MENGGURITA - 007 - PAK MARYANTO




BAPAK MARYANTO 

Beberapa hari aku sudah mulai terbiasa dengan ritme dan cara kerja di sini. Sebagai penyemangat, dipekerjakanlah dua orang gadis untuk meringankan pekerjaan karena memang ternyata pekerjaan Mbak Wiwik selama ini terlalu luas cakupannya. Satu bernama mbak Dwi, seorang auditor dan mbak Hani, dia, semacam, asistenku lah. 

Kamar kelinci sudah menjadi sahabatku. Aku tertidur nyenyak selalu setelah jam 8 malam karena memang lelah sekali mengerjakan apapun yang terjadi di rumah ini termasuk tugas terbaruku. Apa itu? 

Membayar Para tukang. 

“Apa, pak?”, tanyaku gelagapan. 

Pak Maryanto sepertinya memang penuh dengan kekuasaan dan tak boleh disalahkan. 

“Kamu kan lulusan Teknik Arsitektur. Ya. Pasti punya pengalaman dengan yang namanya Tukang. Pekerjaan Proyek. Begitu – Begitu.” 

Itu mah namanya pekerjaan tambahan. Aku terikat dengan rumah ini sekarang. Mulai makan, ngantor sampai mengurusi pembantu dan para tukangnya. 

Pagi sekitar jam 7 aku akan menyelinap ke kantorku di lantai satu. Oh ya, sebagai info saja, kantorku ini hanya punya dua kunci, satunya aku yang pegang dan yang lain langsung dipegang pak Maryanto. 

Aku akan mandi di kamar mandi situ. Ganti sebentar dan duduk di kursi yang berputar kayak direktur yang ada di sinetron. Menunggu mbak Hani dan mbak Dwi datang. Biasanya mbak Dwi datang, menyapa dengan ramah dan langsung duduk di mejanya yang ada di ruang depan. Sedangkan mbak Hani akan menghampiri dan menanyakan kalimat yang menjadi impian semua orang, 

“Pagi, mas Dedy. Hari ini mau minum apa?” 



Sesederhana itu ya bahagia. Memang kerja di Perusahaan milik Pak Maryanto sepertinya harus begitu. Aku hanya sering menghela nafas. Karena entah kenapa, ada saja yang belum pas dengan semuanya. Aku merasa kalau ada beberapa hal yang belum tepat atau tidak semestinya. Tapi entah itu apa. 

Aku menghadap beliau malam itu. 

“Saya, kita, maksud Saya, butuh Komputer, Pak. Tentunya dengan jaringan internet yang memadai. Jadi penggunaan kertas, pengiriman fax beserta buktinya bisa kurangi dan tentu saja kita bisa menghemat uang banyak sekali dengan bantuan teknologi.” 

Pak Maryanto manggut – manggut lagi. Dia selalu tersenyum. Lama – lama aku nggak suka. Jangan – jangan itu bukan senyum keramahan. Ada apa di balik senyum itu? 

“Saya itu tidak suka dengan komputer”. 

Cukup tahu saja. Setiap kami berdiskusi menghitung harga yang harus berganti 8 kali. Saya menggunakan kalkulator. Pak Maryanto menggunakan sipoa. 



“Saya tidak suka dengan teknologi”, ia melanjutkan, ”Saya masih punya otak Saya, Mas Dedy. Masih bisa diandalkan. Eh ini bukan berarti Saya takkan mengabulkan apa yang mas Dedy usulkan ya, tapi Saya piker memang anak – anak sekarang itu kadang, hanya bisa mengandalkan hal lain tapi bukan dirinya sendiri.” 

Aku meringis. Aku sebenarnya agak takut – takut sama pak Maryanto. Mungkin karena aku tidak mengenal beliau sama sekali. Tidak tahu mana sebenarnya wujudnya yang asli. 

“Anak – anak muda sekarang tak pernah takut kalau suatu hari mereka tak punya apa – apa. Atau mungkin kita gak pernah bisa selamat. Atau mati.” 

Aku meringis yang kedua kali. 

“Ayo kita pergi ke Ruang Raksasa”. 

Aku menuruti saja. Kami melewati kursi raksasa di lantai dua. Sekali lagi aku merinding karena seluruh dinding dan atap ruangan dilapisi kain penutup yang biasanya hanya digunakan sebagai penutup jenazah saat dimandikan. 

“Kamu pasti bertanya – tanya ya, kenapa seluruh dinding dan langit – langit aku pasangin jarit itu?” 

Aku mengangguk. 

“Aku itu merasa selalu harus ingat akan kematian. Kan jarit itu biasanya untuk memandikan jenazah kan? Di situ aku selalu ingat bahwa hidup itu tidak boleh sombong”. 

Aku merinding. 



“Saya mulai semuanya ini dari bawah, mas Dedy. Dari seorang pegawai kecil yang mencari tambahan dengan menjual alat – alat musik kecil dan sederhana, dari pintu ke pintu. Door to door. Sampai akhirnya bisa membangun bisnis kecil – kecilan dan tumbuh seperti ini. Jadi Saya menghargai atas apa yang Saya kerjakan, Mas Dedy.” 

Aku cukup mumet memperhatikan ruangan yang seperti menimpa kepalaku. Tapi ini belum seberapa. Pak Maryanto mengajak ke ruangan yang lebih dalam di lantai dua itu. 

Kami tiba di suatu ruangan pojok yang memanjang. Di salah satu dinding terbentang cermin besar berukuran raksasa pula 2 kali 10 meter. Cermin itu berbingkai kayu coklat muda yang cukup tebal. Cantik dan terlihat kokoh. 

“Tapi Saya orangnya ini penakut, lho mas Dedy. Sekarang bagi Saya, dunia ini dipenuhi dengan orang yang mau segalanya instan. Banyak orang jahat. Ngeri kan jadinya. Kita padahal merasa sudah baik – baik sama orang, eh ternyata sebaliknya. Saya takut. Saya masih punya rasa takut, mas Dedy. Saya kan nggak tahu nasib ya, siapa tahu tiba – tiba Saya dirampok dan ada yang bunuh Saya. Ngeri, kan?” 

Aku mengangguk dan tetap belum paham. 



“Makanya Saya buat ini, mas Dedy”. Beliau menggeser satu panel entah dari mana dan mendorong dengan lembut cermin raksasa itu. Perlahan ia terbuka dan memperlihatkan lobang yang cukup besar. Hitam dan menganga. 

“Ini bunker, Saya, mas Dedy” 

Aku tak berani melongok ke dalam. Aku jenis orang yang fobia terhadap ruang tertutup. Aku meringis ke sekian kalinya. 

“Jadi kalau ada rampok atau seseorang yang berniat membunuh, Saya akan sembunyi di sini, Mas Dedy. Di sana ada beberapa persediaan untuk bisa hidup selama beberapa hari.” 

Bagaimana? 

Ada kata lain lagi sebagai pengganti: Aku Meringis? 



BERSAMBUNG

Komentar

Posting Komentar