Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Jack Lance - Zone - Novel yang Punya Gaya Sendiri

Gambar
Salam Budaya! Pemirsah, harus Saya akui Saya akhir-akhir ini memang jarang membaca buku (Coba kita pikirkan, bahwa buku yang kita bicarakan ini adalah memang buku yang tebal dan perlu konsentrasi khusus untuk membaca), kalau aktivitas membaca yang lain seperti berita, tulisan jurnal, catatan, blog, kisah orang di facebook, twitter atau media sosial lain, Saya masih baca. Tapi buku, Wew. Saya punya alasan ala-ala , mau tahu nggak ? Karena bagi Saya membaca buku itu sebuah ritual yang nggak main-main. Sakral. Keramat. Penuh dengan perlunya ketenangan batiniyah dan fisikiyah. Hadeh! Ya udah. Tanpa alasan lain. Saya terima undangan Book Launch (Luncur Buku - Penggunaan Bahasa Indonesia sangat dianjurkan oleh mas Ivan Lanin) yang diadakan Penerbit BIP (Bhuana Ilmu Populer) dan Gramedia - Central Park Mall, sebuah buku bersampul Biru (laki banget sampulnya) berjudul ZONE karya pak Jack Lance. Acara pas dimulai jam 2 siang. Okay, berangkat! Tapi tunggu, Saya belum...

Siaga dan Tanggap pada Bencana

Gambar
Memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional   26 April 2018 Salam Budaya! " Amit Amit Jabang Bayi " (sambil mengelus-elus perut), begitu sering Saya dengar kalau ada orang mulai membicarakan atau membayangkan tentang bencana, khususnya Bencana Alam. Ini sekedar untuk menggambarkan bahwa TAK ADA SEORANG PUN di dunia ini ingin mengalami yang namanya bencana. Sampai mendoakan jangan sampai dia dan seluruh keturunannya terlepas dari bencana. Tapi titik pembicaraan kita bukan di situ, ternyata banyak dari masyarakat bahkan Saya, sebenarnya juga tidak tahu, paham, mengerti bagaimana kita mengantisipasi diri dari bencana. Okay, kita tidak ingin daerah kita banjir, dan selalu berusaha dan berdoa agar kita tidak mengalami banjir, tapi apakah masyarakat yang tak pernah terkena banjir tahu bagaimana cara menyelamatkan diri dari banjir? Gara-gara mereka belum pernah mengalaminya? Atau bagaimana bila kita bertamu atau berkunjung ke suatu daerah dan tiba-tiba ...

Kisah Dedy Kecil - Kesumat

Gambar
Dedy Kecil bertemu lagi dengan Mbah (Neneknya). Ia tak punya sebutan Mbah untuk Kakeknya karena persediaan Kakeknya telah habis jauh sebelum ia lahir. Begitu senangnya dia bertemu karena terlihat Mbah tidak begitu kejam dan cerewet akhir-akhir ini. Ia menimang cucunya itu di ruang tamu, "Mbah punya duit. Mbah kasih kamu duit yo? Ojo dientek ke (Jangan dihabiskan). Ojo njajan wae. Yo ?", kata Mbah Misinah. " Inggih Mbah", kata Dedy Kecil menjilat. Menyenangkan hatinya. Mbah terkekeh. Sederetan gigi emasnya yang tidak indah dan sebenarnya tidak enak dipandang mata bahkan malah membuatnya terlihat seram, terpampang dengan nyata. Mbah seperti petinju yang menggunakan pelindung gigi yang terbuat dari emas.  Mbah Mis sayang pada Dedy Kecil, beliau juga senang kasih uang. Limapuluh ribu. Uang yang sangat banyak saat itu. Ia menciumi Dedy Kecil dengan gemas. Dedy Kecil pun tertawa geli. Sayangnya Mbah harus pulang siang itu ke desa, Ia pergi denga...