Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

MENGGURITA - 002 - BERONTAK

Gambar
BERONTAK  Keputusanku sudah bulat. Aku akan pergi menerima pekerjaan itu. Pekerjaan Administrasi, katanya. Ibu mendengus kesal. Malam itu ia cemberut. Pak Jumani yang tengah berkunjung untuk melaporkan kemajuan proyek di desa, malah menjadi sasaran yang empuk curhatannya. Temanya, tak lain dan tak bukan, anaknya yang sudah mulai berpikir tak masuk akal. Dedy yang ingin bekerja.  Pak Jumani memanggilku ke ruang tamu. Ia adalah pengawas lapangan yang sudah ikut ibu bertahun – tahun. Ibu sendiri adalah seorang kontraktor wanita yang berpengalaman. Keduanya sangat aku hormati. Aku masih mau mendengar nasehatnya. Tapi malam ini aku harus punya bantahan yang kuat.  “Buat apa? Untuk apa, Heh? Bukannya enak di sini saja. Ikut Ibu. Ibu itu sudah tua. Tidak ada penggantinya. Pekerjaan ini lalu siapa nanti yang akan melanjutkan? Kenapa tidak di sini saja berbakti pada Ibu?” kata Pak Jumani dengan suaranya yang serak.  Ini akan menjadi malam yang melel...

MENGGURITA - 001 - BOSAN

Gambar
BOSAN Alasan kenapa selama ini aku tidak boleh bekerja, sama sekali tak pernah terbukti dan tak pernah terungkap oleh siapapun. Ibu selalu menutup rapat – rapat pendapatnya. Tak pernah sama sekali Beliau menunjukkan penyesalan atas keputusannya itu. Entah apa itu. Bagi beliau keputusannya sudah final. Aku tak boleh kerja. Kerja apapun. Bagi beliau, aku akan tetap menjadi tanggungan beliau sampai kapanpun juga.  “Sesusah apa sih ibumu ini memberi kamu, makan? Apalagi aku lihat dirimu juga bukan jenis anak yang pengen aneh – aneh. Biasa – biasa saja. Jadi bukannya lebih enak tidur saja, terus makan, atau nonton VCD sepuasnya. Ibu belikan nanti playernya”.  Di tahun 2002 awal, pemutar film masih VCD Player dan itu merupakan barang mewah yang selalu aku dambakan. Ibu tahu itu. Begitu ada VCD Player di rumah, aku akan tertancap di situ saja. Takkan mau kemana – mana.  Aku tak pernah tahu kalau Ibuku sekeras kepala itu. Dulu beliau di sepanjang ...

Dedy Kecil - Menyanyi

Gambar
Salam Budaya! Pertengahan 1980. Kaki Dedy Kecil tergolek lemah. Pagi sudah mulai terdengar waktu sudah mulai menjemput siang. Sayup - sayup TK "Siwi Bakti" yang berjarak satu bangunan dengan rumahnya tengah membunyikan suara anak - anak yang bernyanyi bersama - sama. Merdunya begitu familiar. Lamat lamat mengucapkan lirik, "... Tuhan - Tuhan Pemurah ..." Kenapa Dedy Kecil merasa tak asing mendengarnya. Atau melihatnya. (Kenapa dengan melihat?) Ia berusaha menikmati lagu itu sambil memandangi kakinya yang perlahan ia coba luruskan karena sudah mulai kesemutan, tanda ia juga mau lebih konsentrasi menerima lagu itu dengan baik. Suara mereka terdengar tak terlalu kompak tapi merdu. Suara yang masih bersih dan polos. Merayu dan meliuk bak Pohon Kelapa. Dedy Kecil memejamkan matanya, mencoba  memusatkan pikirannya. Dimana ia pernah melihat itu lagu itu? Kenapa melihat? Melihat dimana? Dengan sedikit usaha, Dedy Kecil pergi ke pojokan rua...