Hikayat Tarot Darma - Santet



Siang itu henponku berbunyi. Dari ujung sana terdengar suara seorang Ibu bernada penuh dengan kebimbangan, "Ah. Seandainya, Mas Dedy tidak repot. Malam ini bisa mampir ke rumah, nggak? Kami ada urusan penting yang harus dibicarakan, dengan rahasia dan secepatnya."

Aku mendehem dan berusaha menenangkannya dengan beberapa kalimat. Ibu itu masih terdengar gelisah. "Saya, eh kami tidak mau menjadikan ini sebagai bahan obrolan umum. Ini masalah keluarga, mas Dedy".

Aku mengulang 'Saya Mengerti' keenam kalinya dan Ibu itu mulai tenang dengan menyebutkan jam delapan serta alamat lengkapnya sebelum memutuskan pembicaraan. Pertanda aku memang harus siap di sana beberapa menit sebelumnya.

Aku melempar henpon dan berpikir sejenak lalu mencoba tidur. Posisi seorang klien Tarot hampir selalu begitu. Mereka adalah pihak yang bermasalah dan selalu berusaha menekankan kalau masalahnya memang adalah sesuatu yang benar - benar dirahasiakan. Ya, tentu saja.

Aku senyum dan terlelap beberapa saat kemudian.



Cuaca di kota Jember beberapa tahun belakangan ini basah dan dingin. Mengigil rasanya tubuh ini bila aku tidur di kamar tidur tamu, di sebelah ruang tamu. Tapi apa daya. Rumah ini telah terisi semua kamarnya. Aku bukan lagi penghuni utama rumah di rumahku sendiri. Bertahun - tahun lalu aku sudah pergi kuliah dan bekerja. Aku datang beberapa kali dalam setahun memang sengaja ingin beristirahat atau memang merasa harus pulang.



Sungguh semasa SMA dulu Jember terkesan biasa - biasa saja. Tuduhan orang selama ini kalau Jember kota yang terletak di pinggir pantai yang akhirnya berakibat menjadi kota yang berudara panas sebenarnya tak pernah terbukti. Kalau dibanding Surabaya, panasnya jauh sekali bedanya. Tapi entah kenapa sekali lagi Jember makin dingin. Pemanasan Global kah? Tapi bukankah efek dari pemanasan global itu seharusnya malah meningkatkan suhu? Ini tidak. Efeknya adalah setiap aku pulang ke Jember paling tidak seminggu lamanya, aku pasti diare. Bukan karena makanan pedas yang aku santap tapi lebih karena perut kembung. Bahkan kabarnya Bapak - Bapak pengendara motor dan juga Tukang Becak yang setia menjemput anak sekolah mereka, mengeluh karena mereka jadi punya rasa malas untuk bangun. Dingin, katanya.



Jalanan menuju ke daerah kampus lumayan sepi malam itu. Remang cahaya lampu kota menyinari sepanjang jalan Jawa, tempat Ibu tadi mengarahkan alamat rumahnya. Sebentar saja aku sudah sampai di rumah yang besar dengan pagar luar yang tinggi. Penjaga rumah yang sepertinya telah diperintahkan untuk menyambut, terburu - buru menyilakan tapi tetap bersikap ramah. Ditunggu sama bapak dan ibu, katanya.



Aku menurut saja dan mengikutinya melewati taman depan rumah yang mewah yang jelas - jelas menceritakan betapa kayanya orang ini. Kami menelusuri beranda dan melewati pintu klasik coklat dan menuju ke ruang tamu dengan langit - langit yang tinggi. Lantainya begitu dingin karena itulah aku copot sendal. 



Aku menebar senyum ke seluruh sudut ruangan yang telah terisi oleh lima orang dan satu - satunya wanita di situ tentunya adalah Ibu yang telah menelpon aku beberapa hari yang lalu. Kelima - limanya tersenyum sedikit malah terkesan kaku. Mungkin karena mereka usianya sudah banyak dan ragu untuk menyapa ke orang yang belum tahu urusannya apa.



"Silakan duduk, Mas. Mau minum apa? Biar mas Aji yang bikin," ujar Ibu itu memulai. Mas Aji tentu saja sang pembantu lelaki yang mengantarku tadi.



"Teh hangat, Ibu. Terima kasih," jawabku dengan sopan sambil menatap keempat bapak - bapak lain yang sepertinya memang bukan orang biasa.




Beberapa menit kemudian Ibu itu menjelaskan, "Saya pikir, semua pembicaraan yang kita lakukan hal ini adalah berujung di ruang ini saja," ujar Ibu itu dengan kaku. Seumuran sekitar 50 tahunan, ia adalah seorang kepala suatu Institusi yang terkenal di Jember. Ia sepertinya bertugas sebagai juru bicara mewakili keempat pria lainnya yang terlihat sepantaran.



"Saya sepenuhnya paham, Ibu. Dan Bapak - bapak", jawabku sembari berdehem dan mengamati ekspresi bapak - bapak lain yang sepertinya menduga - duga siapa aku.



Mas Aji datang membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa kaleng biskuit. Mataku berbinar. Udara dingin setidaknya membuat perut sedari tadi mulai sedikit berontak.



"Sambil diminum, ya, Mas". Suara Ibu itu merupakan perpaduan kelembutan dan ketegasan. Kedengarannya seperti menyuruh. Aku nurut saja, sebenarnya tidak takut tapi segan.



"Bapak di sebelah Saya ini adalah Bapak Suwarno, dia adalah Kepala Institusi A. Dia yang sebenarnya yang bermasalah. Saya iparnya beliau. Di belakang Saya ini adalah adik - adik Saya. Ada Bapak Sugiyono, Kepala Dirjen B dan Bapak Sumarmo, Kepala Institusi C. Mereka pengen tahu analisa dik Dedy. Siapa tahu bisa jadi masukan."



Ketiga Bapak itu tersenyum dengan klasik. Aku membalas dengan sopan dan mulai merasa gelisah. Kenapa dengan orang - orang ini? Kenapa mereka tidak pergi ke orang pintar saja? Kenapa mereka tak menemui pak Kyai misalnya? Kenapa mereka memilih aku? Tarot Reader pemula?



Bapak yang botak berdehem seakan mengerti apa yang kutanyakan. "Kami tidak bisa sembarang cerita ini ke orang lain, Mas Dedy. Sebenarnya antara penting dan tak penting. Tapi kami rasa cerita dan memilih mas Dedy sebagai orang yang bisa dipercaya sudah kami pertimbangkan sebagai salah satu kemungkinan terkecil, bila seandainya, yah, Mas Dedy membocorkannya. Orang pun takkan gampang percaya."



Sebuah alasan miris tapi benar juga adanya. Siapa aku? Orang akan mengabaikannya kalau aku bertindak ceroboh berusaha membocorkan dan menceritakan kisah malam ini ke sembarang orang.



Aku mengangguk. Memahami dan seakan mempersilakan Bapak Suwarno untuk melanjutkan. 


Bapak Suwarno memang terlihat sinis, dia menyelidik, "Mas Dedy percaya santet, kah? Mas Dedy bisa tahu dan melihat siapa yang mengirim santet, bila kita tanya?"



Seketika aku pucat. Sumpah, keringat di dahi ini turun dan ukurannya benar - benar membuatnya menggelinding karena saking besarnya. Ini konsultasi atau sidang Skripsi sih? Aku benar - benar berdoa kepada Allah dan meminta segala kuasanya untuk membantuku menjawab pertanyaan berat ini. Keempat orang itu masih diam menunggu jawabannya.


Santet adalah upaya seseorang untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh dengan menggunakan ilmu hitam. Santet dilakukan menggunakan berbagai macam media antara lain rambut, foto, boneka, dupa, rupa-rupa kembang, paku dan lain-lain. Santet sering dilakukan orang yang mempunyai dendam karena sakit hati kepada orang lain.


"Begini, Bapak - Bapak dan Ibu. Seandainya suatu malam, Saya berjalan sendirian di Jalan Raya. Suasana sepi, tanpa lampu, gelap. Tiba-tiba dari arah belakang Saya dipukul oleh entah siapa itu dan Saya langsung pingsan. Tentu saja hal yang sangat sulit dan tidak masuk akal kalau Saya bisa menjawab siapa yang memukul Saya itu. Apalagi dalam kasus Santet seperti. Yang dalam hal ini adalah gaib dan kiriman," aku menjawabnya seraya meniupkan udara kosong di atas telapak tangan seolah menggambarkan hal ini adalah suatu hal yang berkaitan dengan sihir atau di luar akal sehat. Jujur di akhir kalimat sebenarnya senyumku tercuat kecut. Jawabanku pintar atau biasa aja sih?



Bapak Sugiyono melepas silangantangannya pertanda membuka diri. "Saya suka jawabannya, mas Dedy ini. Dia lebih masuk akal daripada beberapa orang yang kita datangi dari kemarin. Logis. Ini yang Saya tunggu - tunggu."



Aku berteriak dalam hati dan mencoba tersenyum dengan kikuk.



"Ceritakan saja semuanya," ujar Bapak Sumarmo. "Biar dia analisa sendiri nanti". Ia menoleh ke Ibu Sumarni sesaat dan menyapu pandangannya ke seluruh ruangan meminta persetujuan. Semua orang mengangguk. Ibu Sumarni mulai bercerita.



"Bapak Sugiyono ini kena santet, Mas. Dia sudah sakit berbulan - bulan. Tapi sudah berangsur - angsur membaik. Sudah ditangani oleh beberapa orang 'pintar'. Ya lumayanlah. Sudah tak seperti dulu. Kami gak usah cerita betapa sakitnya beliau dulu. Cukup di sini. Yang jadi perhatian kami, walaupun kami sudah bertanya, soal hal ini, tanpa lelah ke beberapa orang yang mampu 'melihat'. Pertanyaan kami tetap sama. Siapa sih Mas yang berbuat itu kepada Bapak? dan apa motifnya? Ini sebenarnya bukan lagi dendam. Kami, Pak Sugiyono mau introspeksi. Mawas diri. Tahu diri. Apa yang salah dengan dirinya. Buat bekal nanti, Mas".



Aku keringatan lagi. Kali ini yang keluar lebih dingin menuruni tengkuk yang merinding bukan karena takut hantu tapi entah kenapa. Takut tak bisa menjawab apapun. Mataku menginsyaratkan minta ijin minum. Ibu itu mengiyakan dengan roman muka putus asa. Sekiranya aku tak bisa menjawab tampaknya dia juga bakal paham.





Kami bertemu di kawasan kota seminggu yang lalu. Aku sedang bermain ke sana dan tiba - tiba mendadak menerima klien lewat WA. Daripada bekerja di food court yang lapang tapi berisik, selintas ada ide kenapa tak pergi ke perpustakaan saja. Pasti di sana lebih sepi. Aku memilih tempat di tengah yang bermandikan sinar matahari yang malah jarang dipilih siswa. Sepi dan hanya ada seorang Ibu yang sedari tadi mengawasi gerak - gerikku. Sedikit menggelisahkanku tapi aku sadar aku seharusnya tak melakukan kesalahan apa - apa. Jadi aku cuek saja dan mulai mengocok, menebarkan kartu dan mulai menjawab artinya lewat hape.



Asumsiku ternyata benar, Ibu Pengawas Perpustakaan itu tak lama mendekati. Aku hanya bisa pasrah kalau memang diusir. Tapi seingatku aku diam tak membuat gaduh. Dia hanya membungkuk rendah dan dengan sopan mengatakan kalau aku sekiranya bisa dipanggil ke rumahnya atau tidak, dan minta nomor whatsappku.



Dan keringatku masih lumayan mengucur. Perlahan dari pelipis ke hidung.


Aku berdoa. Kali ini lebih serius. Ya Allah ini tidak main - main. Ini sepertinya berkaitan dengan hidup matinya seseorang. Bagaimana kalau Pak itu meninggal karena disantet. Kan ... Wew.


Aku mulai membuka kartuku.




Nafasku berhenti sejenak. Tidak dramatis tapi memang sekedar menambah keyakinan. Di arti bacaat Tarot. The Devil ini memang mewakili Guna - Guna atau dalam bahasa lokalnya santet.



"Oh, ya?". Ibu itu dengan takjub dan mengirim sinyal kekagumannya menyapu ke seluruh iparnya itu. "Jadi, siapa yang melakukannya, mas Dedy? Dan apa tujuannya?". Pertanyaan itu lagi - lagi muncul.



Aku membuka lagi kartu berikutnya.




"Ia adalah teman dekat, Bapak. Kemana - mana selalu berdua. Sekolah. Berangkat sekolah. Lulus. Kuliah. Mencari Pekerjaan. Berkarier. Selalu berbarengan. Berdua. Kemana - mana. Tapi ... Begitu Bapak mendapatkan promosi atau kenaikan pangkat. Teman Bapak ini tak mendapatkan apa yang ia kira dapatkan. Dia hanya di situ saja. Tak beranjak. Tak kemana - mana. Begitu Bapak menjadi Kepala. Di hatinya cuma tersisa kejengkelan. Iri."



Semuanya terdiam. Tercekat. Entah sebenarnya apa yang dipikirkan para Bapak dan Ibu itu. Kagetkah? Atau bahkan salahkah?



Beberapa saat kemudian terdengar desahan napas yang aku yakin itu napas kelegaan. Muka Ibu itu jadi lebih terang saat ia mendekat.



"Kamu benar, Mas. Paling tidak itu kesimpulan kita selama ini. Memang benar ada teman Bapak yang sejak SMA menjadi bayang-bayangnya. Apapun yang terjadi sebenarnya dia adalah teman yang terbaik bagi Bapak. Mereka pun masuk Instansi E bareng - bareng, tapi entah karena nasib Bapak lebih baik. Si teman Bapak ini lama - lama tertinggal jauh dan merasa apa yang dilakukan tak lagi setara dengan Bapak. Bapak sudah mencoba berbagai hal untuk membantunya tapi tetap saja nasib berkata lain. Seakan - akan memang kemujuran ada di pihak Bapak".



"Jadi begitulah. Kami pikir malam ini cukup jelas ya mas Dedy. Mas Dedy ada rekening BCA kan? Nanti kalau ada apa-apa atau ada informasi lebih lanjut. Saya hubungi mas, lagi".



Aku mengangguk dan meminta diri.



---



Seminggu berlalu. Suatu siang Ibu itu telpon.



"Maaf mas Dedy. Semuanya sudah terbongkar dengan jelas. Terima kasih atas bantuannya selama ini. Hari ini teman Bapak itu meninggal dan istrinya sore mampir ke rumah untuk membawa pesan terakhir dari suaminya. Ia minta maaf karena telah selama ini membuat hidup Bapak sengsara. Ia dengan mata kepalanya sendiri sering melihat suaminya ini menebar sesuatu di sekitar rumah Bapak untuk menambah kesialan bagi Bapak. Kiranya jelas ya? Siapa pelakunya?".



Aku terdiam.



Ini kasus santet pertamaku.









Komentar

  1. Wow! Sakti juga awakmu ternyata.. salut..

    BalasHapus
  2. Mantul banget bisa santet, ajarin dong kak

    BalasHapus
  3. Thanks for sharing, sukses terus,.

    BalasHapus
  4. Enak kalo pasoennya bisa introspeksi kaya pak sugiono, dan emg gara2 iri yo... Nek gara2 dendam, pasien e biasane ya ga rumongso salah... Repot ngomong e

    BalasHapus

Posting Komentar