara itu, pasien dengan PsA, umumnya menunjukkan gejala yang mirip tetapi biasanya disertai dengan psoriasis pada kulit, walaupun bisa juga terjadi tanpa artritis.

Pria memiliki peluang 3 kali lebih tinggi untuk menderita AS dibandingkan wanita.Penyakit ini bisa terjadi di segala usia, tapi umumnya mulai berkembang pada masa remaja atau dewasa awal (sekitar usia 20 tahunan). Hanya 5% mengalami gejala setelah umur 45 tahun.

Beberapa alternatif penatalaksanaan yang tersedia saat ini, baik untuk AS maupun PsA, lebih banyak bertujuan untuk memperbaiki kelainan pada postur tubuh, mencegah kecacatan, meningkatkan kemampuan pasien untuk kembali beraktivitas secara normal, dan mengurangi serta menekan rasa sakit dan peradangan. “Saat ini, jenis pengobatan yang banyak digunakan untuk menangani, baik penyakit AS maupun PsA diantaranya adalah obat-obatan non-steroid anti-inflamasi (NSAID), obat anti-reumatik (DMARDs) dan yang terbaru adalah agen biologik. Tersedianya Secukinumab sebagai salah satu pilihan terapi agen biologik, diharapkan dapat membantu menjawab kebutuhan pengobatan pasien AS dan PsA di Indonesia agar bisa mendapatkankualitas hidup yang lebih baik,” papar DR. dr. Rudy.

Selain menggunakan obat untuk mengurangi serta menekan rasa sakit dan peradangan, pasien penderita AS dan PsA juga dapat melakukan terapi fisik. “Terapi ini berperan penting dalam perawatan, karena dapat membantu menghilangkan rasa sakit hingga peningkatan kekuatan dan fleksibilitas. Pasien AS dan PsA dapat melakukan latihan rentang gerak dan peregangan untuk membantu menjaga kelenturan sendi, serta mempertahankan postur tubuh yang baik. Posisi tidur dan berjalan yang tepat serta olah raga perut dan punggung dapat membantu menjaga postur tubuh tegak,” ucap DR. dr. Rudy.


Jorge Wagner, President Director Novartis Indonesia, memaparkan komitmen Novartis Indonesia dalam meningkatkan sistem kesehatan di Indonesia, termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat seputar isu kesehatan. 

“Pasien adalah prioritas kami yang utama. Sebagai perusahaan kesehatan inovatif, Novartis berupaya untuk terus-menerus menemukan cara baru untuk meningkatkan kualitas hidup para pasien kami melalui penyediaan obat-obatan yang berkualitas, program-program edukasi kesehatan, serta menjalin kemitraan dengan pihak-pihak terkait,” 

Novartis telah berkontribusi selama puluhan tahun di Indonesia. Melalui program Continuous Medical Education (CME), Novartis Indonesia telah berhasil melatih lebih dari 10.000 dokter dari berbagai area spesialis, dalam 3 tahun terakhir. 

“Guna memastikan para pasien mendapatkan akses yang lebih baik terhadap obat-obatan kami, kami telah mendaftarkan 24 SKU produk kami dalam terapetik area yang berbeda ke dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Selain itu, dalam dua tahun terakhir ini, kami juga telah berhasil meluncurkan beberapa pengobatan alternatif untuk lima bidang terapi yang berbedaantara lain adalah psoriasis, gagal jantung penyakit retina, tumor neuro-endokrin, dan leukemia granulositik kronis,” 

Jadi buat teman - teman yang tiba - tiba mengalami gejala Rematik, jangan malu dan takut untuk konsultasi ke dokter ya. Karena di bagian Rematik saja ada kemungkinan termasuk 150 penyakit di sana.

Mari berkonsultasi yang benar. Bukan hanya sekedar katanya atau kabarnya.

Salam Budaya!



#ankylosingspondylitis #psoriaticarthritis #innovativetreatment #biologicagentforASandPSA

Komentar