Himbauan Hidup Tanpa Merokok Tanpa Mengajak Ribut

Kisah Dedy Kecil - Kaki Tangan Perampok





Kami janjian waktu itu. Aku ikut dia, mau nganterin dia, keliling. Menagih sesuatu dan menaruh beberapa lamaran sekaligus wawancara katanya. 

Dia yang kusebut ini adalah Manajer perusahaan sepatu di tempat Aku bekerja. Aku sendiri waktu itu masih menjadi Manajer sebuah Pusat Kebahagiaan (Awareness Centre) di tempat yang sama karena pemilik perusahaan kita sama.

Gadis ini, yang jujur aku lupa namanya siapa sekarang, hanya mengenakan celana pendek ketat dan menaruh kacamata hitam di atas kepalanya mirip bando. Ini memang Bali. Bukan daerah lain. Orang 'sedikit' lebih bebas dalam hal berpakaian.

Jam 7 pagi Aku sudah bersiap di gerbang kantor. Kosanku hanya berjarak seratus meter dari tempat aku berdiri sekarang. Hari ini cuaca bersih dan menyegarkan

"Yuk!", katanya. "Kita mulai perjalanan ini".

Aku gak bisa nyetir. Dia hanya tertawa dan memulai perjalanan menyusuri alam Bali yang memang menakjubkan.

"Ini bisa seharian lho!", ujarnya khawatir.

Aku senyum saja. Gak papa - kataku menenangkan.

Di perjalanan kami ngobrol banyak. Tepatnya aku yang lebih banyak memberi jawaban atas berondongan pertanyaannya. Aku tak begitu kenal Bali dan daerah-daerahnya. Di sepanjang perjalanan, Aku hanya memandangi sawah di kanan dan kiri jalan. Terlihat sama dan membentang jauh. Pastinya ini perjalanan jauh.

"Aku cuma mau kerja dengan baik. Kalau pengenan sih banyak. Pengen jadi penyanyi, pengen bisa nulis buku, pengenannya macem-macem. Tapi itu nanti sajalah. Ini juga, dapat pekerjaan ini saja, Aku sudah syukur banget". Mencoba menjawab dengan sederhana kenapa Aku memilih Bali.

Gadis itu mengangguk - angguk. Kita banyak bercanda lagi. Aku tak bisa melihat ekspresinya langsung. Kacamata hitamnya terpasang sejak dia menyetir. Yang Aku tahu dia anak Jakarta, modern, bicaranya elo dan gue. Keren dan sepertinya dia tahu tentang apapun. Gadis yang berpengalaman.

Dua jam berlalu.

"Makan, yuk. Isi gaslah orangnya." Tanyanya sembari memarkir mobil.

Kami berhenti di suatu tempat. Menikmati sarapan dengan kikuk. Entah kenapa Aku jadi orang yang tak bisa memulai percakapan. Mungkin malu, mungkin sungkan bercampur dengan minder.

Sesaat Aku pamit ke toilet dan hampir menabrak seorang polisi yang keluar bersamaan. Perjalanan bisa jadi masih jauh, kalau Aku kebelet pipis di tengah jalanan bisa merepotkan.

---

Kami tiba di Ubud di tengah hari yang panas. Di suatu tempat yang mewah dimana angin mengalir menyejukkan. Air kolamnya yang berbentuk mangkuk - mangkuk raksasa membuat suasana menjadi dingin seketika. Suluran kain putih menghiasi atapnya. Kursi-kursi berbahan dasar rotan, jenis kursi bagi orang kaya yang suka duduk dan bermalas-malasan - menghiasi ruang tamunya. Entah Hotel apa itu namanya. Aku lupa. Ingatanku payah.

"Interviewnya gak lama kok. Aku cuman drop CV," kata Gadis itu menenangkan.

Aku mengangguk polos.

Mataku lebih sibuk mengarahkan mata ke pemandangan hijau di luar sana. Astaga. Ini memang Bali. Tempat yang sangat disurgakan bagi sebagian besar orang. Memang indah. Segar. Membuat mata ini tercerahkan beberapa saat.

Aku terdiam kosong, jadinya waktu terasa cepat berlalu.



"Pulang, yuk!", kata Si Gadis.

Ah. Begini sajakah? Aku pikir aku ada manfaatnya. Ternyata hanya untuk menemani dia ngobrol sepanjang perjalanan.

Di belahan sisa sore perjalanan pulang, kami banyak tertawa. Aku lucu - kata Gadis itu. Aku mengelak dengan sopan, aku orang yang hanya bisa menyampaikan ide-ide kehidupan yang lebih menarik dan tidak membosankan. Tidak terlalu lucu. Bypass Bali yang panjang dan melelahkan itu jadi tidak terasa terlewatkan begitu saja walau sinar mentari mulai pudar.

Kami kembali sekitar jam 4 sore. Aku khawatir Ibu, boss kami, bakal ngomel karena aku meninggalkan kantor dan jalan-jalan. Aku sudah menyiapkan alasan yang cukup panjang seperti Aku sebenarnya pergi untuk rapat dan membicarakan urusan sepatu dengan Manajer Sepatu yang badannya montok itu. Jadi Aku tak perlu takut, dan jangan takut. Bersikaplah biasa saja.

Aku turun dari mobil dan dua orang polisi menyambut, menarik lenganku ke belakang punggung dan dengan bentakan keras mereka bilang,

"Saudara Dedy Darmawan, Anda ditahan karena membantu dan menjadi kaki tangan perampok ini!"

Pandanganku kabur seketika saat Polisi itu memborgol tanganku.



Ada apa ini? Aku salah apa?

Aku memandang ke belakang dan ke arah atas. Melihat beberapa teman kantor dan anak buahku di restoran menutup mata. Ada yang menangis.

Seorang teman dari arah kantor berteriak,
"Sabar ya Dedy. Ada yang bisa Aku bawain nanti?"

Sambil menunduk bingung karena baru kali ini digelandang ke kantor polisi.
Aku mendongak dengan cepat dan menjawab sekenanya,

"Bawain aku roti sobek dan Sprite, ya? Aku lapar".

Langkahku tiba - tiba menjadi tambah berat.


---

Ruangan interogasi itu terkesan pengap dan gelap. Lampunya mirip seperti di film-film detektif. Punya kap segitiga yang pancaran cahaya dan bayangan di wajah para polisi terkesan seram karena efeknya.

Sudah 4 jam Aku dikurung di sini.

Pak Polisi yang pertama menginterogasiku sebenarnya wujudnya tidak seram. Dia gendut. Orangnya Baik sepertinya kalau melihat dari tampangnya. Tentu saja aku yakin dia hanya berusaha sedikit tegas karena ia sedang menjalankan tugas.

Satu gebrakan keras lagi di meja. 
Aku sedikit berusaha terlihat kaget. Supaya terkesan membantu dia bekerja dengan baik dan benar.

"Apakah benar bahwa Saudara ini pada pukul 9 pagi Waktu Indonesia Tengah, berdua, bersama Gadis itu berada di Restoran itu? dan jangan beralasan karena kami sudah untit kalian sejak pagi"

Pikiranku melayang, mengingat kejadian aku menabrak seorang polisi sesaat keluar dari toilet.

"Benar, Pak". Suaraku tak terdengar gemetar. Ternyata susah membuat suara agak gemetar. Susah juga berpura-pura untuk takut. Mentalku menghadapi Bapak yang sering membentak apalagi selagi pengalaman sewaktu SMA pernah ikut Teater membuatku bergeming, tak tergoyahkan, kalau hanya sekedar dibentak.

Entah sudah yang ke berapa, Pak Gendut itu menggebrak meja lagi dengan kerasnya. Mungkin sebagai alat uji mental.

"Apa yang sebenarnya yang Anda lakukan di sana?  HA?!?". Pak Gendut mulai berani berekspresi dengan memelototkan matanya.

Aku dengan cepat dan terlatih memberi jawaban standar. 

"Kami Makanlah, Pak. Kami memang lapar!"

Skip. 

Ini ceritanya seharusnya serius. Memang serius. Tapi jawabanku mirip candaan. Seharusnya penonton dan pembaca sudah ketawa. Tapi terserah ke penilaian masing - masing. Aku tidak bermaksud main - main.

Pas jam 12 malam. Pintu interogasi terbuka. Aku merasakan hal yang aman karena mereka membiarkan pintu tetap terbuka.

Pak Gendut itu membisikkan kata ke Pak Polisi satunya dengan suara yang agak keras. Entah pamer atau memang dia tidak diajarkan cara berbisik yang alami sejak kecil.

"Kayaknya kok dia omong apa adanya, ya?. Dia jujur. Dia tidak bersalah. Kita bebaskan saja Mas yang ini."

Alhamdulillah.

Aku menghambur keluar, di ruangan itu teman sekantor yang menjanjikan akan membawakan roti sobek dan Sprite sudah tidak sabar lagi bercerita atas apa yang sebenarnya terjadi.

"Kau itu bisa saja keluar sama Gadis Perampok itu. Ia itu sengaja kabur pakai mobil sewaan dan mengambil uang di brankas Ibu beberapa ribu dollar dan uang rupiah. Kamu itu dituduh kaki tangannya. Lagian ngapain saja kalian keluar seharian? Apa yang kalian rencanakan? Kamu baik-baik saja, kan? Masih untung kamu tidak dipenjara, kalau dia sih bakalan baik-baik saja," cerocos temanku itu.

"Bagaimana dia baik-baik saja?", tanyaku heran.

"Ibu memaafkannya tapi tak mau menerimanya lagi sebagai pekerja. Gadis dipecat. Ia akan dikembalikan ke orangtuanya di Jakarta. Hal yang memalukan bagi keluarga besarnya. Tapi dia bakal baik-baik saja. Kan orang tuanya berpangkat tinggi di Jakarta."

Aku menggumam bunyi Oh.

Aku kunyah roti sobek perlahan dan meneguk Sprite yang rasanya benar-benar lebih segar dari biasanya.

Ruangan seberang tiba-tiba terbuka lebar. Di dalamnya Gadis itu masih mengenakan pakaian yang sama sejak tadi pagi, tapi kali ini dibarengi dengan mantel panjang merah. Kakinya naik ke meja. Ini wujud asli Gadis itu.

Ia menoleh ke arahku dan tersenyum.

"Kamu baik-baik saja?", katanya.

"Ya". Sambil terus berpikir apa maunya Gadis ini. Ia mendekat.

"Aku sewa mobil itu dari rental. Aku ambil uang dari brankas Ibu karena aku tahu nomor kombinasinya. Aku mau ambil duit nggak seberapa itu cuma mau bikin jengkel dia dan bikin malu keluargaku di Jakarta. Aku memang berniat keluar dari pekerjaan, menaruh lamaran dan interview di beberapa tempat. Jadi sekalian aja aku ajak kamu".

Aku memandanginya dengan dingin mencoba tak berekspresi.

"Di bayanganku aku mau bunuh kamu lho, seharusnya aku lakukan itu di tol atau bypass, rencananya sih, aku mau buka pintunya, mendorongmu terjungkal dari mobil. Menghempaskan mobil itu ke bagian jalan yang lain. Membiarkannya dan aku akan menghilang. Selamanya."

Aku termangu. Tak bisa omong apa-apa.

"Terus kenapa kamu tak bunuh aku?", tanpa sadar aku menelan ludah mendengar kalimatku sendiri.

Sambil memperbaiki posisi duduknya yang masih tidak sopan. Dia menaikkan sepatu bootnya ke kaki satunya tepat di atas meja.

"Aku kasihan. Kamu itu lucu."

Aku terdiam. Melihatnya dengan rasa tidak percaya.



Polsek Sanur 
Tahun 2000 

Komentar

  1. Aku enggak kebayang kalau ngalamin kayak gini, udah panas dingin mungkin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya lebih dari panas dingin. Entah apa itu namanya.

      Hapus

Posting Komentar