Perjalanan ke Jember - Sebuah Penolakan - Bagian Pertama




Bagian Pertama.

Salam Budaya.


Tahun lalu Saya sengaja tidak pulang. Mementahkan kepercayaan Saya selama kurang lebih dari 20 tahun, bahwa tidak pulang atau mudik akan membawa Saya ke sesuatu hal yang kurang baik. Tidak. Tak berpengaruh apapun.

Selain Saya ikut bersih - bersih secara sukarela bersama teman - teman di Masjid Istiqlal beberapa kali, Saya memang ingin berniat memaknai arti ramadhan dengan cara Saya sendiri. Cara yang orang lain bilang ekstrim.

Suatu kali Saya pernah bilang ke Ibu,

"Ibu, bolehkan suatu saat Saya nggak pulang? Ritual ini begitu memaksa. Harga tiket sangat mahal. Saya harus berjuang dan bertempur untuk melawan jutaan manusia yang berbondong - bondong memacetkan jalan yang memang hanya kesempatan itulah satu - satunya mereka pulang atau mudik. Lha Saya? kan Saya bisa setiap saat, bisa pulang kapanpun".

Ibu Saya mengangguk. Beliau juga bilang,
"Ibu juga bosan lihat kamu."

Deal. No Hard Feeling.

Hari raya tahun lalu Saya, alhamdulillah bisa sholat Ied di Masjid Istiqlal. Selebihnya kosong. Hati ini kosong. Tak ada gempita keluarga. Tak ada opor ayam. Tak ada jalan ke masjid di pagi hari sendiri. Tak ada madu mongso.

Madu Mongso (Pinjam gambar dari https://titinwulan.wordpress.com/2013/09/18/yang-tersisa-dari-cerita-mudik-part-2/)

Takbir yang menusuk hati dan menggelisahkan jadi terdengar menjauh. Tak ada suara teman - teman SMP yang ngakak karena becanda jorok. Tak ada teman SMA yang support karier.

Ahh.

SEPI

Saya menorehkannya dalam suatu tulisan setahun yang lalu,

Satu pelajaran lagi yang Saya pahami tentang Saya siang ini. Ternyata Saya punya satu Teman Baik selama ini. Namanya Penolakan. Nama Bahasa Inggrisnya Rejection.

Sejak kecil, Saya bergaul akrab dengan dirinya dan dia banyak sekali mengundang beberapa teman sebayanya. Namanya mereka bermacam - macam. 

Ada si Sakit Hati, Kecewa, Penghinaan, Pengucilan, Perendahan, Olok - Olok. Mereka semua teman - teman yang menyenangkan dan seallu bisa diandalkan.

Setiap kaki Saya melangkah dalam hidup ini, mereka muncul. Bahkan sampai sekarang ini hingga Saya mulai terbiasa.

Ada rasa aneh, saat ada orang memberitahu kalau mereka sebenarnya adalah sekumpulan Geng yang Negatif. Bagi orang lain Geng itu sangat ditakuti. Sampai - sampai orang lain mau dan harus menjadi palsu, saling menjilat, bahkan memfitnah begitu ingin menghindari Geng Negatif ini.

Saya tidak. Saya orangnya apa adanya. Mereka seakan otomatis menemani.
Bahkan ada yang memberitahu pada Saya. Saya seharusnya bisa berdamai dengan mereka. Berdamai dengan hati Saya sendiri.

Kalau ada yang tanya, apakah ada efeknya bagi kehidupan Saya?
Anehnya, begitu Saya mulai berdamai dengan mereka. Mereka seakan menumbuhkan energi dan vitamin positif di badan Saya ini. Saya bahkan bisa dan mampu melahirkan teman - teman baru.

Nama mereka unik, karena kabarnya mereka lebih susah dihadirkan, ada si Ikhlas, si Kebaikan, Si Menghargai Sesama, Si Memuji, Si Menghormati, dan Si Menerima Apa adanya.

Nah, Geng yang Saya sebut ini juga tak kalah baiknya. Mereka menyelimuti Saya dengan kebersyukuran dan usaha untuk memperbaiki diri sendiri. Serta dengan hebatnya, tanpa lelah terus mengingatkan Saya untuk jangan pernah takut dengan Geng Negatif.

Untuk kemajuan, Saya melangkah satu pijakan lagi. Saya mulai memahami diri Saya Sendiri.

"Sebuah pemikiran pendek, sebagai jawaban pertanyaan dari Kenapa Saya susah menolak, susah untuk tidak berbuat baik dan sudah untuk tidak menjawab tidak."


Tahun ini Saya menolak. Saya pengen pulang. Saya pengen semua Geng Positif itu ada dan muncul sebagai yang menguasai Badan ini. 

Walau keadaan serumit apapun, Saya mau singgah di rumah tercinta. Saya mau pulang.

Dengan sekuat tenaga, Saya cari duit, Saya cari jadwal. Alhamdulillah Saya nemu tanggal 6 Juni. Sehari penuh bakal akan Saya tempuh.

Yang tas biru itu Pakaian, Tas putih itu dompet dan Charger dan yang Jingga itu bekal buat buka puasa.
Perjalanan Kereta Api cukup menyenangkan. 

Dahulu naik kereta api itu penuh dengan perjuangan. Bau, gelap, panas, capek, dan kita masih diintai oleh Bajing Loncat yang beberapa kali beraksi di depan mata Saya. Belum lagi yang jualan, dari tahu, nasi bungkus, mijone, burung kakak tua hingga monyet.
Kini semua berakhir, Saya selalu naik kereta api dengan tersenyum karena memang membahagiakan. 12 Jam Saya lalui dengan penuh keceriaan karena bersih (termasuk toiletnya), terang benderang, ekonomi sudah menggunakan AC, tempat duduk berdasarkan tiket dan sudah mulai (hampir) tepat waktu.
Alhamdulillah, di saat kepepet dan bingung cari buka puasa, Kereta Api juga menyediakan Makan dan Air Mineral Gratis. Wah senangnya. Semoga selalu berkah. Aaamiiin.
Terima kasih
PT. Kereta Api.



Setelah menempuh sekitar 12 jam. Kereta Api Jayabaya dari arah Stasiun Pasar Senen Saya sampai di Stasiun Gubeng. Sayangnya untuk melanjutkan perjalanan dari Stasiun Gubeng menuju ke Stasiun Jember, kereta api awal hanya ada Kereta Probowangi dan itu baru ada pukul 04.25 WIB. Okelah. Lebih baik Saya leyeh - leyeh di lantai.

dan yang hitam itu adalah keset bersih besar di pintu masuk Stasiun Gubeng

Sesekali melihat dan memeriksa pagi yang kurang beberapa jam.


Seorang Anak tengah menikmati telpon dari Pamannya. Ia bahagia sekali karena punya keinginan untuk pulang dan bercerita kalau dia sekarang agak kurusan. Ibunya terkekeh sambil terus memandu untuk menjawab apa yang seharusnya anaknya jawab bila ditanya. Sang Anak terus tertawa manja membuat kami sama - sama tertawa.

Oh indahnya, apa yang dia rasakan tentang arti dan waktu Mudik. Saya teringat dan gagal memadukan itu untuk merasakan apa yang pernah terjadi di waktu kecil. Saya tak pernah mudik. Saya asli Jember dan tetap di situ hingga menjelang dewasa.

Saya tak punya rasa tentang mudik.

Maaf Ya Allah. Lupa akan kebersyukuran yang Saya bahas di atas.

Okay. Saya pulang dan tak sabar naik ke Kereta Probowangi.


bersambung ...

Komentar

  1. selalu ada nilai-nilai kehidupan dalam setiap tulisanmu kang.. nice (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, selalu ada pujian yang mesti membuatku tersipu. Hehehe

      Hapus
  2. Tanggung ya, gak ada kereta ke Situbondo wkwkwk jadi harus mampir ke Jember dl.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah berarti harus ke Jember memang

      Hapus

Posting Komentar