Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2019

Dekat dan Hangat bersama Dini Fitria

Gambar
Salam Budaya! Jumat seharian itu, Aku kerja keras kayak kuda.  (Ini perumpamaan ya!).  Usai Jumatan Aku langsung menuju ke Apartemen Essence di Dharmawangsa dari Setiabudi, mengejar riset ke Mayapada Tower di jam setengah 4 sore, berdiskusi dengan klienku yang kebetulan seorang HRD - di Lotte Avenue pas di jam setengah delapan malam, melesat ke Hotel Pullman -  memenuhi janjian dengan klien para wanita asal Samarinda, yang ingin dibaca tarotnya sambil melayani konsultasi salah satu klien kakap berikutnya melalui telpon  di tengah perjalanan. 01.30 WIB penderitaan berakhir.  Aku lapar dan menikmati Mie Goreng dengan telur setengah mentah di Warung Indomie 24 jam dekat kosan sambil mulai bisa menarik nafas lega. Alhamdulillah. Kupikir aku akan bebas karena sebentar lagi akan tidur. Oh, No! Ternyata tidak!  Aku ada acara pagi ini! Dia sejak tahun 2012 mulai menuliskan apa yang dirinya alami selama perjalanannya itu, be...

OMEN Challenger Series 2019 Kembali Hadir

Gambar
Salam Budaya! Senyumlah wahai para Gamers seantero Nusantara, karena Pemerintah sekarang sudah sangat tanggap terhadap E-Sport dan segala perkembangannya. Ya, maklum saja, kita punya 43 juta manusia yang bisa saja detik ini lagi berkutat di komputer masing - masing di seluruh pelosok Negeri ini. Maka dari itu pangsa komputer baik PC atau laptop yang mendukung game masih sangat menggiurkan bagi para produsen. Nah, berdasarkan data 2019, Asia Pasifik saja merupakan tuan rumah bagi 51 persen gamer di dunia, di mana Asia Tenggara tercatat sebagai pasar gaming dengan pertumbuhan per tahun tercepat di dunia pada tahun yang sama2. Indonesia sendiri sudah berada di peringkat ke-17 dalam hal pendapatan industri gaming global2, dan esports juga turnamen gaming terus berkembang di Indonesia. Tahun 2018, untuk pertama kalinya esports pun diujicobakan di Asian Games yang diselenggarakan oleh Indonesia. “Gaming merupakan bagian penting dari sejarah HP, dan kami berkomitmen un...

NASI TUMPENG - PEMERSATU HUBUNGAN DIPLOMATIK INDONESIA DAN AMERIKA

Gambar
Salam Budaya! Lidah memang ajaib. Menurut Wikipedia ia adalah alat tubuh kita yang mampu mengenali berbagai macam rasa dengan segala kelebihannya. Rasa manis membantu kita untuk mengenalkan makanan yang menyehatkan atau kaya kalori, rasa asin diperlukan untuk setiap fungsi tubuh, dan rasa gurih dapat membantu kita mengindentifikasikan makannan yang kaya akan protein. Ada beberapa orang yang mempunyai “dunia rasa” yang berbeda-beda, misalnya ada yang menyukai pedas, ataupun ada yang tidak. Itu semua dipengaruhi oleh faktor genetis yang berbeda-beda dan budaya sendiri-sendiri. Dengan demikian, tidaklah mengherankan kalau Lidah dan rasa dapat menenteramkan jiwa. Begitu terasa enak dan nyaman. Kita akan diam. Kita akan damai. Tak heran jika dari dulu, makanan bisa menjadi obyek pemersatu. Demikian juga dengan hubungan diplomatik sehat yang terjalin di antara Amerika dan Indonesia. Secara resmi dibuka dari 28 Desember 1949 dan kini telah berada di tahapan Kemitraan Strategi...

HARU BIRU DUA GARIS BIRU

Gambar
Salam Budaya! Saya punya beberapa grup WA di handphone, dan beberapa minggu belakangan ini sedang ramai dan mulai diperbincangkan satu film yang katanya sangat 'bobrok' dan 'tak pantas' untuk dilihat karena mengajari remaja kita melakukan seks bebas. ARE YOU KIDDING ME? Jadi Badan Sensor kita meloloskan Film Biru, begitu? Pasalnya, Dua Garis Biru dianggap film yang tidak pantas untuk dikonsumsi hak layak umum. Karena adanya adegan-adegan dewasa yang di pertontonkan serta menggambarkan kehidupan para remaja dengan pergaulan bebasnya. Maka, sangat disayangkan jika film semacam ini tayang dibioskop dan lolos oleh Lembaga Sensor Indonesia padahal menuai Kontraversi di tengah-tengah masyarakat. diambil dari https://www.voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2019/07/18/65703/kontroversi-film-dua-garis-biru/ Waduh! Sampai sepertinya sangat perlu diadakan petisi bertajuk “Jangan Loloskan Film yang Menjerumuskan! Cegah Dua Garis Biru ...

Memahami Film Koboy Kampus

Gambar
Salam Budaya! Suatu hari di wawancara dengan media, Arnold Schwarzenegger memperkirakan bahwa beberapa tahun mendatang film akan dipenuhi dengan permintaan pangsa pasar atau penonton yang rumit dan komplit. Film tidak lagi punya cerita biasa tapi bisa saja berlapis - lapis alias multitafsir. Karena orang lelah menghadapi film yang begitu - begitu saja. Sepertinya menghadapi Film Koboy Kampus malah jadi sepenuhnya terbalik. Saya menganjurkan Anda untuk jadilah orang yang biasa - biasa saja dan tak perlu rumit - rumit dalam menontonnya. Tersebutlah sekawanan Mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung sekitar tahun 1994, salah satunya adalah sutradaranya yakni Pidi Baiq (diperankan oleh Jason Ranti) yang dalam usahanya bersama teman-temannya mendirikan sebuah negara yang disebut Negara Kesatuan Republik The Panasdalam, yang luas negaranya hanya sebatas studio di kampusnya.  THE PANASDALAM sebenarnya adalah singkatan dari: THE-...