KISAH AL-QUR'AN DAN DURIAN

 


KISAH AL QUR'AN DAN DURIAN


Gedung Jamsostek di jam 9 pagi masih lengang. Rejeki nomplok, pikirku. Aku mendapat job membaca Tarot dari sebuah bank berwarna Kuning, yang salah satu kantor cabang kecilnya ada di lantai satu, di pojok ruangan.

Mujur mungkin, karena event ini beruntun setelah selesai dari keseluruhan tur 10 bank berwarna merah. Karena percaya atau tidak, salah satu Kepala Cabang Bank Merah itu ternyata kini menjadi Kepala Cabang Bank Kuning. Dia yang membawa aku ke sini. Berarti ada kepuasan di pelayanan pekerjaanku di situ. Alhamdulillah.

Ruangan itu begitu dingin mungkin habis dipel karena undangan Aku bekerja baru jam 10 pagi. Aku sudah bersiap dan masuk ke lobby sejam sebelumnya. Lobby itu dihiasi beberapa benda berwarna kuning terang yang ditumpuk sebagai pemanis dan bertuliskan dengan kalimat yang merayu dan menarik sebagai hadiah yang bisa dibawa pulang bagi mereka, nasabah baru yang membuka rekening.

Barang-barangnya cakep. Enak dipandang mata. Duffle bag, payung besar, dan pernak - pernak kecil macam tas, buku serta bolpoin. Khas suvenir di beberapa acara di bank.

Duh, kenapa aku tertarik ya? Apalagi aku belum punya payung sebesar itu. Apa aku harus membuka rekening baru, ya?

Aku menyadarkan diri, banyak rekening juga tak berguna bila tak ada isinya. Kenyatan kecut tapi bikin senyum - senyum sendiri.

Salah satu keistimewaan dari pekerjaanku sebagai Tarot Reader ini, kalau diundang nglapak di tempat seperti bank, biasanya hal yang sangat wajar bila kedatanganku nanti akan langsung disambut oleh Kepala Cabangnya. Entah ya, kan, beliau bisa saja mengutus salah satu anak buahnya untuk mengurus segala sesuatunya.

Tapi ini, sepertia biasa tidak. Senyum Bapak Kepala Cabang U ini mengembang dan mengingatkan kalau lama kita tidak bertemu sebagai sindiran kalau sebenarnya kita tidak mengalami itu tapi jadi makin terasa karena dia sudah berada di tempat kerja dan bank yang berbeda.



Bapak U memang terbaik, setelah menyapa dengan sopan dia mempersilakan langsung masuk ke tempat praktek yang telah disediakan. Ruangan khusus yang dirancang agar nanti nasabah privillage yang diundang akan mendapatkan bacaaan Tarot di perayaan Imlek waktu itu. Mejanya berhiaskan taplak merah dengan tulisan huruf China keemasan.

Pas jam 10. Bapak U melihat sekilas arlojinya yang harganya gak main main itu.

"Mas, nanti waktu break, pas makan siang ya. Atau kalau mau sholat. Jam 12. Sejam istirahat, ya. Nanti lanjut lagi".

Aku mengangguk bahagia.

"Kalau mau makan dan jalan - jalan. Di ruangan samping ada hall besar. Di sana ada semacam pameran atau jualan makanan. Kayak Bazaar gitu. Pergi ke sana aja, Mas. Enak - enak lho".

Aku tersenyum saja.

Baik banget, Bapak U ini.

Antrian ternyata mulai berdatangan, kebanyakan memang di antaranya nasabah Chindo karena memang ini untuk merayakan Tahun Baru Chinese.

Let's start to work. Kerja yang menyenangkan.

Tak berapa lama kemudian sepertinya sudah waktunya istirahat. Aku celingukan berharap bertemu dengan Bapak U atau stafnya. Berharap ada sedikit, mungkin, ada jatah makan siang. Tapi ternyata tidak ada apa-apa. Sepertinya dengan jaminan bayaran segitu, makan siang sudah menjadi tanggung jawab pribadi.

Okaylah.

Tepat seperti yang diceritakan, di ujung lorong ada pintu yang begitu masuk ada hall besar. Di dalamnya kayak ada semacam Bazaar yang dipenuhi orang jualan. Mirip bazaar umum di mall mall. Jualannya bermacam-macam mulai pakaian, sendal, pernak pernik sampai tentu saja ada makanan. Itu yang aku cari.




Banyak jualan yang menarik, tapi seperti biasa, aku akan mencari yang benar - benar bisa menggugah selera untuk makan. Mata ini langsung terbelalak sewaktu ada satu booth yang menawarkan sesuatu yang selama aku ini cinta, suka dan damba. Apa itu?

Pancake Durian. 

Luluh runtuh hati ini melihat jajanan ini. Ngiler seubun-ubun rasanya. 

"Berapa harganya, mbak?"

Aku tidak mendengar, waktu kakak penunggu Pancake itu menjawab 200 ribu rupiah. Yang terbayang-bayang di mataku hanyalah betapa menariknya, warna - warninya dan betapa lezatnya pancake itu kalau dikunyah dan mengeluarkan aroma durian yang khas dan menyengat.

Dua ratus ribu? Sekotak? Ada 30 biji pancake yang berjajar menonjolkan keempukannya, membuat hati ini bergetar dan menggedor kata BELI, BELI, BELI.

Jujur, rasa laparku hilang dan mulai merasakan betapa lezatnya rasa Durian yang lumer itu memenuhi gelegak perutku yang meronta akan rasa yang jarang kutemui di Jakarta dan memahami bahwa harga segitu adalah harga yang sangat, sekali lagi, SANGAT terjangkau.

Seeorang menyapaku dari arah yang belakang punggung,

"Assalamu mualaikum, kakak?"

"Waalaikum salam". Aku menoleh dan mendapati gadis berhijab dengan senyum yang manis sekali.

Dia menyodorkan semacam brosur dan mulai bicara dengan kalimat sederhana,

"Al Qur'annya, kak?".

Ha? 

Terus terang aku agak kagok dan kaget. Ada orang atau booth yang menawarkan Al Qur'an di bazaar penuh dengan pakaian dan makanan ini?

Wait. Seketika obrolan nikmatnya durian di pikiranku buyar.

Entah kenapa aku jadi mendatangi booth itu dan pertanyaan berikutnya yang membuat aku sedikit tertampar adalah,

"Ada Al Qur'an di rumahnya, kan kak?"

Wow.



Aku tak sanggup berkata-kata. Serba salah, tidak tahu, sebenarnya bagaimana cara yang benar untuk menjawabnya, karena memang selama ini aku tidak pernah punya Al Qur'an. Malu sebenarnya. Apalagi aku jarang sekali mengaji, kitab suci itu.

Aku menjawab pelan,

"Belum, mbak",

"Nah, kebetulan, Bapak. Mumpung hari ini ada diskon untuk pembelian Al Qur'an ini".

Dia menjelaskan dengan gamblang beberapa keunggulan Al Qur'an yang memang terlihat warna warni baik dari halamannya, maupun di bagian pemecahan kata per katanya saat di artikan ke bahasa Indonesia sebagai pemahaman lebih mendalam.

Apa aku harus membelinya? 

Kenapa hatiku tiba-tiba tak tenang? Kenapa tiba-tiba ke'tidakpunyaanku' akan Al Qur'an membuatku merasa bersalah atau ... berdosa?

"Bagaimana, Pak?"

Aku jaga image.

"Berapaan, mbak?"

Mataku tiba-tiba mencoba menjaga fokus. Semuanya suara terdengar makin mengecil semuanya berfokus pada jawaban kakak itu.

"Wah, Bapak beruntung. Sebenarnya kalau Bapak menemui Al Qur'an ini di Gramedia. Bapak bisa mendapatkannya seharga 350 ribu, Bapak. Lumayan, kan? Nah Bapak, khusus untuk hari ini, Bapak bisa mendapakan diskon istimewa. Bapak bisa membawa pulang Al Qur'an hanya dengan 200 ribu, saja. Terjangkau, kan Pak?"

Aku tak bisa berkutik.

Harga Al Qur'annya SAMA DENGAN satu pak Pancake Durian.

Bagaimana ini?




Ya Allah, ampunilah dosaku selama ini, jangankan membaca Al Qur'an, punya saja tidak. Apalah aku ini ya, Allah. Apalagi dengan tololnya berani menyandingkan Kitab Suci dengan, keinginan duniawiku yakni sepaket Pancake Durian. 

Astagfirullah Hal Adzim.

Dengan menjaga ketenangan dan malu plus gengsi yang luar biasa, aku mengeluarkan pandangan seolah berpikir dengan singkat dan memberikan kesimpulan tepat kalau aku memang HARUS membeli Al Qur'an itu.

Lupakan Pancake. Pancake durian segimana langkanya adalah duniawi dan masih banyak waktu untuk mencari dan membelinya. Suatu saat nanti.

Pembelian dan kepemilikan Al Qur'an sudah tak bisa ditunda lagi.

Fixed. Malu aku sama Allah, sama diri sendiri.

Aku melihat lagi ke dalam isi Al Qur'an itu. Menarik dan menyenangkan. Penuh dengan penjelasan dan detail ayat - ayat. Bentuknya warna-warni.

Aku menyerahkan uang 200 ribu dengan tanpa perasaan bersalah dan tak lagi berpikir akan Pancake. Mbak penjaga itu menyambut uang dengan senyum melegakan. Ia juga mendoakan hal - hal yang baik dan aku langsung mengamininya.

Secepat kilat, aku memegang Al Qur'an itu di dadaku, bergegas keluar dari Bazaar itu tanpa menoleh sedikitpun ke Pancake. Takutnya Setan Durian menggodaku lagi.


---

Aku balik ke kantor, memasuki ruangan dan menyelesaikan beberapa nasabah Privillage yang sengaja diundang untuk berkonsultasi hingga menjelang sore.

Jam 4 pas. Seorang staff masuk dan mengingatkan kalau acara telah selesai dan memintaku, sebelum pulang untuk menemui Kepala Cabang terlebih dahulu sebelum menyelesaikan pembayaran.

Aku berpamitan ke klien terakhir dan beberes.

Aku masuk dengan perasaan lega, entah karena soal Al Qur'an tadi atau memang karena telah seharian menerima curhatan nasabah Bank yang persoalannya cukup membuat kepala ini pening.

Kepala Cabang Bapak U tersenyum menenangkan,

"Bagaimana hari ini, mas? Kliennya nakal-nakal, nggak kayak Saya, ya?', kemudian beliau tertawa.

Aku ikut tertawa,

"Wah, anteng semua, Pak. Kayaknya orang - orang Kaya ini meskipun banyak masalah di hidup mereka, untungnya mereka punya tombol model tenang semuanya. Amanlah, terkendali".

"Syukurlah, Saya tadi memantau. Aman juga. Kok, pada puas. Terima kasih, ya. Jangan kapok kalau diundang lagi".

Aku timpali dengan guyonan,
"Bayarannya pas, orang puas, ya Saya datang lagi dong!".



Kami tertawa lepas. Malah mungkin lebih lepas tawa dari Bapak U, mengingat beban perjaannya yang tentu lebih penuh dengan tekanan.

"Sekali lagi terima kasih ya, Mas. Sebentar lagi Mas tinggal menyelesaikan pembayarannya ke kasir depan. Sudah dipersiapkan. Oh, ya sekalian ini. Suvernir dari bank kami".

Aaaah, apa yang aku tadi pagi pikir dan inginkan ternyata Allah penuhi. Seluruh tanda mata yang ada di lobby, termasuk payung besar dan tas bepergian impianku itu telah menjadi satu paket untuk dibawa pulang. Beliau menyalami aku sambil menyerahkannya bak aku pemenang dari undian berhadiah.

Aku senang sekali. Ya Allah, Alhamdulillah.

"Terima kasih, Bapak. Wah, bagus-bagus. Terima kasih".

Belum selangkah aku hendak berpamitan, beliau bilang,

"Astaga, Saya sampai lupa tadi Saya mampir di Bazaar dan ini sekedar oleh-oleh buat camilan di kosan".

Bagai mimpi di sore bolong, Bapak itu menyerahkan satu bungkus besar, berwarna-warni, PANCAKE DURIAN.

"Semoga Mas menerima. Suka Durian, kan?"

Ya Allah.

Komentar