MENGGURITA - 005 - KELINCIKU OH KELINCIKU




KELINCIKU OH KELINCIKU 

Mengenal sosok pak Maryanto jadi semakin terasa menarik dan membuahkan banyak pertanyaan tambahan, karena mas Eko sendiri bisa menceritakannya dengan gaya kocak. 

“Mas, besok saja, lanjut ceritanya, ya? Mas Dedy harus tidur. Ayo kali ini benar – benar kita ke lantai tujuh ke Kamar Kelinci.” 

Beberapa tangga tetap menunjukkan sisi gelap. Hanya di lantai 6 ada semacam bordes yang dindingnya berhiaskan mosaik kaca yang pastinya kalau pagi akan memancarkan sinarnya yang bakal menembus semua lantai. Aku tidak mengerti siapa yang merancang seluruh ruangan ini. 

Kami sampai di lantai tujuh. Aku tak begitu hapal mana lantai berapa dan apa namanya. Kami tiba di tempat yang seluruh lantainya tertutup kayu mengkilap. 

Aku tertegun sejenak. 

Mas Eko memahami dan mempersilakan untuk masuk. 

Inilah ruangan itu. Semuanya berlapis kayu mengkilat. Dari lantai, tembok, langit – langit dan seluruh furniture. Mereka lengkap dan tertata rapih. Ada semacam perpustakaan yang dilengkapi dengan meja minum teh untuk menemani membaca buku dengan santai. 

Tapi semuanya berukuran mini. Seukuran kelinci. 



Aku tercekat. Mas Eko menangkap mimik mukaku yang aneh. 

“Untuk apa pastinya dibikin kecil ya, sampeyan pasti bertanya begitu, kan?”. 

Kami duduk. Saking kecilnya, walaupun masih bisa diduduki kursinya, tubuhku langsung melengkung dan kesempitan. Kami seperti berada di dunia Alice. Ya. Itu. Apakah itu alasannya? Apakah itu konsepnya? 

Pemandangan di luar malah semakin membuat lebih takjub lagi. Ternyata ada balkon yang menghiasi ruang kelinci. Perasaanku jadi kacau. Untuk ukuran orang aneh, bisa jadi Pak Maryanto itu aneh. Atau gara – gara dia kaya terus menjadi aneh dan membuat ruang – ruang yang aneh? Atau orang kaya itu memang aneh – aneh? 

Sesaat pikiran itu hanya menjadi awang – awang. Semuanya hilang karena pemandangan Malang, atau Pasuruan atau entah kota apa terhampar karena memang terlihat sangat cantik. Lampu – lampunya membentuk hiasan mirip kapal UFO yang mendarat di suatu bukit. 

Indah saja. Gitu saja. Aku bukan orang yang terlalu romantis. Udara dingin membelai pipiku dan beberapa saat kemudian aku merasa mengantuk. 

“Sampeyan sudah ngantuk, mas?”, tanya Mas Eko dengan matanya yang menyembul. 

Aku mengangguk. 

“Hati – hati, ya kepentok. Mas kan tinggi. Aku tidur di lantai 1. Kalau ada apa – apa, lapar atau apa bilang saja. Sampai jumpa besok pagi.” 

Aku menoleh ke dinding seberang. Ada pintu kecil hanya berukuran 80 cm. Gebyok kecil tepatnya. 

Astaga. Itulah kamar kelinci itu? 

Ya Allah, please help me. Tinggi badanku itu 181 cm. Aku hanya meringis menatapi pintu itu. Perlahan aku jongkok dan mulai membuka pintunya yang kuncinya juga terbuat dari kayu yang hanya perlu digeser. 

Aku merangkak dan mencoba berdiri. Jadinya aku harus membungkukkan tengkuk dan itu sia – sia. Kepalaku tak bisa berdiri tegak. Di dalam kamar mini ini hanya berisi kasur tipis, selimut atau mungkin semacam bed cover dan bantal. Itu saja. Aku memasukkan tasku dan mulai berganti dengan baju longgar untuk tidur dengan usaha yang sangat susah payah karena memang tidak mungkin berdiri dengan sempurna. 

Aku mengumpat tapi akhirnya tertawa. 

Beberapa menit kemudian dengan melihat cahaya yang ada di ujung kaki, aku tertidur. 

Sumpah. 

Ada apa ini. Hanya lima menit aku tidur, selimutku yang terbuat dari batik terangkat. 

Aku bengong. Antara takut dan takjub. Selimut itu terangkat dan hampir membuatnya melayang. Tiba – tiba dengan lembut keluarlah dari dalam selimut lingkaran berwarna hijau. Ia melayang sejenak. Bola itu seukuran 2 kali lipat kepala manusia, warnanya terang serupa hijau batu giok. 

Aku amati saja. Dadaku berdegup tapi aku cukup tenang. 



Aku tidak mimpi. Karena cahaya lampu yang berasal dari api patung Ken Dedes di belakangnya mampu membuat perbedaan warna. Mana yang coklat keemasan mana yang hijau mengkilat. 

Ya Allah. Sumpah. Sumpah. Sumpah. Apa ini? 

Herannya aku merasa tak takut seperti yang aku bayangkan. Aku hanya berdoa. Membaca ayat kursi dan berharap itu segera berlalu. Beberapa detik bola itu melayang dan segera kembali ke selimut dan masuk ke dalam tubuhku lagi. 

Ada perasaan sejuk. Ya, sejuk mengisi sekujur tubuhku. 

Aku tidak takut. Aku malah merasa nyaman. 

Sekejap aku lupa dan tertidur. 

--- 

Di lantai tiga sudah ada beberapa orang yang siap bekerja. Mbak Yuyun dan Mbak Wiwik sudah cantik dan memberikan senyumnya. 

Waktu aku turun, beberapa wajah yang asing menunjukkan air muka bertanya – tanya tapi entah apa maksudnya. 

“Pagi, mas Dedy,” sapa mbak Yuyun. 

Aku menjawab, Pagi dan tersenyum balik. Mbak Yuyun malah tertawa dan melayangkan pandangan ke beberapa orang. 

“Eeh .. mm, tidurnya nyenyak?”, sambungnya. 

Aku menjawab, “Alhamdulillah, iya”. 

Mbak Wiwik bertanya lebih lanjut dengan keheranan, 

“Tidak ada gangguan apa – apa? Begitu saja? Tenang?”. 

Aku tidak ingin bercerita kejadian tentang Bola Hijau itu. Belum. Aku lagi – lagi mengangguk. 

Mas Eko menimpali, “Berarti mas Dedy hebat!”. 

Semua jadi mengeluarkan bebunyian yang bernada kekaguman. Ada beberapa staf yang gak kukenal pagi itu, beberapa laki – laki dan satu orang perempuan terlihat kaget. 

“Tidak ada sesuatu yang terjadi, Mas?”, tanya mbak Wiwik dengan aneh. 

Aku menggeleng dan mencoba duduk dengan tenang dan masih belum paham kenapa mereka menanyakan hal itu. 

“Kami itu sebenarnya memang sengaja menempatkan untuk Mas supaya tidur di Kamar Kelinci. Semua orang baru biasanya kami kerjain untuk tidur di tempat itu, Mas. Karena memang berhantu. Ada penunggunya. Hampir semua menyerah, mas. Ada yang teriak – teriak. Ngomel dan pindah malam itu juga. Semuanya selalu nggak kuat. Karena mereka semua mengalami hal yang aneh – aneh di situ.” 

Aku mencoba menerima dengan santai. 

“Biasanya mereka ketemu dengan apa atau diganggu oleh apa?”. 

Mbak Wiwik dengan sedikit rasa takut menjelaskan. 

“Macam – macam, Mas. Pocong. Setan. Ndas Glundung (Kepala yang Menggelinding), Kuntilanak, lah”. Ia terlihat begidik 



Pak Maryanto tiba – tiba muncul dengan pakaian rapih, 

“Kalau mas Dedy bertemu dengan apa?”, senyumnya menyelidik. 

Aku terbatuk dan mencoba jujur, 

“Bola hijau yang terang sekali, Pak”. 

Semua mentertawakannya. Pak Maryanto menganggap jawabanku sebagai sebuah guyonan. 

“Ada – ada saja kamu, Mas”. 

Aku makin tidak paham. 





BERSAMBUNG

Komentar

  1. Hahahaaaa..ngebayangin Sosok tinggi besar tidur di kamar kelibci, hadudu..

    Ih keren yaa, orang lain dapet hadiah hantu mas Dedi Bola api. Berkah tuh, jangan2 nambah kekuataan, berubah jadi peramal ulung eaah..

    BalasHapus
  2. Aku setia menanti seri cerita berikutnya Om šŸ˜

    BalasHapus
  3. duh telat bacanya... makin penasaran ama seri 6 nya

    BalasHapus

Posting Komentar