Sohieb Toyaroja - Pameran Tunggal - Semar


Salam Budaya.

Tersebutlah Semar. Siapakah Semar itu?

Menurut Wikipedia

Semar adalah nama tokoh punakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan wiracarita Mahabharata dan Ramayana dari India. Meski demikian, nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut (berbahasa Sanskerta), karena tokoh ini merupakan ciptaan tulen pujangga Jawa.


Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya. Semar selalu tersenyum, tetapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka. Wajahnya tua tetapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki, tetapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan.

Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.

Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.

Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Sunan Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala.

Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jelata biasa, melainkan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa.

Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua, dan yang satunya adalah Semar.

Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumanasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabharata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa. Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan.

Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah - yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar - mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi negara yang unggul dan sentosa.

Nah dengan pengenalan tokoh Semar di atas, mudah-mudahan kita bisa memahami apa yang ditorehkan oleh mas Sohieb Toyaroja dalam lukisannya.

dari : https://cikiniartstage.blogspot.co.id/2018/02/sohieb-solo-exhibition-2018.html


dari : https://cikiniartstage.blogspot.co.id/2018/02/sohieb-solo-exhibition-2018.html

dari : https://cikiniartstage.blogspot.co.id/2018/02/sohieb-solo-exhibition-2018.html

dari : https://cikiniartstage.blogspot.co.id/2018/02/sohieb-solo-exhibition-2018.html

dari : https://cikiniartstage.blogspot.co.id/2018/02/sohieb-solo-exhibition-2018.html

dari : https://cikiniartstage.blogspot.co.id/2018/02/sohieb-solo-exhibition-2018.html

dari : https://cikiniartstage.blogspot.co.id/2018/02/sohieb-solo-exhibition-2018.html

dari : https://cikiniartstage.blogspot.co.id/2018/02/sohieb-solo-exhibition-2018.html

dari : https://cikiniartstage.blogspot.co.id/2018/02/sohieb-solo-exhibition-2018.html

dari : https://cikiniartstage.blogspot.co.id/2018/02/sohieb-solo-exhibition-2018.html


Saya pribadi diundang oleh kuratornya mas Bambang Asri Widjanarko ke pameran tunggal mas Sohieb Toyaroja bertajuk "Ke Diri" - Sangkan Paraning Dumadi Manusia Semar Bercermin Kesejatian Diri, yang diadakan di Gallery Kunstkring Paleis di Jalan Teuku Umar Nomor 1 - Gondangdia - Menteng - Jakarta Pusat

Mas Bambang di tengah-tengah


Mas Bambang menuliskan kuratorialnya berjudul "Tujuh Rupa, Tujuh Kebijakan Semar tentang Diri". Beliau menuturkan hal - hal berikut:

Dalam filosofi orang - orang Jawa konsep utama manusia hidup adalah memahami diri. Dengan menghayati dirinya sendiri, diharapkan manifestasinya adalah lelaku penghormatan pada sang liyan (lainnya). Yakni, memuliakan sesama manusia, alam dan seluruh isinya.

Manusia Jawa kemudian dituntut untuk menjadi manusia yang reflektif. Menjadi pemimpin dirinya sendiri sekaligus selalu eling (ingat) dan waspada agar terhindar dari malapetaka; yang selanjutnya berpasrah kembali pada-Nya. Sangkan Paraning Dumandi.

Pembukaan di halaman Kunstkring Paleis

Tema pameran solo Sohieb adalah manusia yang mematut ke dalam dirinya: Ke-Diri. Sosok Semar kemudian menjadi rujukan penting, bagaimana seseorang harus mencari kesejatian, dalam kosmologi besar maupun kecil. Semar adalah tauladan ideal sebagai manusia yang memiliki nilai - nilai Illahiah. Semar dalam pandangan yang sama disebut Gusti Allah yang Katon, Tuhan yang terlihat atau manusia adikodrati. Dalam beberapa peradaban dunia konsep seperti ini disebut Ubermensch (Jerman) dan kita mengenalnya di keyakinan Islam dengan konsep Insan Kamil.

Atmosfer Kunstkring Paleis yang memang terasa Kuno dan Mistis


Pameran Solo Soehib Toyaroja kali ini mengeksplorasi sosok manusia unggul berjuluk Semar. Perwujudan dari Dewata Ismaya dalam dongeng Mahabarata versi Jawa (bukan India) yang menjadi penasehat anak - anak Prabu Pandu yakni Pandawa. Semar menjadi abdi sekaligus penasehat keluarga Pandawa.

Kemudian muncul pertanyaan, kenapa justru kebaikan wajib didampingi, dinasehati? Bukankah keluarga Kurawa yang jelas - jelas wakil dari si angkara murka? Konsep Jawa yang unik memberi pesan, justru yang menampak baik seringkali lebih sulit diraba. Kejahatan yang telanjang jelas - jelas terlihat. Acapkali kejahatan menyaru dalam kebaikan, Semar hadir mengingatkan.


Sohieb mempresentasikan berbagai ajaran - ajaran Semar dengan membawanya dalam konteks kekinian dalam tujuh lukisan-lukisannya. Yang menarik Sohieb tak harus menarasikan Semar - Semar hari ini yang sakral, merenung dan sublim. Semar dihadirkan dengan cara yang bahkan kontradiktif dan saling bertolak belakang dalam pemahaman logika benar - salah. Ia samar - samar bertutur dengan pesan - pesan yang mengendap. 


Penuturan Puisi Semar yang Samar - Samar oleh Abdullah Wong dibawakan oleh Ine Febriyanti
                          
Semar di tujuh lukisan disimbolkan melalui peristiwa, kronik, tuturan yang transenden dari titisan Batara Ismaya itu menjadi satiris, reflektif bahkan komikal. 

Karena Semar lebih dekat karakternya dengan masyarakat kecil, wong cilik. Ia digambarkan seperti dalam manusia - manusia keseharian yang lemah namun tabah, kuat, usil serta tak lupa membawa pasemon, sindiran halus khas Orang Jawa. Sohieb menciptakan Semar untuk direnungkan, ditertawakan sampai sesekali mengolok - olok dirinya sendiri.

Olok - olok atau pasemon itu sebenarnya sebuah sindiran tajam tentang para pamong, pemimpin atau orang - orang yang berkuasa yang lupa amanahnya. Panggilan utama untuk eling, mengaca pada dirinya sendiri, jangan terlalu jumawa terhadap segala hal, yang di Jawa disebut sebagai ngrumangsani daripada rumongso.

Penyerahan Simbolis Lukisan oleh Bapak Erry Sulistyo sekaligus membuka acara
Bapak Erry Sulistio juga berkata pengantar sebagai berikut:

Bagi saya pribadi, seni rupa tak cukup berhenti pada persoalan teknis semata. Ada ruang lain semacam makom tertentu yang mesti digeluti dengan kedalaman batin dan ketajaman rasa. Itu kenapa saya sering menemukan pesan - pesan "lain" dari setiap karya rupa yang dihasilkan oleh seorang yang melintasi jejak - jejak perjalanan hidup dan kehidupan. Tak jarang, pesan itu sesuatu yang - nyambung - dengan apa yang sedang saya gelisahkan. Sehingga kadang saya bertanya, jangan - jangan perupa adalah sosok yang dihadirkan untuk membawa pesan dari Tuhan untuk saya pribadi.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa di semesta ini tak ada yang kebetulan. Semua sungguh begitu teratur dan diatur oleh Sang Maha Pengatur. Begitu juga yang saya rasakan dalam pertemuan saya pertama kali dengan Sohieb. Sebuah pertemuan sederhana yang tidak terduga. Bermula ketika saya memesan frame lukisan di Studio Galih. Dari sanalah saya mengenal sosok Sohieb. Pertemuan sederhana bersama sosok sederhana itu justru menjadi pertemuan istimewa. Mungkin jika boleh buat istilah, saya dan Sohieb merasa ada - klik - karena nyambung dan merasakan aliran kimia kecocokan.

Sebagai pengusaha, saya sering menemukan kesesuaian pandangan bersama Sohieb. Latar belakang kami yang berbeda justru tidak ada jarak dalam mengarungselami nilai - nilai kehidupan, terutama falsafah yang selama ini telah diguratkan para leluhur.

Kami saling mengisi ruang rasa ketika terjadi persilangan pendapat. Saya melihat sudut yang kadang luput dari sorotan Sohieb, sementara Sohieb kadang menangkap pesan yang mesti saya rasakan. 13 tahun rasanya bukan waktu singkat bagi kami dalam memaknai dan menyelami ruang - ruang artistik dan estetik secara intim, terbuka dan tentu saja kritis.


Semar adalah salah satu imaji yang sama - sama kami pandangi bersama. Di satu sisi kami sepakat bahwa Semar adalah sosok yang misterius yang harus ditelusuri di dalam Diri, di sisi lain kami juga sependapat bahwa Semar dapat dihadirikan dalam ragam manifestasi dan ekspresi. Kenapa haru ke Diri? Karena dari Diri inilah semua masalah sekaligus potensi solusi berakar. Selama ini orang - orang begitu sibuk mengurusi di luar dirinya, sehingga dirinya yang paling dekat tak pernah ditengok, digali sampai diberdayakan. Anehnya, ketika diri ini mengalami penderitaan dan kegagalan, pihak yang selalu disalahkan adalah orang lain. Fenomena ini hampir berlangsung di seluruh aspek kehidupan kita. Dari persoalan keluarga, hingga persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara.


Bagi saya, melihat ke diri itu bukan dalam kesadaran narsis apalagi bangga diri. Tapi lebih kepada sikap kritis dan introspeksi ke dalam diri sendiri secara jujur dan apa adanya. Ketika melihat diri secara jujur ke dalam senantiasa dilakukan, langkah berikutnya adalah melakukan perjalanan ke dalam diri dengan jalan menembus sekat - sekat kepalsuan dan kepura-puraan. Inilah potensi besar yang selama ini kita abaikan. Padahal seluruh khazanah dalam diri kita ini tak lain adalah anugerah Tuhan yang tiada terkira harganya.


Melalui pameran ini, saya tidak semata berpikir investasi. Tapi pameran ini adalah salah satu pandangan dan sikap kebangsaan yang diwujudkan dalam gerakan kebudayaan yang berbingkai nilai artistik dan estetik. Lewat pameran ini pula saya bukan hanya disadarkan tentang Semar yang sedang membukakan pesan ke dalam Diri kita, tapi juga satu keinsyafan bahwa Sohieb sebagai perupa, adalah pribadi sederhana yang tak bisa dibendung lagi untuk melejit dan menempati makom yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Kepada sahabatuku Sohieb, selamat berkarya.


Paso, 21 April 2018

Okay, Fiuh. Dalam juga para tokoh ini mendalami Semar itu sendiri. Tapi menarik. Karena memang filosofi itu memang akhirnya bisa muncul bila kita mencoba memahami dan menggali diri kita sendiri.

Nah, yang memberi kata pengantar berikutnya adalah mas Abdullah Wong, seorang penyair yang kadang menggunakan nama Wong Dzolim. 

Bernama asli Abdullah Imam adalah seorang yang mendalami khazana klasik Islam, lulusan Ilmu Komunikasi (FISIP UMJ), Filsafat Barat di Sekolah Tinggi Filsafat - Driyarkara Jakarta, mendalami filsafat dan metafisika Islam di Islamic College for Advanced Studies (ICAS) a Branch London di Jakarta. Beliau menulis sajak, mendirikan grup teater, menulis naskan dan menggelar pentas drama, hingga menulis lirik lagu


Dia menuliskan judul "Semar Menyamar Ke Diri", berikut ulasannya:

Seperti Tuhan dengan nama apapun yang kita sebutkan, apa dan siapa pun itu, pasti bukan Tuhan. Semua ungkapan itu hanya gugusan konsep dan gagasan tentang Tuhan. Sebagai konsep, pasti sangat berjarak dan semakin menjauh dari apa yang kemudian disebut Tuhan. Bahkan ketika seorang menyebut Tuhan sebagai Suwung alias kekosongan, sebagai Absolut atau Mutlak, itu pun hanyalah gagasan. Ketika seorang menganggap bahwa Tuhan bukan yang material, lalu dengan enteng seorang menyatakan bahwa Tuhan adalah yang Ghaib! Sementara pihak lain datang dan menyatakan bahwa Tuhan itu Maha Hadir sekaligus Maha Ghaib! Bagaimana kita memahami kontradiski ini? Tentu saja, selama Tuhan masih dikonsepsikan, selama Tuhan masih dibahasakan dalam kata dan simbol, maka semua itu hanya menjadi kumpulan ide dan gagasan. Selama hal itu berlangsung, Tuhan tak ubahnya seperti berhala-berhala yang dibangun di dalam pikiran manusia sendiri. Maka wajar jika kebanyakan manusia sebenarnya hanya menyembah Tuhan yang diberhalakan menurut asumsi dan keyakinan dirinya sendiri. 

Di sini Al-Quran dalam Surat Al-Jasiyah Ayat 23 menegaskan, “Apa tidak kamu lihat orang yang menjadikan dirinya sendiri sebagai tuhan? Dan Allah biarkan asumsi manusia itu berdasarkan Pengetahuan-Nya. Ketika itu, Allah mengunci pendengaran dan hati manusia dan meletakkan penutup di atas penglihatannya? Memang siapa lagi yang dapat memberi petunjuk setelah Allah? Maka, kenapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Begitulah saya membaca Semar. Semar sebenarnya bukanlah Semar. Tapi ia harus disebut Semar karena tak ada lagi ungkapan yang tepat untuk menyebutnya kecuali Semar. Semar biasa siapa pun yang menyamarkan diri dalam kesamaran. Sebagaimana Tuhan Yang Hakiki yang “menyamarkan” Diri-Nya dalam aneka asumsi hamba-hamba-Nya. Jadi, apakah Semar itu Tuhan? Tentu saja bukan. Tapi siapa pun bisa menyatakan bahwa segalanya adalah Manifestasi-Nya. Maka Semar pun adalah Tajalli-Nya. Sebagaimana Tuhan dapat “Menjelma” apa dan siapa saja, maka begitu juga Tuhan dapat “Menjelma” menjadi Semar. Kenapa Semar?! Untuk apa dijawab. Apakah setiap kenapa akan cukup dijawab oleh seribu karena? Rasakan saja Semar.

Peradaban Jawa, yang mungkin susah menghadirkan sosok Tuhan, sebagaimana disebut dalam carangan pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang punya 8 daya, tidak pernah lapar, tidak pernah mengantuk, tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah bersedih, tidak pernah merasa capek, tidak pernah menderita sakit, tidak pernah kepanasan, dan tidak pernah kedinginan. Ungkapan di atas, mirip petikan Ayat Kursi di dalam Surat Al-Baqarah namun sedikit mendapat pelebaran makna karena juga menyerap ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an.

Semar bisa jadi masing-masing dari kita yang sedang menyamar. Mungkin kita yang sedang tampil bukan sebagai diri kita yang sebenarnya, alias berpura-pura. Bukankah setiap kita selalu membawa identitas atau tetenger masing-masing? Bukankah kehadiran kita tak pernah otentik lantaran selalu dibungkus oleh ragam predikat dan embel-embel? Ragam predikat atau identitas itu bisa berupa nasab, suku, budaya, profesi, intelektualitas, ideologi, pilihan politik, bahkan agama.

Seluruh makhluk termasuk manusia, hanyalah Avatar Tuhan. Sebagaimana kita dapat memiliki ribuah akun di dalam media sosial, apalagi Tuhan? Anehnya, kita sendiri menyusun avatar-avatar lain. Menyusun akun-akun lain. Dan keakraban kita dengan sesama, adalah keintiman akun-akun atau avatar demi avatar. Di situ, kita bisa menjadi Semar yang Sumir! Ketika melihat realitas secara negatif, pesimis, fatalis, hingga oportunistik. Di kesempatan lain, kita bisa menjadi Semar yang Semir. Satu kata benda yang memiliki ragam makna seperti mengilapkan, meminyaki, hingga memberikan uang sogok alias menyogok. Sebagai diri yang dilekati akun-akun, Semar pun bisa menjadi Semur. Semur yang konon berasal berasal dari bahasa Belanda yaitu “Smoor” diartikan sebagai masakan yang direbus dengan tomat dan bawang secara perlahan-lahan, atau secara braising, satu teknik masak dengan cara merebus lama dengan api kecil hingga daging atau jengkol menjadi empuk. Terakhir, Semar dapat kita baca menjadi Sumur. Sumur atau Perigi sebagai sumber air atau minyak dan gas yang dapat digali. Atau mungkin sumur tradisional berupa lubang dalam ke bawah yang memiliki tembok keliling. Meski kini sumur-sumur modern di daerah perkotaan mengecil sebesar pipa paralon yang disedot dengan kekuatan listrik, tetap saja kita menyebutnya sumur.

Bila gatuk matuk ini diteruskan, tentu tak akan ada habisnya. Sehingga Semar dapat menyamar Samar dalam sikap Sumir, Semir, hingga Sumur sekalipun hanyalah konsep, gugon tuhon alias asumsi semata. Lalu kapan kita lepas dari asumsi? Jawabnya bukan kapan! Karena kesadaran tertinggi tak butuh waktu! Atau dimana kita dapat mendapatkan kesadaran yang utuh? Jawabnya bukan dimana, karena kesadaran tak butuh ruang. Atau, dengan cara apa kesadaran tertinggi itu didapatkan? Pasti tak ada cara! Karena setiap cara hanyalah konsep, atau gagasan yang selalu mereduksi dan membatasi segala yang Mutlak Tak Terbatas.

Jadi bagaimana kita dapat memahami Semar? Selama kita masih bertanya kenapa dan bagaimana, maka sampai kapan pun, kita tak akan pernah memahami Semar apalagi menyadari Semar!

Abdullah Wong 
(Pujangga Padepokan Umah Suwung)


Berikut ketujuh lukisan yang ditampilkan dan berikut kuratorial dari mas Bambang Asri Widjanarko:

1

Highway To Heaven180 x 200, Oil On Canvas, 2018
Menggambarkan sang Semar bertelanjangdiri menuju ke cahaya di langit melewati jalan setapak dengan bayang - bayang gelap di belakangnya. Atmosfir lukisan beraura muram. Ada kotak kecil berwarna jingga, dengan teks flight recorder, do not open. Sohieb ingin berteka-teki, sekaligus menafsir konsep paling sulit pun yang paling esensial di Jawa, Sangkan Paraning Dumadi, yang dihubungkan pada ilustrasi black box di dunia penerbangan.


Semar sebagai manusia yang linuwih sangat menyadari eksistensi dirinya di dunia hanya sebentar, bagai para pejalan jauh yang istirahat meneguk minum usai itu langsung melanjutkan perjalanannya ke sang Khaliq. Kotak jingga adalah representasi kerahasiaan, sesuatu yang disembunyikan, namun ia ada dan layak ditinggal, atau diungkap kelak secara tuntas? Apakah itu harta, keluarga bahkan jabatan - jabatan mentereng yang sempat disandang dan membawa beban kembali padaNya?

2
Semar Evolution700 x 200, Oil On Canvas, 2018

Tujuh panel lukisan yang satu dan dan lainnya berkesinambungan. Lukisan ini bernarasi sebuah transformasi Semar dari konstruksi bertubuh wayang kulit menjadi manusia. Uniknya, Semar - Semar itu di panel demi panel dalam lukisan berubah secara dimensional dari perspektif pipih menjadi menubuh seperti manusia dengan atribut yang merujuk pada jabatan yang disandang seperti : ulama, pegawai negeri, hakim, polisi/TNI sampai pada pengusaha dengan simbol - simbol yang tertera.


Urutan pertama dari arah kiri Semar yang masih pipih
urutan kedua Semar sebagai Ulama
Urutan ketiga Semar sebagai pegawai negeri
Urutan keempat Semar sebagai Hakim
Urutan kelima Semar sebagai Polisi
Urutan keenam Semar sebagai Pengusaha
Urutan ketujuh terakhir Semar sudah punya tubuh utuh sebagai manusia

Ada satire pahit dan kejenakaan terlihat bersama, sebelum Semar benar - benar menjadi 'Manusia Paripurna". Yakni, upaya Semar dengan identitas pengusaha (bersimbol Semar memakai dasi merah) menyogok uang pada Semar Sejati di Panel ketujuh.

dengan Mas Satya Bayuningrat
Semar yang telah utuh menjadi manusia menasehati Semar lainnya dalam gestur tangan dan ekspresi muka. Kita segera mengingat isu - isu suap dan korupsi di Tanah Air; dan Sohieb membawa kita soal itu dengan mengkaitkan tentang konsep evolusi manusia berikhwal dari kera (Darwinisme), sebelum mencapai bentuknya yang paling ideal: Homo Sapiens. Manusia utuh yang bernalar dan bernurani.

3

Pertempuran Semar Vs Togog180 x 200, Oil on Canvas, 2018

Semar meminjam dalam konteksnya dengan sejarah seni rupa serta mengapropriasi lukisan fenomenal Basoek Abdullah, pertempuran Gatotkaca dan Antasena (1933)

Pertempuran Gatotkaca dan Antasena
Basoeki Abdullah (1933)

Sebagai pelukis potret dan figur - figur yang realis pada masa lalunya, Sohieb tergelitik untuk meminjam imej tersebut dari pendahulunya. Yang diplesetkan dengan judul Pertempuran Semar Versus Togog. Dalam dongeng, Semar yang merupakan perwujudan dari Batara Ismaya dan Togog dari Batara Antaga saling berebut menelan Gunung Mahameru. Untuk membuktikan siapa yang paling sakti di antara mereka dalam sebuah sayembara. Mereka, terutama Semar, masih dinarasikan para dewa di kahyangan yang belum sepenuhnya lepas ego, ingin memenangkan dirinya, mengalahkan liyan. Semar seperti menjadi tauladan bahwa masa lalunya tak lepas dari sifat - sifat kemanusiaan: kerakusan terhadap kekuasaan atau tafsir lain tentang kompetisi sengit hari ini antar manusia yang mengancam kelangsungan eksistensi semesta.

4

Mbegegeg Ugeg - Ugeg: Flowing and Flying360 x 200, Oil On Canvas, 2018

Menggambarkan Semar - Semar bertelanjangdada dalam 3 panel lukisan. Dalam konsepsi Jawa, pengertian itu adalah upaya manusia yang tak diam saja, bekerja dan berbuat, jika mendapatkan rezeki selayaknya menerima dengan ikhlas.



5

Game of Thrones
180 x 200, Oil On Canvas, 2018


Lukisan ini dekat dengan konsep Vox Populi Vox Dei, yakni suara rakyat adalah suara Tuhan. Dengan judul, Game of Thrones, lukisan Sohieb menterjemahkan kekuasaan yang diwujudkan oleh sebuah kursi ada di ujung jari telunjuk sang Semar. Uniknya, posisi Semar nampak sangat rileks, yang digambarkan sedang merebahkan diri di sebuah balai - balai. Seakan ia abai pada sekelilingnya dengan tangan kiri menyedot sebotol susu. Semar adalah kanak - kanak, apa adanya, jujur sekaligus naif.

Dengan karakter itu, Semar sungguh tak ada ambisi untuk melengserkan kekuasaan berpesan bahwa mereka yang berambisi menjadi pemimpin hendaklah mendengar dan memahami suara wong cilik. Bukan janji - janji dalam kampanye politik kemudian dikhianati.

Rakyat yang bermanifestasi menjadi Semar akan dengan mudah melengserkan kekuasaan seseorang jika ia mau. Tuhan dan Rakyat menyebadan dalam sosok Semar dalam versi lukisan ini.

6

Semar's Universe240 x 200, Oil On Canvas 2018


Di lukisan ini Semar melanglang buana ke angkasa. Sohieb ingin mengeksplorasi tafsir tentang konsep Jawa: Jagat besar dan kecil dalam diri manusia. Seperti juga dalam Islam pada Tassawuf, manusia sejatinya adalah pancaran energi Tuhan, sebuah proses emanasi dengan para penghuni langit. Mengejawantah dalam diri manusia yang memahami jagat kecilnya yang adalah perwujudan juga kosmos besar.


Sel - sel dalam tubuh, proses berkehidupan dalam perspektif ilmu biologi sejalan dengan hukum - hukum alam semesta. Kematian sebuah bintang, sebuah tata surya, sepaham dengan sirnanya atau matinya sel - sel dalam tubuh manusia, semuanya ada awal dan akhir. Tentunya dengan merujuk kaidah - kaidah tertentu dalam ilmu pengetahuan dan kalam Illahiah di kitab - kitab suci. Demikan pula karakter - karakter yang imanen dalam diri kemanusiaan kita. Gambaran Semar yang 'terjun bebas' dari daratan bulan ke atau sebaliknya menjadi king maker. Ia hanya bertutur jelas bahwa baginya kekuasaan adalah sesuatu yang remeh temeh. Ekspresi mukanya tersenyum menikmati, ia ingin bumi, sengaja hendak mengawasi hidup di sana dalam waktu yang sama berefleksi di dalam dirinya sendiri.

7

United Color of Semar375 x 200, Oil On Canvas, 2018

Lukisan Sohieb yang ini berpendar - pendar warnanya dengan latar kotak - kotak berisi sosok dari Che Guevara, Soekarno, sampai komedian Rowan Atkinson. Di sana terpapar samar - samar ada sosok "sesat" Hitler sampai legenda bandit Al Capone selain tokoh - tokoh mulia seperti Bunda Theresa dan Sidharta Gautama dengan figur kepala di arca candi sampai icon pornografi Jepang, Miyabi.

Semar dalam lukisan ini, seperti biasanya ia berlagak cuek, bergestur semaunya, jenaka, sampai membuat gerakan skipping, seakan Semar berbisik: "Segala apa yang manusia perbuat di dunia ini sering kali tak memberi makna hakiki. Mereka seperti bidak dan pion - pion di permainan catur".



Semar beralih rupa menjadi dzat yang melampau segala yang digambarkan di latar belakang lukisan. Dari tokoh sesat, mulia, komedia bahkan bintang porno adalah sebentuk permainan belaka; dari beragamanya polah dan tingkah manusia di jagat fana. Semar melampaui identitas - identitas dalam asumsi pikiran manusia: keyakinan reliji, etnisitas, ideologi, atribut - atribut dan jabatan - jabatan serta semua kemajemukan yang bersandar atas nama - nama itu.

Segala yang melekat dalam diri kembali ke asal. Kekosongan berhulu pada ke ketiadaan yang berarti kekekalan. Hidup sejatinya bermuatan mati. Semar di lukisan ini menyampaikan ujaran yang cukup mengena bahwa Ia adalah manusia sekaligus sosok berenergi transenden, tak pernah terpikat sesuatu yang dianggap paling besar maupun yang paling sepele dalam perspektif hidup manusia. Ia senyatanyanya di atas warna - warna terang, gelap, abu - abu dan lain - lain. Semata Semar hidup sejengkal di dunia, kemudian sirna menjemput kesejatian dalam perjalanan menuju ke kematian.



Sebagai penutup, mas Bambang Asri Widjanarko menuliskan:

Lukisan dan karya - karya Sohieb dengan menggali ide - ide dasar akar lokalitas adalah keniscayaan. Sebab, seni rupa kontemporer hari ini mengapresiasi datangnya era yang sejak 30 tahunan terakhir dengan sebutan Glocal: Global sekaligus Local. Sejarah seni Barat dan eksistensi estetika Barat, dengan cara pemahaman dan penyampaiannya pada publik telah lama menghegemoni kesadaran seni sejagat lambat laun berubah.

Kita mengingat seniman China seperti Ai Wei Wei atau Anish Kapoor dari India sebagai misal. Yang mengeksplorasi elemen - elemen tertentu kultural Timur. Demikian juga, tatkala seniman dunia dari Thailand Rikrit Tiravanija yang mengusung seni dengan estetika relasi: seni yang terhubung dengan orang banyak. Yang sejatinya, bukankah jenis karakter demikian adalah berakar dari seni rakyat, dalam konteks tradisi dahulu di teritori Timur?

Pada waktu yang sama, seniman Indonesia dengan seni kontemporer yang paling diapresiasi oleh dunia Internasional adalah Heri Dono yang terilhami oleh Wayang Jawa dan Komik. Maka, idiom - idiom Semar, sebagai subjet matter dari pelukis - pelukis kita adalah sudah menjadi kelumrahan atau sebagai kekuatan baru usainya generasi seniman yang lebih senior di Indonesia seperti Heri Dono.

Tentu saja, Sohien bukanlah Heri Dono, ia tak hendak menyalin siapa saja yang menggali ide - ide dasar kultur kita yang demikian majemuk. Sohieb dengan caranya sendiri, lahir dari Kediri, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang membuka kesadaran baru. Dari kota itu, tentang sosok manusia Semar, yang Sohieb membawanya terhubung dengan konsep besar bahwa sudah waktunya kita berkaca dalam diri.

Sohieb ingin memberi sumbangsih pada keIndonesian kita, melampaui sebuah teritori kuta kuno bernama Kediri; yang terus hari demi hari tumbuh bertambah besa dan semoga memberi dampak pula dalam peta besar seni rupa Indonesia yang kita cintai bersama.

Senyum Cerah Sohieb Toyaroja
Salam Budaya.

Komentar