Himbauan Hidup Tanpa Merokok Tanpa Mengajak Ribut

Dedy Kecil - Pria di Dalam Gelas



Salam Budaya!

Semalam Saya mimpi. Mimpi Ibu Saya lagi marahin Saya. Sayangnya Saya lupa apa topik kemarahannya itu. Jelasnya, seperti biasa, believe it or not, Saya selalu dimarahi tentang hal - hal kecil yang tak begitu penting atau semacam pencarian kesalahan tentang apa saja yang Saya lakukan sehari - hari. 

Pernah suatu saat, Saya pernah dimarahi Ibu hanya gara - gara di malam minggu Saya memilih tinggal di rumah. Saya memang lagi sibuk menantang otak Saya. Menggunakan alarm dari jam tangan, Saya sengaja bergantian jam mengerjakan puzzle dan sejam berikutnya membaca 3 novel Agatha Christie dengan mengganti buku berikutnya setiap ganti bab. Entah orang mau bilang itu seaneh apa, Saya nggak peduli. Yang Saya tahu itu menyenangkan karena memang benar - benar menantang.

Ibu marah sekaligus mengusir.

"Kamu ini anak apaan sih? Eneg banget ngeliat kamu terus aja di rumah. Di kamar. Ini malam minggu. Keluar sana. Ibu bosan lihat kamu".




Hati Saya tersayat. Nggak tahan selalu dicerocosin. Saya tumben - tumbenan bereaksi dan berusaha membela diri. Padahal biasanya Saya adalah jenis anak yang patuh, diam bahkan tak pernah berani merespon.

"Bukannya Ibu itu seharusnya bangga ya, punya anak kayak Saya. Nggak ngrepotin orang tua. Saya itu nggak pernah merokok, lho. Nggak bisa naik motor (jadi nggak bakalan kebut-kebutan di jalan). Nggak pernah minta uang jajan. Diam di rumah. Nggak pernah bikin orang tua merasa khawatir. Kelihatan di kamar dan di rumah. Terus Saya harus bagaimana lagi, Ibu?"

Anehnya yang nangis tetap Saya. Ibu mah bodo amat. Dia seakan - akan tidak berpengaruh terhadap pembelaan Saya itu. Malah kadang Saya pernah berpikir. Apa Saya nakal saja, ya? Mabuk - mabukan misalnya. Tapi buru - buru Saya batalin. To be honest. Saya nggak cocok jadi anak nakal. Nggak ada tampang. Beneran.


Tampang Pria Baik Baik

Kembali ke mimpi yang Saya ceritakan tadi. Saya sampai terbangun dan merasa akhirnya memutuskan untuk melanjutkan menangis. Sambil berusaha untuk tidur lagi, Saya membayangkan diri sebagai seorang yang selama ini masih saja terperangkap di dalam gelas yang besar. Saya ternyata hanya mampu melihat keadaan di sekitar tapi tak bisa membantu dan berbuat banyak.

Entah ini absurd atau tidak. Yang jelas ingatan masa kecil makin menjadi. Saya baru sadar kalau dulu waktu Saya kecil Saya memang 'disekap' di kamar depan. Memang tidak dikunci. Tapi pintu kamar itu tak pernah dibuka. Saya tak pernah dibawa dan dipamerkan ke orang lain. Saya tersembunyi. Saya adalah anak yang terbiasa terbangun pagi dan membersihkan mata Saya yang tertutup karena belek akibat obat mata yang harus Saya teteskan di malam hari. Belum lagi ada darah di hidung atau telinga (itu apa ya sebenarnya? kotoran kah. Maaf, Saya juga nggak paham).

Sesekali Ibu hanya membuka kamar dan menanyakan kabar dan menyuruh makan.

Ya. Saya lama terperangkap dalam gelas itu. Beneran.

Saya jadi ingat kejadian di tahun 1992.

Waktu itu Saya punya teman sekelas waktu SMP kelas 2. Namanya TriYudi. Saya terpesona oleh ulahnya yang kocak. Dia punya senyum yang lebar dan memamerkan susunan geliginya yang sempurna. Saya suka dia. Saya harus menjadi teman dia dan kita menghabiskan sekolah dengan tertawa yang tiada habisnya bercanda.

Suatu hari yang sangat mengejutkan.

Saya dapat kabar mas Triyudi ini telah menghembuskan nafas terakhir. Kabarnya segera setelah dia usai menunaikan ujian SECABA, dan pulang jalan kaki, beliau tak mendengar kereta api yang lewat di saat ia menyeberang.

Saya shock. Benar - benar merasa kehilangan.
Beberapa hari setelah itu usai sholat Saya selalu mengirim doa untuk beliau semoga arwahnya diterima disisiNya.

Di hari ketujuh, Saya mimpi. Di mimpi itu tiba - tiba saja Saya berada di suatu ruangan yang terbuat dari gelas (ya gelas dalam arti sebenarnya). Gelas besar. Saya berada di dalamnya. Gelas itu jelas jelas melingkar dan tembus pandang hingga Saya bisa jernih memandang keluar.

Tiba - tiba ada suara yang keluar,
"Dedy ikhlasin saja ya, temannya. Cukup doamu itu. Temanmu sudah bahagia. Bukannya kamu tahu kalau orang yang meninggal karena dalam usahanya menempuh ilmu itu dianggap mati syahid".

Saya cuman bisa mengangguk. Dimana dia?

Suara itu menunjuk ke luar. Saya melihat sekelompok anak tengah bermain di tempat yang mirip taman bermain. Semuanya berumur sama. Saya berasumsi Triyudi telah menjadi anak - anak itu. Seumur anak suci.

"Dia sudah bahagia dengan teman - teman lain yang mengalami hal yang sama"

Oh. Saya terbangun.
Saya merasa terjawabkan atas pertanyaan Saya selama ini. Tapi yang Saya herankan, ada apa dengan ruangan berbentuk gelas itu? Saya pernah dapat pengetahuan dari mana ya?

Atau dari buku ini? Entah

Seingatku ada gambaran alam lain yang menjelaskan suatu ruangan yang memang berbentuk gelas. Saya lupa.

Itulah kenapa Saya suka mengurung diri di kamar. Kamar adalah segalanya bagi Saya. Saya bisa telanjang. Bisa menulis. Bisa menyanyi. Bisa konser. Bisa menari. Saya menutup diri.

Lalu kenapa? Apa yang Saya rasakan sementara ini tetap sama.

Begitulah keadaanya. Tentang apa lagi? Ayo tantang Saya lagi. Cinta? Keuangan? Profesi?

Apa yang kau ingin ketahui tentang diriku?


Komentar