Cerita Sangat Pendek - Beku
Wawancara itu berujung dengan nada penuh kepahitan. Seorang Sandy N yang sangat digandrungi penggemarnya, menyimpulkan ceritanya dengan aroma sinis, "Cinta? Aku bukannya gak punya, Mas. Aku tahu diri, kok. Cinta itu sudah berpindahtangan dua puluh tahun yang lalu. Ia meminta dirinya dengan hormat. Dan sebagai pria sejati, aku melepaskannya". Aku jadi terdiam. Baru kali ini aku tak begitu mendesak lebih lanjut, seorang nara sumber dengan pertanyaan yang biasanya beranakpinak. Wawancara itu disepakati dilakukan di apartemen miliknya di pinggiran utara Kota. Malam berangin dingin. Pintu dengan sengaja dibuka. Bang Sandy ini benci AC. Ia sengaja membuat suasana ruangan temaram. Biar moodnya bisa terjaga, katanya. Jadi kalau ada pertanyaan yang mengandung unsur kesedihan, Ia akan menyiapkan roman muka yang tepat. Wajahnya agak pucat, tiba - tiba tersenyum. "Tanya lagilah. Aku kan belum mengakhiri wawancara ini. Itu kan masih tugasmu." Sandy memutar sekali lagi cincin di...