Himbauan Hidup Tanpa Merokok Tanpa Mengajak Ribut

MENGGURITA - 008 - TAKUT



TAKUT 

Beberapa hari kemudian, seperangkat komputer dan jaringan internet datang dan siap dipasang. Petugas tengah sibuk menyiapkan semuanya. Aku, mbak Dwi dan mbak Hani tersenyum lebar dengan rejeki ini. Pekerjaan kami tentuka akan lebih mudah. Segala pemesanan alat musik dan aksesoris akan lebih cepat dan tentu saja hemat kertas. Untuk membuat semuanya terkesan resmi, aku siang itu mengirim email pertama ke cabang Bandung. Sekaligus berkenalan dengan orang di cabang sana. Pendek kalimatnya, 

“Halo, Saya Dedy Darmawan. Saya sekarang yang bekerja dan bertanggung jawab di Order Pusat. Salam kenal buat yang ada di sana. Terima kasih”. 

Mereka langsung menjawab, 

“Salam kenal, Saya Lisa. Sekretaris dari Pak Buwono, perwakilan kita di Bandung. Ah Bapak ramah sekali ya, Salam kenal, juga.” 



Aku tersenyum. Di pojokan pintu, mbak Wiwik tampak tidak begitu suka. Sepertinya ia takut akan sesuatu. 

Siang itu aku makan bersama mbak Wiwik di lantai satu. Suasana sore itu agak sepi. Sepertinya Pak Maryanto juga keluar bersama mas Eko. Para tukang sudah pulang. 

“Saya itu merasa ada beban, mas Dedy. Cuma Saya percaya kalau mas Dedy itu baik. Saya pengen ngomong sesuatu. Tapi tolong jangan tersinggung,ya ?. Saya cuma pengen semuanya baik.” 

Datang juga akhirnya, sesuatu yang terasa mengganjal di hati selama ini. 

“Kenapa, Mbak? Ada apa?”. Aku pura – pura perhatian dan prihatin. Sepertinya itulah cara yang cocok untuk menghadapi situasi ini. Situasi dimana aku sendiri, pribadi, tak tahu menahu, mana yang harusnya jadi kawan atau bahkan menjadi lawan. 

Mbak Wiwik sedikit memicingkan matanya, 

“Pak Maryanto itu pada dasarnya orangnya baik. Cuma kadang kita harus tahu sebenarnya apa yang dia inginkan.” 

Aku mengangguk dan menunggu kalimat yang agak berat untuk menjadi patokan apa dasar ketakutannya. 

“Pak Maryanto tidak begitu suka dengan teknologi dan Saya pribadi menganjurkan supaya Mas Dedy menyelesaikan buku harga itu dengan segera, yah …. tampaknya mungkin masih enam atau delapan bulan lagi. Itu pun kalau rutin dikerjakan. Bagi Saya itu sesuatu yang melegakan dan Saya bisa, mungkin bisa akhirnya, meninggalkan pekerjaan ini dengan aman dan yakin”. 

Jujur aku semakin merasa terancam dan makin banyak dugaan kenapa sebenarnya mbak Wiwik ini harus keluar dan apa yang terjadi sebelumnya. Apakah performanya buruk? Jawabannya yang mustahil kalau itu iya. 

Aku akan mainkan permainan ini. Aku anak baik – baik tapi mungkin aku bukan anak yang bodoh. Setiap hari hingga sore aku akan bekerja keras dan teliti untuk mengarsipkan dengan baik apa yang dipesan dan apa yang telah terjadi di beberapa cabang kami. Aku mengajak mbak Dwi dan mbak Hani untuk tiap sore, memeriksa atau klop – klopan setiap transaksi yang terjadi. Jadi hampir mustahil kalau terjadi kecolongan angka atau arsip. Tiap malam aku mengendap – endap di kantor ku sendiri. Menyalakan komputer, membuat rumus dengan excel, mengisinya dengan format harga dan perlahan – lahan mencetaknya dan menyimpannya lembar per lembar. Aku sendiri merasa tak tahu kenapa harus melakukannya, tapi suatu hari nanti aku akhirnya mensyukurinya. 

Aku cuma mengangguk dan tidak menambah kecemasan. Cuma kegelisahannya makin menjadi. 

Aku mengantar mbak Wiwik pulang di jalana yang meliuk beberapa ratus meter ke bawah. Angkot hanya berlalu setengah jam sekali, waktu sudah mendekati pukul 5 sore. Udara sudah mulai dingin. Kabut yang biasa menghiasi, perlahan sebenarnya sudah mulai mengambang dan membuat pandangan dari jauh sudah mulai tak terlihat. Aku berdiri agak canggung. Mbak Wiwik hanya bersendakap saja. Dari kejauhan tiba – tiba ada mobil kantor mendekat. Mas Eko menyapa dengan melambaikan tangannya dan berteriak. 

“Kita semua di suruh ke kantor sama Bapak”. 

Mbak Wiwik menoleh cemas. Ia berbisik, “Ini salah ketakutan Saya, mas Dedy. Salah satunya ya ini. Kamu tak akan punya waktu bebas. Begitu beliau memanggil. Kita harus bekerja”. 

Mas Eko juga berbisik ke mbak Wiwik dan membuatnya mengangguk. Aku mulai memahami semua ini menjadi satu hal bahwa ini sebenarnya adalah perbudakan modern. Kami semua hanya pembantunya. Ini cara beliau memperkenalkan para pembantunya, bukan pegawainya. Tapi pesuruhnya. 

Kami balik ke ruang kantor yang terbuka di lantai 3. Malam telah tiba. Aku sempatkan mandi dan berganti baju. Sepertinya mbak Wiwik melakukan hal yang sama, mungkin dia telah punya beberapa baju yang dititipkan di mbak Siti. 

“Aku ketinggalan kunci di desa sebelah. Mas Eko yang tahu tempatnya dan bentuknya. Rumah Mas Eko kan di situ. Aku minta tolong untuk mengambilnya malam ini. Mbak Wiwik tolong temani Mas Eko. Mas Dedy juga boleh tolong temani mereka berdua. Kasihan malam – malam begini harus menyeberangi sungai”. 

Mas Eko dan mbak Wiwik menyanggupi. Aku tak sanggup berkata apa – apa. Kami semua pegawainya, kami semua pesuruhnya. Aku mengerti sekarang. Ini cara mereka bermain. Ini mungkin sumber ketidaknyamanan dan ketakutan dari mbak Wiwik. 

Kami berjalan di kegelapan malam. Mas Eko membawa senter model lama yang masih panjang bentuknya. Panjangnya itu terjadi karena memang baterei yang mengisinya bertipe besar dan terdiri dari beberapa buah. Semua berebut di tengah, tapi karena mbak Wiwik, satu – satunya wanita, kami mengalah, dia kami tempatkan di tengah. Mas Eko yang tahu jalan berapa di depan, dan sial sekali aku ada di belakang. Tak pernah bisa membayangkan kalau ada sesuatu yang mencolek aku dari belakang. 



Malam itu malam yang sepi. Di langit bulan tengah purnama. Jadi mata ini antara terlatih melihat dalam keadaan gelap atau perasaanku saja hingga semuanya menjadi serba biru tua. Kami perlahan – lahan dan berhati – hati menuruni lereng menuju suatu tempat yang datar. 

“Kita ini menyeberangi apa, mas Eko?”. 

“Kali (Sungai), mas Dedy. Tapi tenang lagi surut, kok. Jadi kita hanya menyeberangi hamparan bebatuan saja”. Aku mengangguk puas. Aku nggak mau di malam yang gelap ini, aku harus membasahi tubuh ini. Pasti masuk angin jadinya. 

Tapi benar juga ya, kenapa jadi merinding begini jadinya. Mas Eko yang biasanya penuh guyonan jadi diam. Mbak Wiwik menyatakan takut dari awal. Kenapa? Ada apa ini? Kenapa aku juga jadi takut? 

Kami saling senggol dan tiba – tiba saja senter itu mati. Mas Eko menghentakkannya ke tangan beberapa kali berharap senter itu menyala lagi. Ya ampun, kenapa sih kok seperti ada di film – film horror Indonesia? 

“Tenang. Bulan sedang purnama. Kita sudah dekat sungai dan menyeberanginya. Lihat saja ke atas. Langit terang benderang, kok”. 

Aku cukup tenang. Menyusuri sungai yang airnya surut dan meninggalkan tebaran bebatuan kecil yang menarik untuk dilihat. 

Mbak Wiwik berteriak mengagetkan dan sontak menutup matanya. Aku terkesiap dan pucat. Di sebelah kanan kami, di batu besar. 

Fixed. Seonggok benda tengah duduk santai bak putri duyung. 

Yup. Itu POCONG. 





BERSAMBUNG

Komentar