Eliminasi Kaki Gajah



Salam Budaya!

Jujur. Hidup ini kalau dilihat memang serba complicated alias rumit (menurut anak Jaksel). Tapi tahukah kalian, sebenarnya kalau kita mau menyisir satu persatu dan perlahan serta diikuti dengan kesabaran luar biasa, sesuatu yang terdengar, terlihat dan terasa sangat Ribet, Rumit, Riweuh, Rempong tingkat dewa pun bisa teratasi dan sanggup kita hadapi bersama - sama.

Sepertinya itulah inti yang Saya terima dari pertemuan Blogger Belkaga 2018, kali ini yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang berkantor di Kuningan - Jakarta Selatan.

Beberapa teman blogger yang sudah siap sejak pagi.

Nah tema dan tagar kali ini adalah Eliminasi Kaki Gajah. Untuk mengetahui lebih lanjut dan lebih jelas, juga kami dipertemukan dengan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor Zoonotik Kementerian Kesehatan dr. Elizabeth Jane Soepardi MPH, Dsc dan Anggota National Task Force Filariasis - Prof. Dr. Dra. Taniawati Supali untuk benar - benar mengupas tuntas "Kebijakan Penanggulangan Filariasis Di Indonesia"



Sebentar - sebentar katanya tadi Kaki Gajah terus apa juga Filariasis itu?

Okay Saya jelaskan perlahan - lahan ya .... Sabar. Mohon pembaca merespon dengan bijak karena ada penjelasan dengan gambar yang memang tidak nyaman untuk dilihat. 


Menurut Wikipedia adalah

Penyakit zoonosis (infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan manusia atau sebaliknya) menular yang banyak ditemukan di wilayah tropika seluruh dunia. Penyebabnya adalah sekelompok cacing parasit nemtoda (Cacing Gilig) yang tergolong superfamilia Filarioidea yang menyebabkan infeksi sehingga berakibat munculnya edema (pembengkakan pada anggota tubuh yang terjadi karena penimbunan cairan di dalam jaringan)

Gejala yang umum terlihat adalah terjadinya elefantiasis (penebalan kulit dan jaringan-jaringan di bawahnya) , berupa membesarnya tungkai bawah (kaki) dan kantung zakar (skrotum), sehingga penyakit ini secara awam dikenal sebagai penyakit kaki gajah. Walaupun demikian, gejala pembesaran ini tidak selalu disebabkan oleh filariasis.

dari wikimedia.org

Filariasis biasanya dikelompokkan menjadi tiga macam, berdasarkan bagian tubuh atau jaringan yang menjadi tempat bersarangnya: filariasis limfatik, filariasis subkutan (bawah jaringan kulit), dan filariasis rongga serosa (serous cavity). 

Filariasis limfatik disebabkan Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, dan Brugia Timori. 

Gejala elefantiasis (penebalan kulit dan jaringan-jaringan di bawahnya) sebenarnya hanya disebabkan oleh filariasis limfatik ini. B. timori diketahui jarang menyerang bagian kelamin, tetapi W. bancrofti dapat menyerang tungkai dada, serta alat kelamin. 

Filariasis subkutan disebabkan oleh Loa loa (cacing mata Afrika), Mansonella streptocerca, Onchocerca volvulus, dan Dracunculus medinensis (cacing guinea). Mereka menghuni lapisan lemak yang ada di bawah lapisan kulit. Jenis filariasis yang terakhir disebabkan oleh Mansonella perstans dan Mansonella ozzardi, yang menghuni rongga perut. Semua parasit ini disebarkan melalui nyamuk atau lalat pengisap darah, atau, untuk Dracunculus, oleh kopepoda (Crustacea).


Selain elefantiasis, bentuk serangan yang muncul adalah kebutaan Onchocerciasis (kebutaan sungai atau Penyakit Robles) akibat infeksi oleh Onchocerca volvulus dan migrasi microfilariae lewat kornea. Filariasis ditemukan di daerah tropis Asia, Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, dengan 120 juta manusia terjangkit. WHO mencanangkan program dunia bebas filariasis pada tahun 2020.

Nah, bagaimana situasinya sendiri di Indonesia? Ternyata masih menjadi ancaman yang sepenuhnya kadang kita tidak sadar. (Beruntung sekali Saya bisa menjadi salah satu yang disadarkan). 

Dalam data Filariasis tahun 2018 tercatat, dari 514 kabupaten/kota sebanyak 236 kabupaten/kota endemis filariasis dan 278 kabupaten/kota non endemis filariasis. Dari 236 kabupaten/kota endemis filariasis itu, sebanyak 131 kabupaten/kota melaksanakan POPM Filariasis dan 105 kabupaten/kota evaluasi dan surveilans pasca POPM Filariasis.

Nah, nah, nah. Dari gambaran penyebaran di atas sepenuhnya kita belum aman kan? Yang paling parah dari semuanya adalah banyak dari kita meremehkan akan gigitan nyamuk. Padahal gigitan nyamuk adalah SATU SATUNYA cara yang membuat filariasi ini menular dan mengakibatkan kaki gajah. Suatu fakta yang menurut Saya cukup mengerikan dan menggemparkan dimana, di masyarakat kita masih berkutat dengan pengetahuan bahaya digigit nyamuk masih seputar Demam Berdarah dan Malaria. (Sudah Saya tulis sebagai salah satu upaya mewaspadai nyamuk, di Hari Nyamuk Sedunia)

Bahkan Dokter Elizabeth menandaskan, apapun yang kita lakukan untuk memberantas Nyamuk dari lingkungan kita, minum obat yang dianjurkan plus perawatan intensif dari penderita sudah cukup sekali untuk menekan epidemi ini.



Pagi itu oleh pembicara kita disajikan beberapa slide untuk menunjukkan betapa mengerikan dan membuat kita terkaget-kaget (teman - teman blogger mengeluarkan suara kepedihan dan prihatin) atas apa yang terjadi bila kita terkena penyakit Kaki Gajah ini. Tentunya menjadi suatu penyakit yang mengganggu keseharian dan penderitaan apalagi cacat permanen akan menjadi ancaman bagi penderitanya.

Bagaimana gambaran penderitaan berdasarkan tahapan / stadiumnya?


Bisa dibayangkan sekarang?

Anggota National Task Force Filariasis Prof. Dr. Dra Taniawati Supali kembali menegaskan, masih ada kesempatan untuk penderita yang masih stadium 1 dan stadium 2 untuk bisa diobati dan ada kemungkinan belum terlambat. Tapi waspada bila stadium sudah berada di atasnya, bisa mengakibatkan cacat seumur hidup. 

Lalu bagaimanakah cara yang terbaik untuk mencegah Filariasis ini?


Jelaskan, intinya mari kita berantas nyamuk!

Salah satu pencegahan berikutnya adalah melakukan POPM (Pemberian Obat Pencegahan Masal) yang merupakan program pemerintah di bulan Oktober secara serentak di daerah endemis di Indonesia dengan nama BELKAGA (Bulan Eliminasi Kaki Gajah).


Manfaat ganda akan didapatkan bila kita melakukan POPM Filariasis yakni Mencegah Filariasis dan juga Mencegah Cacingan.

POPM akan diberikan bila suatu daerah setelah dihitung akan mengalami namanya Mikro Filaria Rate (angka rata - rata per 100 orang yang mengandung Mikro Filaria) lebih dari 1 persen. 

Ada tiga kategori dalam pemberian obat kaki gajah tersebut. Semua disesuaikan dengan dosis umur. Yaitu usia 2-5 tahun (paket 1 berupa puyer), usia 6-14 tahun (paket 2 berupa tablet), dan usia di atas 14 tahun (paket 3 berupa tablet).

POPM
POPM sendiri bertujuan:

Menurunkan kadar mikrofilia di dalam darah sehingga tidak ada lagi terjadi penularan, walaupun POPM filariasis sudah dihentikan

Semakin besar proporsi penduduk minum obat, semakin besar peluang untuk memutuskan rantai penularan

Seluruh lapisan masyarakat, berusia 2 hingga 70 tahun yang tinggal di kabupaten atau kota endemis filariasis harus minum obat pencegahan.

Sangat sulit untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi pada tahap awal karena gejalanya sangat umum.

Obat pencegah Filariasis ini benar - benar diminum sesudah makan dan diminum langsung di depan petugas. (karena ada beberapa kasus, orang merasa sehat - sehat saja dan tidak merasa perlu minum obat padahal mereka positif kena) serta diulang sekali dalam setahun sampai 5 tahun hingga benar - benar terbebas.

Sasaran POPM Filariasis adalah semua penduduk di daerah endemis filariasis. Pengobatan dapat ditunda sementara bagi anak yang berusia kurang dari 2 tahun, ibu hamil, penderita gangguan fungsi ginjal, penderita gangguan fungsi hati (gagal hati kronik akut), penderita epilepsi), sedang sakit berat, penderita kronis filariasis dalam serangan akut, anak dengan marasmus dan atau kwarsiokor. Ibu menyusui boleh minum obat pencegah penyakit kaki gajah.

Setelah minum obat pencegahan filariasis, dimungkinkan timbul kejadan ikutan umum yakni mual/mentah, sakit kepala, demam, mengantuk. Reaksi umum yang muncul biasanya berlangsung kurang dari 3 hari dan sembuh sendiri tanpa perlu diobati. Jika terjadi hal lain, segera hubungi puskesmas/dokter terdekat.

Bagaimana teman - teman, sudah jelaskah. Jaga kesehatan dengan baik tetap waspada dan bersama - sama kita Eliminasi Kaki Gajah. Mari sebarkan informasi dan kewaspadaan ini ke seluruh masyarakat dan bersiap untuk POPM di daerah yang masih mengalami kewaspadaan terhadap Kaki Gajah.

Setuju?

Salam Budaya.

Sumber: Twitter Kemenkes RI.

Komentar

  1. Serem juga ya... semoga terjauh dari penyakit ini
    .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya makanya ayo waspada. Biar kita tak terjangkiti. Aaaamiin.

      Hapus
  2. Alu sangka udah musnah penyakit in. Ternyata masih mengancam juga ya. Seram. Thanks for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum. Karena jangkanya tiap 5 tahun sekali

      Hapus
  3. Ternyata menyeramkan sekali ya, makasih atas informasinya. Sangat bermanfaat sekali

    BalasHapus
  4. Kaki gajah ini pernah denger duluuu banget mas, baru tau kalo ini juga termasuk penyakit yg mengancam. Informatif, makasih mas

    BalasHapus
  5. Di daerahku ada yang kena filariasis ini.. sayang banget. Udah berobat kemana2 belum ada hasil. Semoga tidak ada lagi kejadian filariasis ya... mencegah lebih baik drpd mengobati..ayok tuku batnyamuk hehe

    BalasHapus

Posting Komentar