KATALOG MIMPI 001


 KATALOG MIMPI

001

SALAH EJA

DISCLAIMER : SEMUA NAMA DAN TEMPAT SAYA SAMARKAN UNTUK MENGHINDARI HAL - HAL YANG DIANGGAP MERUGIKAN PIHAK - PIHAK TERTENTU WALAUPUN SAYA PRIBADI SUDAH MEMINTA IZIN KE SUMBERNYA SECARA LANGSUNG UNTUK DIBOLEHKAN UNTUK DITULIS.

Saya punya teman dekat. Sahabat mungkin, atau apalah namanya. Yang jelas sewaktu kuliah di sekitar tahun 1995, kamar kosan kita bersebelahan. Kemana - mana kita pergi berdua, jalan - jalan, makan, kecuali di saat masuk kuliah karena Saya jurusan TA, dia jurusan TE.

Semenjak Saya sibuk Tugas Akhir, sebut saja namanya, Arman Budianto, sepertinya tak lagi melanjutkan kuliahnya. Kemungkinan besar Drop Out. Jadi sewaktu Saya lulus, kami kehilangan kontak. Entah kita tak lagi bertukar nomor telpon untuk bisa SMS, atau mungkin dia ganti nomor telepon.

Jelasnya bertahun - tahun kemudian, Saya tiba - tiba merasa kangen, pengen banget ketemu. Tapi bagaimana ya, caranya? Saya harus bertanya pada siapa? Beberapa teman yang dulu sekosan juga sudah menyebar ke berbagai daerah dan kembali ke kampung halamannya.

Entah ide darimana akhirnya Saya memcoba peruntungan lewat kolom Search di medsos sejuta umat, FACEBOOK. Saya coba untuk menulis nama lengkapnya yang Saya yakin akan muncul karena kemungkinan namanya, tak terlalu banyak yang menyamai. 

Saya ternyata benar. Hanya ada dua nama yang muncul. Yang satu benar-benar Arman Budianto, tapi yang satu ada tambahan Ignatius di depannya, yang malah meyakinkan Saya, jelas-jelas itu bukan dia.

Teman "Bro" Saya ini adalah muslim yang taat, di kosan, di kesehariannya dia mengenakan sarung yang menajadi pertanda, dia jenis orang yang tak lepas dari wudhu dan sholat, bahkan Saya sering menemaninya mengaji. Kabarnya dia adalah salah satu pemuda Masjid yang benar -benar setaat itu hingga ia sering menjadi Imam Sholat Berjamaah di kampungnya.



Tapi kok ada ketambahan IGNATIUSnya, ya? Apa Saya salah? Bukannya IGNATIUS itu tambahan bagi orang-orang kristen? atau katolik? Atau Saya yang salah baca atau salah sebut. Sedangkan fotonya jelas-jelas itu wajah sahabat Saya.

Daripada berspekulasi yang gak penting dan gak jelas, Saya langsung catat saja nomor yang ada di situ dan mulai menghubunginya lewat WA call.

"Assalam mualaikum".
"Waalaikum salam", suara di ujung sana menjawab dan Saya mulai mengenalinya.

"Budbud?", tanya Saya ragu dan Arman menjawab dengan tertawa lepas,

"Tahu nomorku dari mana?"

---

"Saya sudah menjadi pengikut Yesus, kak", itu kalimat pembukanya waktu Saya dengan niatan penuh, menemui Arman ke kotanya, yang berjarak ribuan kilometer. Saya hanya pengen dengar kisahnya, bukan ingin menghakiminya.

"Oh, baguslah", jawab Saya nyantai.

Arman sedikit tegang dan membalas respon Saya tadi dengan rasa heran yang tinggi,

"Bagus? Kamu cuma bilang bagus?? Mamaku pingsan begitu Saya membuat keputusan ini. Saya diusir dari masjid dan dimusuhi sekampung gara-gara ini. Dan dirimu cuma bilang, bagus?".

Anehnya dia terdengar kesal mendengar komentar Saya yang terkesan biasa-biasa saja dan tidak ada gelombang emosi.

Saya menarik nafas perlahan, mencoba menenangkannya. Saya tahu teman Saya ini terkadang punya emosi yang tak tertebak.

"Begini, ya, Arman Budianto. Kamu itu teman Saya. Kita sudah cukup lama berkenalan. Saya itu KENAL kamu, banget. Saya menghargaimu. Apapun, semua keputusanmu akan Saya hargai. Saya akan hormati. Tanpa perlu lagi Saya harus bertanya atau perlu tahu alasannya kenapa".

Saya mencoba menatapnya dengan kesabaran yang luar biasa dengan perasaan yang sebenarnya dipenuhi rasa dag dig dug.

"Itu ranah pribadimu, Arman. Itu perjalanan pribadi spiritualismemu. Tak ada yang berhak mengatur kecuali kamu dan yang di Atas. Anggap saja Saya salah, siapa tahu kamu memang cuma sedang berjalan-jalan, dan mencoba berbagai cara menemukan jalan kebenaran, yang PALING benar. Saya kan cuma bisa mengawasi dan memberi semangat. Hati - hati, ya di jalan. Semoga kamu menemukan jalan yang terbaik".

Kayaknya kalimat Saya itu asyik. Semoga tidak terlalu sok asyik.


"Tenang. Saya, apapun pilihan kamu. Jalan apapun yang kamu pilih. Saya akan selalu akan mendukungmu".

Arman membuka kacamata, mengucek matanya sekali dan memasangnya lagi. Emosinya menurun.

"Terima kasih".

Saya tersenyum.

Arman tampaknya menyiapkan pertanyaan selanjutnya,
"Terus, Saya harus bagaimana selanjutnya, menurut dirimu?"

Jawaban yang susah, yang belum Saya siapkan sebelumnya.

"Saya pikirkan nanti, ya! Saya cuman pengen ketemu kamu, cuma pengen punya waktu berdua merenung. Nggak ngapa-ngapain. Mari kita melakukan hobby kita itu tadi seperti 10 tahun yang lalu".

Arman tersenyum. Ia masih temanku yang setia. Tak ada yang berubah.

---

Malam, saat sudah pulang ke kosan, Saya mimpi. Menggelisahkan. Besok paginya Saya langsung telpon ke Arman,

"Man, semalam Saya mimpi",

Arman menyimak dengan berdehem,

"Saya didatangi cewek. Berkacamata dan rambutnya model Bob. Ia cuma bilang ia akan mendatangi kamu dan bakal minta penjelasan atas segala apa yang kamu telah lakukan dan dia akan membimbing berikutnya, apa yang harus kamu lakukan".

"Oh, ya?", jawab Arman setengah percaya.

"Ya, tunggu saja. Dia akan ke kamu kok. Jangan lupa, namanya Dina".

"Dina, siapa?"

Saya tidak tahu. Itu saja infonya. Sebuah mimpi pendek yang minim informasi.


Seminggu berlalu.

Arman menelpon sambil tertawa - tawa,

"Wah, benar sekali kamu. Dua hari lalu, ada perwakilan gereja ke sini. Dia mewakilli semacam remaja dan anak muda dari komunitas, macam remaja masjid kalau di Islam".

Saya menyimak,

"Mbak itu hanya ingin menegaskan apa sebenarnya yang Saya inginkan dan apa tujuan Saya pindah agama, karena menurut dia, pindah agama itu bukan hal yang main-main, baik dari islam ke kristen atau sebaliknya. Kami tidak mau punya umat baru yang nanggung dan hanya mau dan baik di awal saja".

Wow.

"Orangnya sesuai dengan gambaranmu. Wanita berkacamata dan berambut model Bob. Yah, hebat benar kau, ya".

Entah kenapa Saya tersipu. Antara malu dan senang. Tersanjung tepatnya.

"Cuma satu yang menurut Saya, kamu salah. Namanya bukan Dina. Tapi, DINI".

Kami terdiam. Saya malu. Gengsi dan dan tanpa sadar muka Saya memerah. Saya salah?. Mimpi Saya salah? Masa arti mimpi Saya, salah? 

Salah eja?

Lha.

---

Kesalahan itu begitu mengganggu. Hingga Saya benar - benar menghubungi Arman untuk memastikan lagi apakah memang Saya salah eja. Atau apa yang salah di mimpi itu.

Arman memberikan klarifikasi beberapa hari kemudian sambil sekali lagi, tertawa,

"Tidak ada yang salah ternyata. Saya bertemu mbak itu lagi kemarin dan serius menanyakan siapa sebenarnya nama lengkapnya. Dan nama lengkapnya adalah

DINI SEPTADINA".

Lha.

Komentar

  1. > Plot twist “Dina” jadi “Dini Septadina” itu halus tapi kena—ceritanya hangat, pesan toleransinya dapet 👍

    BalasHapus

Posting Komentar