Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

MENGGURITA - 007 - PAK MARYANTO

Gambar
BAPAK MARYANTO  Beberapa hari aku sudah mulai terbiasa dengan ritme dan cara kerja di sini. Sebagai penyemangat, dipekerjakanlah dua orang gadis untuk meringankan pekerjaan karena memang ternyata pekerjaan Mbak Wiwik selama ini terlalu luas cakupannya. Satu bernama mbak Dwi, seorang auditor dan mbak Hani, dia, semacam, asistenku lah.  Kamar kelinci sudah menjadi sahabatku. Aku tertidur nyenyak selalu setelah jam 8 malam karena memang lelah sekali mengerjakan apapun yang terjadi di rumah ini termasuk tugas terbaruku. Apa itu?  Membayar Para tukang.  “Apa, pak?”, tanyaku gelagapan.  Pak Maryanto sepertinya memang penuh dengan kekuasaan dan tak boleh disalahkan.  “Kamu kan lulusan Teknik Arsitektur. Ya. Pasti punya pengalaman dengan yang namanya Tukang. Pekerjaan Proyek. Begitu – Begitu.”  Itu mah namanya pekerjaan tambahan. Aku terikat dengan rumah ini sekarang. Mulai makan, ngantor sampai mengurusi pembantu dan para tu...

MENGGURITA - 006 - KERJA KERJA KERJA

Gambar
KERJA KERJA KERJA  Dua orang karyawan diperkenalkan lagi pagi itu. Namanya mbak Fatima dan Mbak Cici. Mbak Fatima adalah orang yang selama ini bertanggungjawab dalam inventaris gudang sedangkan mbak Cici adalah perwakilan dari kepala Gudang.  Aku mengangguk – angguk mencoba dengan perlahan minum banyak pengetahuan yang sudah sedari tadi disodorkan oleh semua orang. Aku memang harus siap. Hari ini hari pertama aku kerja. Aku merasa masih meraba – raba dan belum tahu apa yang harus dilakukan.  Mbak Wiwik yang memang rencananya aku gantikan ternyata, punya perjanjian khusus bahwa sebulan pertama ini ia akan menemaniku untuk menyusuri apa – apa saja yang harus aku lakukan dan kerjakan.  Ia tiba – tiba muncul dengan buku tebal berwarna kuning.  “Ini daftar harga, Mas Dedy. Tiap hari, minggu dan bulan ia bergerak naik atau turun, berubah sesuai dengan kurs mata uang Dollar, Dollar Singapura dan Yen Jepang. Ada 8 kali kenaikan dari harga bel...

MENGGURITA - 005 - KELINCIKU OH KELINCIKU

Gambar
KELINCIKU OH KELINCIKU  Mengenal sosok pak Maryanto jadi semakin terasa menarik dan membuahkan banyak pertanyaan tambahan, karena mas Eko sendiri bisa menceritakannya dengan gaya kocak.  “Mas, besok saja, lanjut ceritanya, ya? Mas Dedy harus tidur. Ayo kali ini benar – benar kita ke lantai tujuh ke Kamar Kelinci.”  Beberapa tangga tetap menunjukkan sisi gelap. Hanya di lantai 6 ada semacam bordes yang dindingnya berhiaskan mosaik kaca yang pastinya kalau pagi akan memancarkan sinarnya yang bakal menembus semua lantai. Aku tidak mengerti siapa yang merancang seluruh ruangan ini.  Kami sampai di lantai tujuh. Aku tak begitu hapal mana lantai berapa dan apa namanya. Kami tiba di tempat yang seluruh lantainya tertutup kayu mengkilap.  Aku tertegun sejenak.  Mas Eko memahami dan mempersilakan untuk masuk.  Inilah ruangan itu. Semuanya berlapis kayu mengkilat. Dari lantai, tembok, langit – langit dan seluruh furniture. Me...

MENGGURITA - 004 - RUMAH ORANG KAYA

Gambar
RUMAH ORANG KAYA  Kami bercanda cukup malam itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Mbak Wiwik pamit pulang paling awal. Ternyata dia masih dari kampong sebelah, rumahnya masih tergolong dekat. Dia memang direkrut karena memang sedari dulu ingin bekerja di tempat Pak Maryanto dan kedua orang tuanya sudah saling kenal dengan sejak kecil.  Pak Willy harus pulang ke Surabaya diantarkan oleh Mas Eko. Mbak Yuyun memilih tinggal karena besok ia bertugas untuk melanjutkan briefing untuk pekerjaanku, dan akan lebih nyaman dimulai di pagi hari. Sekalian sebagai tanda, itu hari pertama aku bekerja. Mbak Wiwik nanti juga ikut hadir lagi.  Pak Maryanto pamit juga karena merasa ngantuk. Kamarnya ternyata berada di lantai yang sama di lantai tiga dan sepertinya selebihnya aku malah menduga – duga, pasti lantai rumah ini sangat besar hingga bisa terkotak – kotak dengan baik.  Sebelum masuk kamarnya yang bergerbang Gebyok Jati berukiran yang besar, beliau b...

MENGGURITA - 003 - BOSS BESAR

Gambar
BOSS BESAR  Perjalanan menuju ke Tretes memakan waktu sekitar 3 jam-an. Mas Eko, sang sopir tenyata orang yang lucu. Dia jenis orang Probolinggo yang berparas gelap dengan logat Jawa Timur – Madura yang lengkap. Sepertinya aku bakal akan akrab dengan model orang yang seperti ini.  Mbak Yuyun yang hamil tua duduk di depan dan di sepanjang jalan ia menceritakan dengan rinci apa dan bagaimana perusahan yang nantinya akan aku hadapi ini.  Dia sering tersenyum untuk mengungkapkan kegembiraannya.  “Kamu akan senang kerja sama kami, Mas Dedy. Tenang, wis (sudah). Apalagi Boss kita itu orangnya baik. Dia pasti cocok sama mas Dedy”.  Aku hanya melihat geliginya di kaca depan. Mas Eko yang kocak hanya menimpali sesekali dengan guyonan Jawa.  “Kami itu perusahaan penjual alat musik, Mas. Kemaren kan mas Dedy sudah mampir ke tempat kami. Suara Musik namanya kan? Nah ini pusatnya, Mas. Mas yang bakal akan membantu di pusatnya. Membant...