Menikmati Jember Apa Adanya - Bagian Kedua
Bagian Kedua. Jam 10 siang. Udara bersuhu sedang menyambut kedatangan Saya di Pemberhentian Stasiun Jember. Perasaan Saya jadi campur aduk. Wangi tanah di Jalan Wijaya Kusuma itu tercium dengan lembut. Bau lembab jamur di tembok tiba - tiba terbayang. Saya celingukan. Seperti biasa, di kota sendiri Saya selalu mengalami apa yang dinamakan " MisTransportation ". Kehilangan arah. Tak tahu harus kemana. Orang bilang Saya buta demografi. Mau naik apa ini, sebenarnya? Becak di Jember sudah lama berkurang, Tukang Becaknya sudah rata - rata tua dan becaknya sudah reot. Bis dan Lin (sebutan angkot berwarna kuning - dulunya bernama Klenting Kuning dan disingkat Lin) juga telah entah kemana tak tentu rimbanya. Dipinjam dari http://www.kerikilberlumut.com/2015/11/umk-jember-surabaya-2016.html Padahal dulu Saya pernah mengklaim dan sedikit sombong pada teman - teman di Jakarta bahwa kota Jember itu walaupun dianggap sebagai salah satu kota kecil ( biasalah, gak ...