Postingan

Cerita Sangat Pendek - Beku

Gambar
Wawancara itu berujung dengan nada penuh kepahitan. Seorang Sandy N yang sangat digandrungi penggemarnya, menyimpulkan ceritanya dengan aroma sinis, "Cinta? Aku bukannya gak punya, Mas. Aku tahu diri, kok. Cinta itu sudah berpindahtangan dua puluh tahun yang lalu. Ia meminta dirinya dengan hormat. Dan sebagai pria sejati, aku melepaskannya". Aku jadi terdiam.  Baru kali ini aku tak begitu mendesak lebih lanjut, seorang nara sumber dengan pertanyaan yang biasanya beranakpinak. Wawancara itu disepakati dilakukan di apartemen miliknya di pinggiran utara Kota. Malam berangin dingin. Pintu dengan sengaja dibuka. Bang Sandy ini benci AC. Ia sengaja membuat suasana ruangan temaram. Biar moodnya bisa terjaga, katanya. Jadi kalau ada pertanyaan yang mengandung unsur kesedihan, Ia akan menyiapkan roman muka yang tepat. Wajahnya agak pucat, tiba - tiba tersenyum. "Tanya lagilah. Aku kan belum mengakhiri wawancara ini. Itu kan masih tugasmu." Sandy memutar sekali lagi cincin di...

Hokben - Pengikat Cinta Melalui Rasa

Gambar
Salam Budaya!  Saya itu berzodiak Taurus. Kalau mau merayu Saya, kabarnya, rayulah Saya dengan menggoda perut Saya. Sejauh makanan atau minuman itu membuat Saya tersenyum. Anda sudah 80 persen memenangkan hati Saya. Sepertinya Hokben telah membuat Saya jatuh cinta lagi yang kesekiankalinya. Mereka punya menu yang sebenarnya tidak terlalu baru, tapi telah berani mereka munculkan lagi untuk menggairahkan rasa cinta para pelanggannya melalui rasa. Ini harus diakui sebagai kreatifitas ya, Temans! Ini zaman susah, banyak usaha apalagi makanan harus siap berjuang dengan berbagai macam kompetitor untuk menjadi pelanggan di hati. Apalagi situasi pandemi begini yang membuat orang pun sebenarnya sangat berpikir ulang untuk mengeluarkan uang hanya untuk membeli sesuatu yang bisa jadi bukan prioritas. Nah, kembali Hokben menyajikan menu Tokyo Curry, cita rasa saus kari khas Jepang dalam dua varian yakni Ada pertanyaan menggelitik kenapa dengan Curry yang bahasa Indonesianya kita kenal dengan K...

Dedy Kecil - Penyanyi Cengeng

Gambar
Pertengahan Agustus 1999. Hasrat untuk menyanyi memang takkan pernah padam. Ibu sudah tak sanggup lagi memberi nasehat, bahwa betapa sia - sianya seorang Dedy Kecil untuk meneruskan hobi yang tak berkelanjutan akan masa depan itu. Semua ide dan usahanya memang seperti sudah tertutup. Bahkan untuk sekedar membayar uang pendaftaran lomba menyanyi saja, Ibu menolak, meski sekedar hitungan 5 ribu rupiah. Masih beda dengan permintaan uang jajan misalnya, Ibu bisa membelikan Dedy Kecil semangkok bakso 50 ribu rupiah sekalipun. Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia banyak mengubah hal. Beberapa event atau lomba besar tak lagi diadakan. Entah dampaknya memang sebegitu jauhnya atau memang orang sudah tak lagi mau berpikir akan keuntungan dan mulai mengurus dirinya sendiri. Biasanya tiap tahun, Radio Republik Indonesia akan mengadakan lomba yang bernama Bintang Radio dan Televisi (BRTV) dari tingkat regional yang nantinya semua finalis bakal diadu di tingkat Nasional, yang tiap tahunnya berpi...

MENGGURITA - 008 - TAKUT

Gambar
TAKUT  Beberapa hari kemudian, seperangkat komputer dan jaringan internet datang dan siap dipasang. Petugas tengah sibuk menyiapkan semuanya. Aku, mbak Dwi dan mbak Hani tersenyum lebar dengan rejeki ini. Pekerjaan kami tentuka akan lebih mudah. Segala pemesanan alat musik dan aksesoris akan lebih cepat dan tentu saja hemat kertas. Untuk membuat semuanya terkesan resmi, aku siang itu mengirim email pertama ke cabang Bandung. Sekaligus berkenalan dengan orang di cabang sana. Pendek kalimatnya,  “Halo, Saya Dedy Darmawan. Saya sekarang yang bekerja dan bertanggung jawab di Order Pusat. Salam kenal buat yang ada di sana. Terima kasih”.  Mereka langsung menjawab,  “Salam kenal, Saya Lisa. Sekretaris dari Pak Buwono, perwakilan kita di Bandung. Ah Bapak ramah sekali ya, Salam kenal, juga.”  Aku tersenyum. Di pojokan pintu, mbak Wiwik tampak tidak begitu suka. Sepertinya ia takut akan sesuatu.  Siang itu aku makan bersama mbak W...